Setiap urat di tubuh Sena menyuruhnya lari. Tapi kakinya tak bergerak, dan bukan karena teror—meski teror ada di sana, dingin di sumsumnya—melainkan karena sesuatu dalam tatapan gadis itu yang ia kenali. Ia pernah melihat kesepian seperti itu. Di cermin, di malam-malam ketika beban harapan ayahnya terlalu berat, ketika ia merasa tak seorang pun di dunia ini menginginkan Sena yang sebenarnya, hanya Sena yang berprestasi, Sena yang membanggakan, Sena yang tidak menyusahkan.
"Asti," kata Sena. Nama itu, di bibirnya, membuat gadis itu tersentak seakan disiram air. Tangannya yang terulur gemetar. "Namamu Asti Wulandari. Kamu peringkat satu. Mereka memaksamu jadi yang terbaik, terus, tanpa henti, sampai sesuatu di dalammu retak. Dan saat kamu hancur, tidak ada satu pun dari mereka yang datang. Mereka malah mengunci pintu di belakangmu, dan berpura-pura kamu tidak pernah ada. Mereka memburamkan wajahmu dari foto."
Wajah Asti berubah. Untuk sesaat keindahan beku itu retak, dan di baliknya muncul sesuatu yang lebih tua dan lebih mengerikan—wujud kemarahan dua puluh tiga tahun, mulut yang terbuka terlalu lebar, kegelapan yang menjalar dari sudut-sudutnya. Lantai bergetar. Bau bunga busuk menyengat. Di belakang Sena, Bayu jatuh berlutut, mengerang.
"Mereka meninggalkanku," suara Asti datang dari segala arah sekarang, retak dan berlapis. "DI ATAS SINI. DALAM GELAP. SENDIRIAN. Kamu pikir aku tidak memanggil minta tolong? Aku memanggil setiap malam. Setiap pukul tiga. SELAMA DUA PULUH TIGA TAHUN. Dan tidak ada yang datang. Tidak ada yang naik. Mereka hanya mendorong anak-anak ke pintuku supaya aku diam. Supaya aku berhenti memanggil. Aku tidak ingin mereka. AKU INGIN SESEORANG NAIK."
Dan di sanalah Sena mengerti. Persembahan-persembahan itu tak pernah benar-benar memuaskan Asti. Mereka hanya membungkamnya sementara, menyumpalnya dengan isi anak-anak yang tak ia inginkan, sementara satu hal yang sebenarnya ia minta selama ini diabaikan. Bukan teman yang diseret paksa ke kegelapannya. Bukan makanan. Ia hanya ingin satu orang yang naik dengan sukarela. Satu orang yang berkata: aku tahu apa yang terjadi padamu, dan itu salah, dan aku minta maaf tidak ada yang datang lebih cepat.
Sena melihat ke pintu jeruji yang terbuka. Ke tangga gelap. Ia tahu petugas tua itu benar—kalau ia naik dan Asti memutuskan ia hanya makanan lain, tidak ada yang akan turun. Ia akan menjadi langkah kaki itu, selamanya. Tapi ia juga tahu Bu Marni dan dua puluh tahun pengasuh sebelumnya salah dari awal. Kau tidak memberi makan kelaparan seperti ini dengan korban. Kau hanya memperdalamnya.
"Aku akan naik," kata Sena.
Di belakangnya, Bayu mengangkat kepala, matanya—untuk pertama kalinya—penuh ketakutan yang hidup, ketakutan yang nyata, isinya berkelebat kembali ke permukaan. "Sena, jangan. Dia berbohong. Dia selalu berbohong saat lapar—"
"Aku tahu," kata Sena, pelan, pada Bayu dan pada Asti sekaligus. "Aku tahu dia mungkin tidak menepati. Tapi tidak ada yang pernah memberinya pilihan untuk menepati. Mereka cuma kasih dia makan dan mengunci pintu. Tidak ada yang pernah memperlakukannya seperti manusia." Ia menatap Asti, gadis yang beku di usia tujuh belas, dan kemarahan yang berlapis-lapis itu sedikit mereda, mendengarkan. "Aku naik bukan sebagai persembahan, Asti. Aku naik karena kamu ditinggalkan, dan itu tidak adil, dan aku minta maaf. Tapi aku minta satu hal sebagai gantinya. Lepaskan Bayu. Lepaskan semua yang sudah kamu isi. Kalau kamu cuma mau satu orang yang benar-benar naik untukmu, kamu sudah dapat. Kamu tidak butuh yang lain lagi."