Mereka tidak langsung turun. Bayu tahu seharusnya mereka lari—Bu Marni menyuruh begitu, jangan ada yang menengok—tapi keheningan yang baru ini tidak mengusir mereka. Ia menahan mereka, lembut, seperti tangan yang berkata: tidak apa-apa, sudah aman.
Reza yang pertama menyentuh pintu batu. Daun pintu yang tadi ditarik rapat oleh Bu Marni kini tak terkunci—kunci besi Pak Wiyono tergeletak di lantai di sisi dalam, dingin, tugasnya selesai. Mereka mendorongnya perlahan. Bayu setengah takut akan apa yang ditemukan di dalam. Tubuh? Tanda perlawanan terakhir? Tapi ruang dalam itu kosong dari kengerian. Hanya sebuah kamar batu sempit di balik dinding, tempat semua tekanan dan kesepian asrama tertimbun selama puluhan tahun, kini sunyi dan mati.
Di salah satu dindingnya ada papan kayu lapuk yang menutup sebuah celah. Dani mengangkatnya—dan di balik papan itu bukan lagi kegelapan, melainkan retakan yang menembus ke sisi luar gedung, ke arah timur, ke arah cemara dan bukit. Dahulu celah itu pasti ditutup rapat agar ruang ini tetap gelap, tetap rahasia, tetap menyimpan luka. Kini, dengan papan terangkat, langit subuh yang pertama merembes masuk.
Cahaya itu jatuh ke lantai ruang dalam seperti tirai Asti dahulu tersibak. Bayu teringat kamar ujung di pagi terakhir Sena—matahari masuk untuk pertama kali ke lantai tiga setelah dua puluh tiga tahun. Sekarang cahaya masuk ke tempat yang bahkan lebih dalam, ke ruang yang tak ada di denah mana pun, ke jantung gelap yang selama ini menyembunyikan segalanya. Dan dalam cahaya itu, ruang luka itu tak bisa lagi menyembunyikan apa pun. Hanya batu, debu, dan satu lekukan kecil di lantai tempat Bu Marni terakhir berlutut—seperti dua cekungan di debu yang dulu mereka temukan, tapi kali ini hanya satu.
"Dia tidak di sini," kata Dani pelan, suaranya bergetar. "Tidak ada apa pun di sini lagi."
Bayu mengerti. Sama seperti Sena, sama seperti Asti. Tubuh yang membayar penutupan ini tidak ditinggalkan untuk diratapi sebagai mayat. Bu Marni pergi bersama yang ia tutup, terikat pada keheningan yang ia ciptakan. Yang mati tetap mati, dan ia tidak akan turun.
"Kita harus turun sekarang," kata Reza, dan kali ini bukan karena takut—karena terang. "Semua. Tidak ada yang tertinggal di atas. Itu yang Sena tulis, kan? Pulanglah utuh."
Mereka keluar dari ruang dalam, melewati kamar ujung yang debunya kini tersibak cahaya, menyusuri koridor lantai tiga yang untuk pertama kalinya tampak seperti sekadar lorong tua. Bu Sari menggandeng Indah dan dua penyintas lain yang gemetar. Tak seorang pun menengok ke belakang—bukan karena dilarang, tapi karena tak ada lagi yang memanggil dari belakang. Tangga yang dulu memanjang tak wajar kini hanya tangga biasa, pendek, menurun ke lantai dua, ke dunia. Satu per satu, mereka turun. Semua turun. Untuk pertama kalinya dalam sejarah asrama Wirautama, semua yang naik ke lantai tiga, turun kembali.