Fajar datang lambat ke Sumur Kayu, menyaring lewat asap dan kabut yang bercampur menjadi kelabu yang berat. Api telah padam—sebagian dipadamkan tirai sulur Maya, sebagian oleh warga yang akhirnya berhenti bertengkar dan beralih ke ember dan timba. Tiga rumah pinggir hangus jadi arang. Tetapi tidak ada nyawa yang hilang. Itu lebih dari yang biasanya bisa dikatakan tentang malam-malam di desa itu belakangan ini.
Maya duduk bersandar di tugu batu tujuh nama, terlalu lemah untuk berdiri. Lengan kirinya kini hampir seluruhnya kabut, hanya berbentuk samar, berkelip kelabu setiap kali angin lewat. Kaba berlutut di sampingnya, tangannya tetap memegang bahu Maya, menjadi jangkar yang menahannya dari terurai lebih jauh. Nenek Larasati berdiri di dekat mereka, tongkatnya menancap di tanah, mata kelabunya menyapu kerumunan yang kini berdiri dalam diam yang lelah.
Pak Lurah Sembada melangkah maju dari tengah kerumunan. Parangnya tidak lagi di tangannya—ia telah meletakkannya, entah kapan, di kaki tugu. Lelaki tua itu berhenti beberapa langkah dari Maya, dan untuk waktu yang lama ia hanya menatap lengan kabut gadis itu, menatap tirai sulur hijau yang masih melingkupi rumah yang selamat, menatap arang yang dulu adalah rumah-rumah tetangganya.
"Sepanjang hidupku," kata Sembada akhirnya, suaranya serak dan pelan, sehingga kerumunan harus diam untuk mendengarnya, "aku diajari bahwa sihir adalah dosa. Bahwa hutan adalah musuh. Bahwa darah seperti darahmu harus dibakar sebelum ia membakar kita." Ia menelan. "Ayahku mengajariku itu. Dan ayahnya mengajarinya. Tujuh nama di batu ini"—ia menengadah ke ukiran yang retak di atasnya—"adalah bukti betapa kami percaya."
Ia berbalik menghadap kerumunan, lalu kembali ke Maya, seakan tubuhnya terbelah antara dua arah yang sama seperti desanya. "Tetapi semalam aku melihat sesuatu yang tidak diajarkan ayahku padaku. Aku melihat anak yang kami sebut penyihir membakar dirinya sendiri—bukan untuk menyerang kami, melainkan untuk menahan api yang kami nyalakan. Aku melihat tangannya berubah jadi kabut supaya rumah-rumah kami tidak hangus seluruhnya." Suaranya pecah. "Penyihir tidak melakukan itu. Penyihir mengambil. Yang ini hanya memberi. Memberi dan memberi sampai tubuhnya sendiri hilang."
Gumaman menyebar di kerumunan. Sembada mengangkat tangannya, dan keheningan kembali turun.
"Cucuku ada di hutan itu," lanjutnya, dan kali ini air matanya jatuh tanpa ia tahan. "Selama ini aku berpikir cara menyelamatkannya adalah dengan membakar yang kutakuti. Tapi aku salah. Aku telah salah selama tujuh generasi, sama seperti ayah-ayahku salah. Membakar tidak pernah memulangkan satu anak pun." Ia menatap Maya lurus-lurus. "Kau bilang anak-anak masih hidup. Kau bilang ada nyanyian. Kau bilang kau butuh kami—seluruh desa—bukan sebagai algojo, tapi sebagai keturunan penjaga." Ia menarik napas panjang, dan ketika ia berbicara lagi, suaranya tegas seperti yang dulu, tetapi kini diarahkan ke arah yang baru. "Maka mulai pagi ini, tidak ada lagi perburuan penyihir di Sumur Kayu. Tidak ada lagi obor untuk membakar darah kita sendiri. Siapa pun yang mengangkat tangan pada Maya, mengangkat tangan padaku."
Kerumunan bergolak—sebagian dengan kelegaan, sebagian dengan kemarahan, sebagian dengan ketakutan yang tak tahu harus ke mana. Tetapi tidak ada satu pun yang berani membantah lurah yang berdiri di kaki tugu dengan parang yang telah ia letakkan sendiri.
Di tepi kerumunan, Mbok Inah—janda tua yang dulu hampir dibakar di tempat itu juga—menangis tanpa suara, kedua tangan keriputnya menutup mulut. Bukan tangis ketakutan. Untuk pertama kalinya dalam berpekan-pekan, ia menangis karena lega. Di sebelahnya, Mbok Surti merangkulnya, dan beberapa warga yang dulu meneriakinya kini berdiri canggung, tak berani menatap matanya.
Pak Karta, yang tadi malam mengkhianati persembunyian mereka, berdiri sendirian di pinggir, kepala tertunduk. Tak seorang pun berbicara padanya. Ia telah menukar sahabat-sahabatnya demi harapan menyelamatkan anaknya, dan kini gencatan datang dengan cara lain—cara yang tak menuntut pengkhianatannya. Beban itu tampak menekuk punggungnya lebih dalam daripada yang bisa dilakukan kata-kata.
Maya menatap lelaki tua itu, dan di dalam dadanya, kelelahan bercampur dengan sesuatu yang belum berani ia sebut harapan. "Gencatan ini," katanya, suaranya lemah tetapi jernih, "tidak akan menyelamatkan siapa-siapa kalau hanya berhenti di sini. Aku tidak butuh kau berhenti membakarku, Pak Lurah. Aku butuh kau membantuku. Aku butuh seluruh desa membantuku—untuk menyanyikan nyanyian yang dulu leluhur kita lupakan. Karena segel hampir runtuh. Garis batu merah hampir lenyap. Dan kalau ia lenyap sebelum kita siap, tidak ada lagi gencatan, tidak ada lagi desa—hanya hutan yang lapar."
Sembada menatapnya lama. Lalu, perlahan, lelaki tua yang dulu memimpin perburuan penyihir itu berlutut—bukan menyembah, melainkan untuk menyetarakan pandangannya dengan gadis yang duduk lemah di kaki tugu. "Ajari kami," katanya. "Ajari kami nyanyian itu. Ajari kami menjadi apa yang seharusnya kami jadi sejak dulu."
Di atas mereka, tujuh nama yang terukir di batu seakan menatap turun, saksi bisu tujuh generasi ketakutan yang akhirnya, di pagi yang berasap ini, mulai retak. Tetapi di balik kabut yang masih menggenang di seluruh penjuru desa, garis batu kapur merah yang dulu memisahkan desa dari hutan kini hampir tak terlihat lagi catnya—mengelupas, memudar, hilang. Dan jauh di dalam tanah, bara merah Yang Tertidur berdenyut sekali, pelan, seakan ia juga mendengar kata "gencatan", dan tidak takut sedikit pun pada perdamaian yang dibuat manusia. Sebab kabut tak pernah peduli pada damai. Kabut hanya menunggu garisnya hilang.