Mereka berkumpul di aula besar saat fajar mengeras menjadi pagi. Tak ada yang mengusulkannya; tubuh-tubuh yang letih itu hanya bergerak ke sana sendiri, ke ruang paling terbuka di gedung, sejauh mungkin dari tangga. Bayu duduk di lantai aula yang dingin, punggung menempel dinding, dan menatap jam besar di atas pintu. Jarumnya merangkak. Ia menyadari, dengan kesadaran yang membuat tenggorokannya tercekat, bahwa ia menunggu pukul tiga—meski pukul tiga sudah lewat berjam-jam lalu malam tadi, meski matahari sudah naik.
Tubuhnya telah menghabiskan begitu lama hidup di sekitar satu angka itu, sehingga ia tak tahu lagi bagaimana caranya tidak takut padanya.
"Bay," panggil Reza, duduk di sebelahnya, lengannya yang luka kini terbalut kain dari seragam yang dirobek Dani. "Kamu mendengarkan langkah, ya?"
Bayu mengangguk, malu. "Aku terus menunggu suara di atas. Tuk. Satu. Lalu yang lain." Ia menggosok wajahnya. "Sepanjang hidupku di sini, pukul tiga selalu berarti sesuatu naik. Aku tidak tahu apa artinya pukul tiga yang tidak berarti apa-apa."
Dani, yang biasanya menyimpan kata-katanya, ikut duduk di sisi lain. "Artinya tidur," katanya pelan. "Cuma itu. Pukul tiga buat orang-orang di luar sana cuma jam orang tidur, Bay. Kita yang dikasih arti lain. Bukan kita yang salah karena masih takut. Tempat ini yang salah karena mengajari kita takut."
Malam berikutnya menjadi ujian sebenarnya. Tak satu pun dari mereka tidur nyenyak; mereka berbaring di aula bersama-sama, menolak kembali ke kamar masing-masing, dan menatap langit-langit dalam diam. Bu Sari duduk berjaga di pintu, tak mau meninggalkan anak-anak itu. Dan saat jarum jam besar merayap ke angka tiga, seluruh ruang menahan napas.
Bayu memejamkan mata. Ia mendengarkan dengan setiap serat tubuhnya yang dulu dilatih untuk mendengar langkah di atas kepala. Ia menunggu derik tunggal yang dulu mengawali segalanya, derik yang pernah kembali satu malam dan membangunkan yang tanpa nama.
Pukul tiga datang.
Dan tidak ada apa-apa.
Tidak ada langkah. Tidak ada panggilan. Tidak ada pintu yang terbuka sendiri, tidak ada rantai yang terlepas, tidak ada bau bunga yang terlalu lama dipotong. Hanya angin yang bergesek di cemara di luar, hanya napas anak-anak yang lelah, hanya detak jam yang biasa. Bayu membuka matanya dan menatap Dani, dan Dani menatap balik, dan keduanya tahu—ini berbeda dari semua keheningan sebelumnya. Keheningan setelah malam Sena dulu masih rapuh; ia bisa pecah jika luka lama dibangkitkan, dan memang pecah. Tapi yang ini tidak rapuh. Akarnya sudah dicabut, bukan sekadar dibungkam. Tak ada lagi yang bisa dibangkitkan, karena tak ada lagi yang mengeram di bawah keheningan.
"Sudah lewat," bisik Reza, dan ada tawa kecil di suaranya, tawa yang setengah isak. "Bay, sudah lewat pukul tiga. Tidak ada apa-apa."
Bayu mengangguk, dan untuk pertama kalinya sejak ia berusia lima belas tahun dan masuk asrama ini, ia merasakan tubuhnya melepaskan sesuatu yang sudah terlalu lama ia genggam. Ia menangis pelan, dan kali ini bukan tangis yang dipanggil kembali, bukan tangis ketakutan. Hanya tangis seseorang yang akhirnya boleh tidur tanpa mendengarkan. Di luar, subuh berikutnya datang tanpa langkah. Dan yang berikutnya. Dan yang berikutnya. Kali ini, permanen.