Pagi pertama setelah gencatan, Sumur Kayu terasa seperti rumah yang baru saja selesai bertengkar—sunyi, canggung, belum tahu cara duduk bersama di satu meja.
Maya berdiri di balai bambu di tepi alun-alun, menatap warga yang berkumpul dalam dua gerombol yang tak lagi saling membentak tetapi juga belum saling memandang. Di satu sisi, mereka yang sejak semula percaya: para ibu yang anaknya melayang di danau bara, beberapa lelaki muda yang lelah pada api dan tuduhan. Di sisi lain, mereka yang baru kemarin masih menggenggam obor, kini menggenggam tangan kosong dengan bingung, seperti orang yang kehilangan sesuatu yang selama ini ia kira beban tetapi ternyata pegangan.
Pak Lurah Sembada berdiri di antara kedua kubu, dan untuk pertama kalinya Maya melihat lelaki tua itu tampak kecil. Parang leluhur masih tergantung di pinggangnya, tetapi tangannya tak lagi mencari gagangnya setiap kali Maya bergerak. Uban yang seakan tumbuh dalam semalam memutih di kumis tebalnya, sejak cucunya ikut hilang ditelan kabut, dan matanya kini menyimpan sesuatu yang dahulu tak pernah ada di sana: keraguan terhadap dirinya sendiri.
Bau pagi itu adalah bau desa yang lelah—asap tungku yang baru dinyalakan, tanah merah basah, dan jauh di balik ladang, bau lembap kabut yang tak pernah benar-benar pergi. Seekor ayam jantan berkokok di suatu tempat, suara yang biasa, suara yang seharusnya menenangkan, tetapi pagi itu terdengar seperti sesuatu yang berusaha keras berpura-pura bahwa segalanya masih seperti dulu.
"Aku tidak meminta kalian mencintainya," kata Sembada, suaranya serak oleh malam tanpa tidur. "Aku meminta kalian membantunya. Demi anak-anak yang masih bernapas di balik kabut. Itu saja. Setelah mereka pulang, kalian boleh kembali membenci sihir kalau itu yang membuat kalian tidur nyenyak."
Tak ada yang menjawab. Tetapi tak ada pula yang pergi, dan di desa yang sejak lahir diajari bahwa diam berarti tunduk, diam pagi itu adalah sejenis persetujuan yang rapuh.
Maya turun dari balai, telapak kakinya menapak tanah yang masih basah embun. Dan saat itulah tanah berbicara kepadanya, bukan dengan kata, melainkan dengan dingin yang merembes naik dari bawah—dingin yang tak seharusnya ada di puncak kemarau panjang.
Ia berlutut, menekan telapak tangan kirinya yang masih utuh ke tanah. *Garis,* bisik pepohonan jauh, samar dan mendesak. *Garis menipis. Garis hampir hilang.*
"Kaba," panggilnya pelan.
Kaba sudah di sampingnya sebelum namanya selesai diucapkan, tombak bambu baru di tangannya. Ia mengenal nada itu—nada Maya ketika hutan bicara langsung ke tulangnya.
Mereka berjalan ke batas desa, ke deretan batu kapur yang sejak tujuh generasi dicat merah sebagai garis yang tak boleh dilewati. Dan di sana, di bawah matahari pagi yang seharusnya membakar segalanya kering, Maya melihat apa yang ditakutkan tanah.
Cat merah itu mengelupas.
Bukan luntur perlahan seperti yang ia lihat berpekan-pekan lalu. Kini ia mengelupas dalam kepingan-kepingan kering yang berjatuhan ke tanah seperti kulit ular yang ditinggalkan, menyingkap batu kapur putih telanjang di bawahnya. Dan dari batu telanjang itu, kabut tipis merembes keluar, mengalir ke sisi desa seakan garis itu tak lagi menahan apa pun.
"Aku ingat batu ini dicat ulang setiap musim hujan," kata Kaba pelan, jongkok menyentuh kepingan cat yang berserakan. "Kakekku yang mengecatnya. Lalu ayahku. Lalu aku. Tak pernah sekali pun ia mengelupas sendiri seperti ini. Cat merah selalu bertahan sampai kami menggantinya."
"Bukan catnya yang menahan kabut," kata Maya. Ia berdiri, menatap batas yang dahulu memisahkan dunia manusia dari mulut iblis. "Selama ini bukan cat merah ini. Itu cuma tanda yang kita beri pada sesuatu yang sudah ada—segel yang ditenun leluhur dari tubuh mereka sendiri. Cat ini hanya menandai di mana segel itu masih kuat." Ia menelan ludah. "Sekarang catnya rontok karena tak ada lagi yang ia tandai. Segel di garis ini... sudah hampir mati."
Ia jongkok dan mengambil sekepingan cat merah yang jatuh, meremasnya di antara jari-jari. Ia hancur menjadi serbuk merah seperti debu bata, kering dan ringan, tanpa kehidupan sama sekali. Dan ketika telapaknya menyentuh batu kapur telanjang di bawahnya, ia merasakannya—dingin yang dahulu hangat, diam yang dahulu berdenyut. Segel di sini tak lagi menyanyi. Ia hanya gema sekarat dari nyanyian yang ditenun ribuan purnama lalu, dan gema itu hampir habis.
Di kejauhan, dari dalam Hutan Kabut, datang sesuatu yang membuat tengkuk Kaba meremang. Bukan suara. Sebuah denyut. Lambat, dalam, sabar—denyut yang sama yang dahulu Maya rasakan di pagi pertama Tirta hilang, tetapi kini jauh lebih dekat, lebih kuat, seakan jantung purba di kedalaman hutan kini berdetak tepat di bawah telapak kaki desa.
Yang Tertidur sedang menunggu. Dan ia tak peduli pada perdamaian yang baru saja dijahit manusia di alun-alun.
Maya menekan kalung di dadanya. Batu hijau berurat keemasan itu menghangat, lalu berdenyut sekali—keras, seakan menjawab denyut dari hutan dengan denyutnya sendiri, dua jantung tua yang saling mengenali lewat tahun-tahun.
"Berapa lama lagi garis ini bertahan?" tanya Kaba.
Maya menatap kepingan cat merah yang berjatuhan, satu demi satu, seperti hitungan mundur yang ditulis tanah. "Aku tidak tahu," jawabnya jujur. "Tapi ketika batu terakhir telanjang, tak ada lagi yang menahan kabut masuk ke desa. Dan kita belum punya nyanyian. Kita belum punya jalan ke jantung. Kita cuma punya dua puluh tangan yang mau percaya dan satu purnama yang menyusut."
Ia berbalik menatap desa di belakangnya—rumah-rumah bambu, tungku-tungku yang mulai dinyalakan untuk memasak pagi, anak-anak yang tersisa berlari di pelataran tanpa tahu betapa tipis dinding yang melindungi mereka. Perdamaian yang ia perjuangkan begitu mahal kini terasa seperti pelita kecil yang dinyalakan di tengah badai yang sedang menahan napas.
"Maka kita mulai hari ini," kata Maya. "Sebelum kepingan terakhir jatuh."
Di belakangnya, garis batu merah meneteskan catnya yang terakhir ke tanah, dan kabut, dengan kesabaran purba, merayap satu jengkal lebih dekat ke desa.