Asti diam. Kegelapan yang menjalar di sekitarnya berhenti, menggantung, ragu. Tak ada makhluk seperti dia—yang lapar dan ditinggalkan selama dua dekade lebih—yang pernah mendengar tawaran semacam itu. Selalu paksaan. Selalu korban yang menjerit dan diseret. Tak pernah ada yang berdiri di kaki tangganya dan berkata: aku memilih naik, dan aku ingin kamu memilih melepaskan.
"Kalau kamu naik," kata Asti pelan, suara berlapisnya menyatu kembali menjadi suara seorang gadis, lelah dan terluka, "kamu mungkin tidak akan pernah turun. Aku tidak bisa janji apa yang akan kulakukan begitu kamu di atas dan sendirian denganku. Aku sudah lama begini. Aku tidak yakin masih ingat caranya melepaskan."
"Aku tahu," kata Sena. "Tapi aku akan tetap naik."
Ia melangkah melewati Bayu, melewati pintu jeruji, dan menapaki anak tangga pertama menuju lantai tiga. Dingin merayap naik dari papan kayu lewat telapak kakinya yang telanjang. Bau bunga busuk semakin pekat. Di belakangnya, ia mendengar Bayu menangis—menangis sungguhan, dengan isak yang penuh perasaan, perasaan yang kembali ke tubuhnya seperti darah mengalir ke kaki yang lama mati rasa. Itu pertanda. Asti sudah mulai melepaskan, bahkan sebelum Sena sampai ke atas.
Tangga itu panjang, jauh lebih panjang dari yang seharusnya mungkin, seakan membentang ke tempat yang bukan bagian dari gedung ini. Tapi Sena terus naik, satu anak tangga setiap kali, ke dalam kegelapan tempat seorang gadis menunggu selama dua puluh tiga tahun. Dan di puncak tangga, lantai tiga terbuka di hadapannya: bukan koridor rusak yang bocor seperti kata Bu Marni, melainkan sebuah lantai yang beku dalam waktu. Kamar-kamar dengan ranjang rapi tertata, debu dua puluh tiga tahun menutupi semuanya seperti salju abu-abu, dan di ujung koridor, pintu kamar paling ujung terbuka, menanti.
Sena berjalan ke arahnya. Asti sudah ada di dalam, duduk di tepi ranjang, persis seperti malam ia naik dan tak pernah turun. Kecil. Muda. Sangat sendirian. "Tidak ada yang pernah masuk ke kamar ini," kata Asti, tanpa menoleh. "Bahkan saat aku masih hidup. Aku belajar di sini sendirian setiap malam, sampai pukul tiga, supaya peringkatku tidak turun. Supaya tidak ada yang kecewa. Dan saat aku akhirnya terlalu lelah untuk melanjutkan, saat aku duduk di sini dan menyerah—tidak ada yang menyadari aku menghilang sampai berhari-hari kemudian. Itu yang paling menyakitkan, Sena. Bukan mati. Tapi tahu bahwa tidak ada yang memperhatikan aku pergi."
Sena duduk di sampingnya. Ia tidak tahu apakah ia akan turun lagi. Ia tidak tahu apakah, saat fajar tiba, yang menuruni tangga adalah dirinya atau cangkang kosong, atau tidak ada apa-apa sama sekali. Tapi ia tahu satu hal yang bisa ia lakukan, hal yang tidak dilakukan siapa pun selama dua puluh tiga tahun. Ia tetap di sana. Ia tidak lari. Ia mendengarkan.
"Ceritakan," kata Sena pelan, dalam gelap, di kamar paling ujung lantai tiga. "Ceritakan semuanya. Dari awal. Aku punya waktu sampai pagi, dan aku tidak akan ke mana-mana. Aku memperhatikan kamu pergi, Asti. Aku di sini."
Dan untuk pertama kalinya dalam dua puluh tiga tahun, gadis di lantai tiga itu mulai menangis. Bukan tangis marah. Bukan tangis lapar. Tangis seorang anak yang akhirnya, akhirnya, didengar.