Hari-hari sesudahnya berjalan lambat, seperti orang sakit yang baru bisa berjalan lagi. Asrama dibuka kembali—pohon-pohon tumbang yang dulu mengisolasi bukit disingkirkan, jalan ke gerbang dibersihkan, kabel telepon yang diputus Pak Hartono disambung. Pak Hartono sendiri menghilang sebelum subuh terakhir itu, kabur dengan reputasinya yang ia kira bisa diselamatkan; sebagian pengasuh ikut menghilang bersamanya. Yang tinggal hanyalah Bu Sari dan beberapa staf yang akhirnya memilih bicara.
Tapi ada yang tidak kembali, dan Bayu merasa keharusan untuk tidak melupakan mereka. Ia, Reza, dan Dani menghabiskan satu sore di perpustakaan tua, membersihkan meja tempat Pak Wiyono dulu sering tertidur. Petugas tua itu telah membayar penguncian dua puluh tiga tahun lalu dengan menyerahkan kunci dan jalan, dan ia tidak selamat. Mereka menaruh secangkir teh di meja itu—teh yang tak akan diminum siapa pun—dan diam sejenak. "Dia yang mengunci pintu itu," kata Bayu, "tapi dia juga yang akhirnya memberi kita kuncinya. Dia membayar dua kali."
Lalu Gilang. Bayu masih ingat malam Gilang menghilang, pukul tiga, dan pencarian yang gagal. Yang lenyap tetap lenyap; tak ada keajaiban yang mengembalikannya, dan Bayu sudah belajar untuk tidak berbohong pada dirinya soal itu. Mereka menuliskan nama Gilang, bersama nama Sena dan Bu Marni dan Pak Wiyono, di selembar kertas yang Dani simpan rapi. Bukan daftar persembahan. Daftar yang berlawanan: daftar yang menolak untuk lupa.
Tidak semua yang tinggal pulih sempurna. Indah, yang ingatannya dulu membantu mereka menemukan ruang dalam, sembuh tapi timpang—ada lubang-lubang di hari-harinya, ingatan yang tak pernah kembali, dan kadang ia terbangun menyebut nama yang bukan miliknya. Tari kembali, tapi pendiam dengan cara yang berbeda dari Dani, pendiam seperti seseorang yang membawa pulang sesuatu yang tertinggal di tempat gelap. Bekas luka tidak hilang seketika; Bayu tahu itu lebih dari siapa pun. Ia sendiri masih punya malam-malam saat tubuhnya menegang menjelang pukul tiga, refleks lama yang butuh tahun untuk dilupakan.
"Kita rawat yang bisa dirawat," kata Bu Sari suatu malam, mengumpulkan anak-anak penyintas di aula. Wajahnya lebih tua dari beberapa minggu lalu. "Aku tidak bisa janji kalian semua akan utuh seperti sebelum tempat ini menyentuh kalian. Sebagian dari kalian membawa pulang sesuatu yang asing. Tapi kalian membawanya pulang. Kalian hidup. Dan tugasku sekarang bukan lagi memilihkan siapa yang dikorbankan—tugasku menjaga supaya tak ada satu pun dari kalian yang merasa harus retak untuk dianggap cukup."
Buku rahasia asrama—buku persembahan—telah dicabut dan dihancurkan secara terbuka di hari sebelum subuh terakhir; abunya disimpan dalam kotak kecil, bukti yang sengaja tidak dimusnahkan seluruhnya. Bayu menutup laci tempat kotak itu disimpan dengan perlahan. Beberapa hal harus diingat justru supaya tidak terulang. Ia, Reza, dan Dani berdiri di koridor lantai dua, di depan pintu jeruji lantai tiga yang kini dibiarkan terbuka selamanya, tak digembok, tak ditutup, hanya pintu tua menuju lantai tua. Tak ada lagi yang perlu dikunci di balik sana.