Mbak Laras menerbitkan kisahnya pada hari Senin pagi, dan pada hari Selasa seluruh kota tahu nama asrama Wirautama dengan cara yang tak pernah diinginkan sekolah unggulan mana pun. Jurnalis itu telah mengendus statistik murid "pindah" dan "hilang" selama dua dekade, dan kini ia memiliki yang ia butuhkan: kesaksian Bu Sari, ingatan Indah, dan kotak berisi abu buku persembahan beserta foto-foto halaman yang sempat dipotret Reza sebelum buku itu dibakar. Bukan kisah hantu yang ia tulis—Laras cukup bijak untuk tahu dunia luar tak akan percaya gadis berkepang dua di lantai tiga. Ia menulis kisah yang lebih sulit dibantah dan lebih menakutkan: tentang sebuah institusi yang menjadikan tekanan sebagai budaya, yang memilih mengorbankan anak-anak paling rapuh demi citra kesempurnaan, yang menamai pengorbanan itu "kebaikan."
Bayu membaca artikel itu di koran yang dibawa Dani. Namanya tidak disebut—Laras melindungi para penyintas yang masih di bawah umur—tapi ia mengenali setiap detailnya. Foto buram di album. Anak-anak yang pulang "kosong." Vitamin yang bukan vitamin. Daftar nama. Dan di akhir artikel, satu kalimat yang membuat Bayu menahan napas: Setidaknya satu murid, seorang anak beasiswa, dilaporkan hilang tanpa jejak dan tidak pernah ditemukan. Pihak keluarga selama ini hanya diberi tahu bahwa anaknya "pindah."
Ayah Sena datang ke gerbang asrama tiga hari setelah artikel terbit.
Bayu yang menemuinya. Bu Sari menawarkan diri, tapi Bayu merasa ini harus ia lakukan—ia yang paling tahu, ia yang isinya pernah dipanggil, ia yang masih hidup karena seorang anak laki-laki naik tangga untuk semua mereka. Laki-laki di gerbang itu lebih kurus dari yang Bayu bayangkan, kemejanya tak lagi disetrika rapi, matanya merah. "Anak saya," katanya tanpa basa-basi, suaranya parau. "Sena. Mereka bilang dia pindah. Saya tidak pernah dapat surat, tidak pernah dapat alamat. Lalu koran ini—" ia mengangkat lipatan kertas dengan tangan gemetar. "Tolong. Katakan apa yang sebenarnya terjadi pada anak saya."
Bayu menarik napas. Ia tahu ia tak bisa menjelaskan Asti, atau lantai tiga, atau yang tanpa nama, dengan cara yang akan dipercaya laki-laki ini. Tapi ada satu kebenaran yang lebih penting dari semua mekanika gaib itu, kebenaran yang Sena sendiri ingin ayahnya dengar. "Anak Bapak tidak lari," kata Bayu pelan. "Dia tidak pindah, dan dia tidak menyerah. Tempat ini menekan anak-anak sampai retak, Pak, dan Sena melihatnya. Dia melihat aku hampir habis. Dia melihat teman-temannya jadi calon berikutnya. Dan dia memilih—dengan sadar, dengan berani—untuk berdiri di antara kami dan tempat ini." Bayu menelan ludah, matanya panas. "Dia tidak bikin Bapak malu. Dia menyelamatkan kami. Aku hidup karena dia. Mereka semua hidup karena dia."
Laki-laki itu menatapnya lama, dan sesuatu di wajahnya runtuh—dua puluh tahun kalimat jangan bikin malu, harapan yang ia tumpukan di pundak anaknya, hancur menjadi penyesalan yang terlambat. Ia menutup wajahnya dengan tangan dan menangis di gerbang besi itu, untuk anak yang tak pernah ia kenali dengan benar sampai anak itu pergi. Bayu memberinya pesan terakhir Sena—salinan dua baris yang tertulis di debu—dan laki-laki itu membacanya berulang-ulang seakan mencari anaknya di dalam huruf-hurufnya. Tidak ada peringkat yang sebanding dengan kehilangan diri sendiri. Pulanglah utuh.