Mereka pulang pada hari terakhir semester, ketika asrama Wirautama—atau apa yang tersisa darinya—resmi ditutup untuk diselidiki. Tak ada lagi anak baru yang akan diantar ke gerbang besi itu, tak ada lagi senyum terlatih di lobi, tak ada lagi tirai gelap di lantai tiga. Bus jemputan yang dulu mengantar Sena kini mengangkut anak-anak yang tersisa turun dari bukit, melewati cemara-cemara yang sama, kembali ke dunia yang sudah lama terasa seperti tempat lain.
Sebelum pergi, Bayu, Reza, dan Dani naik ke lantai tiga untuk terakhir kali. Tak ada lagi yang menghentikan mereka, tak ada lagi rasa takut di tangga. Cahaya pagi memenuhi koridor lewat jendela-jendela yang tirainya telah dirobohkan. Di kamar ujung, debu masih tebal, dan dua cekungan tua—jejak Sena dan Asti yang duduk berdampingan sepanjang malam dahulu—masih ada, tak pernah diganggu siapa pun. Bayu berdiri menatapnya lama. Ia tidak menangis kali ini. Ia hanya merasa, untuk pertama kalinya, tempat ini tidak lagi menyimpan kelaparan, hanya kenangan.
"Terima kasih," katanya pelan, pada debu, pada cahaya, pada gadis yang akhirnya tidur dan anak laki-laki yang memilih menemaninya. "Kami pulang utuh. Kamu menepati."
Di dinding tangga lantai dua, foto-foto angkatan masih tergantung, termasuk satu bingkai baru yang dipasang beberapa minggu lalu. Reza yang menunjuknya. Di pojok atas foto itu, di latar belakang tempat jendela lantai tiga berada, ada dua bayang samar berdampingan. Dani pernah berkata foto itu pasti cuma pantulan, cacat lensa, apa pun yang bisa dijelaskan. Tapi mereka bertiga tahu. Dua sosok itu berdiri berdampingan, menghadap keluar ke matahari, tidak menakutkan sama sekali. Hanya dua remaja yang akhirnya boleh berhenti.
Dahulu, di hari pertama Sena tiba, bayang-bayang seperti itu akan terlihat mengawasi, lapar, menunggu. Sekarang, dalam terang, keduanya tampak seperti sedang beristirahat. Asti tidak lagi sendirian dalam gelap menyebut nama-nama setiap pukul tiga. Sena tidak menjadi langkah kaki yang selamanya. Mereka berdua tidur, akhirnya, di tempat yang dulu memaksa mereka terjaga.
Bus melaju turun dari bukit. Bayu menengok ke belakang lewat jendela, menatap gedung tiga lantai bercat putih gading yang memudar, dikelilingi cemara yang bergoyang pelan dalam angin. Tak ada langkah di atas. Tak ada panggilan. Pukul tiga, malam nanti dan setiap malam sesudahnya, tak lagi menjadi milik siapa pun yang lapar. Ia menggenggam salinan pesan Sena di sakunya, dan di sebelahnya duduk Reza yang ceria, dan Dani yang analitis, keduanya hidup, keduanya utuh, keduanya pulang.
Bertahun-tahun kemudian, ketika orang-orang mengingat asrama Wirautama, sebagian akan menceritakan kisah hantu—gadis berkepang dua, langkah pukul tiga, lantai yang ditutup jeruji. Tapi Bayu akan mengingat sesuatu yang lain. Ia akan mengingat bahwa tempat itu pernah mengajari anak-anak untuk percaya bahwa mereka tak berharga kecuali jadi yang terbaik, sampai sebagian dari mereka retak dan tak pernah pulih. Dan ia akan mengingat seorang anak laki-laki yang menolak ikut percaya, yang naik tangga supaya tak ada lagi yang perlu naik sesudahnya. Asrama itu akhirnya belajar apa yang Sena tahu sejak awal: bahwa tak ada peringkat, tak ada kesempurnaan, tak ada citra mana pun yang sebanding dengan kehilangan diri sendiri. Dan di lantai tiga yang kini terang dan sepi, dua bayang berdampingan menatap matahari, dan tidur dengan tenang, selamanya.