Reza terbangun karena cahaya. Bukan cahaya lampu yang biasa dimatikan dari pusat—melainkan matahari, sungguhan, menerobos jendela kamar 207 dengan keemasan yang hangat. Ia bingung sesaat, lalu sadar apa yang aneh. Bayu duduk di ranjangnya, sadar, terjaga, dan menangis pelan. Tapi matanya—matanya tidak lagi seperti tirai yang tertutup. Ada seseorang di balik mata itu lagi. Bayu telah kembali.
"Bay? Kamu—kamu balik?" Reza nyaris tak percaya. Di seberang, Dani juga terbangun, dan ada warna di wajahnya yang sudah lama tak ada, beban tak kasat mata yang terangkat dari pundaknya semalam tanpa ia tahu caranya.
"Sena," kata Bayu, suaranya serak oleh tangis dan oleh isi yang kembali penuh. "Sena naik. Semalam. Dia naik untuk kita semua."
Mereka menemukan asrama dalam kekacauan tenang. Para pengasuh berkumpul di lobi, pucat dan gemetar, berbisik-bisik. Bu Marni duduk di anak tangga lantai dasar, memandangi tangan-tangannya, dan ketika Reza bertanya soal Sena, ia hanya menggeleng dengan mata basah. "Pintu lantai tiga," bisiknya. "Terbuka sejak subuh. Rantainya terlepas. Tidak ada langkah lagi malam tadi setelah pukul tiga. Tidak ada panggilan. Pertama kalinya dalam dua puluh tiga tahun, kami tidak mendengar apa-apa di atas." Ia mendongak, dan untuk pertama kalinya wajahnya bukan wajah penjaga, melainkan wajah seseorang yang ketakutannya yang lama akhirnya berakhir. "Sesuatu berubah semalam. Aku tidak tahu apa yang anak itu lakukan."
Reza, Dani, dan Bayu naik ke lantai dua, lalu ke pintu jeruji yang menganga terbuka. Tak seorang pun pengasuh berani menghentikan mereka; tak seorang pun tahu lagi apa aturannya sekarang. Mereka menaiki tangga panjang menuju lantai tiga, yang dalam terang pagi tidak lagi tampak seperti mulut kegelapan, hanya tangga tua berdebu.
Lantai tiga sunyi. Debu dua puluh tiga tahun tetap di sana, tapi udaranya berbeda—tak lagi dingin, tak lagi berbau bunga busuk. Di kamar paling ujung, pintu terbuka. Mereka masuk perlahan.
Kamar itu kosong. Ranjang tua dengan seprai yang lapuk. Meja belajar dengan buku-buku yang menguning. Dan di atas meja, di lapisan debu yang tebal, ada dua jejak. Dua orang yang duduk berdampingan di tepi ranjang sepanjang malam—dua cekungan di debu, berdekatan, seakan seseorang menemani seseorang yang lain sampai akhir. Tak ada tubuh. Tak ada Sena. Tak ada gadis berkepang dua.
Di jendela, tirai gelap yang dua puluh tiga tahun menutup cahaya, telah tersibak. Untuk pertama kalinya, matahari masuk ke lantai tiga.
Bayu mendekati meja belajar. Di sana, di atas debu, tertulis dengan jari—jari seseorang, baru, sebelum debu sempat turun lagi—sebuah pesan. Tulisan tangan Sena, mereka mengenalinya. Dua baris saja.
Baris pertama: Dia tidak sendiri lagi. Sudah waktunya dia istirahat. Kami berdua.
Baris kedua, lebih kecil, seperti ditulis terakhir, untuk mereka: Jangan biarkan tempat ini memaksa kalian jadi yang terbaik sampai kalian retak. Tidak ada peringkat yang sebanding dengan kehilangan diri sendiri. Pulanglah utuh. — Sena.
Bayu mengusap matanya. Di luar jendela lantai tiga, cemara-cemara bergoyang pelan, dan untuk pertama kalinya dalam dua puluh tiga tahun, asrama Wirautama melewati pukul tiga dini hari tanpa langkah kaki di kamar kosong di atas. Hanya hening. Hening yang biasa. Hening seorang gadis yang akhirnya tidur, dengan seorang teman yang memilih naik untuk menemaninya, supaya tak ada lagi anak yang harus naik sesudah itu.
Di bawah, di lobi yang kini terasa lebih ringan, ada satu bingkai foto angkatan baru yang akan dipajang minggu depan. Dan kelak, bertahun-tahun kemudian, akan ada yang memperhatikan bahwa di pojok atas foto itu—di tempat lantai tiga seharusnya berada di latar belakang—ada dua bayang samar di salah satu jendela. Berdiri berdampingan. Tidak menakutkan. Hanya dua remaja yang menatap keluar ke matahari, akhirnya, bersama-sama.