Bayu menyebut nama-nama itu seperti orang membaca doa untuk yang mati. Bukan teriakan kemenangan, bukan mantra—hanya nama, satu demi satu, diucapkan dengan hormat, dikembalikan kepada pemiliknya. Lestari Damayanti. Hadi Nugroho. Yuliana Prasetyo. Nama-nama lama yang dicoret di buku itu, alumni yang tak pernah pulang utuh, anak-anak yang dua puluh, lima belas, sepuluh tahun lalu naik ke pintu ini dan turun sebagai cangkang. Setiap nama yang ia panggil, ia panggil pulang.
Di balik pintu batu, ruang dalam bergemuruh. Bayu tak bisa melihat Bu Marni lagi, hanya mendengar—gesekan, tarikan napas, dan kemudian suara perempuan itu, jernih dan tenang di tengah kekacauan, mengulang nama-nama bersamanya. Bu Marni tahu daftar itu di luar kepala. Tentu saja ia tahu. Ia telah menuliskannya bertahun-tahun. Kini ia menyebutnya bukan untuk memberi makan, melainkan untuk membebaskan, dan setiap nama yang keluar dari mulutnya adalah satu paku yang ia cabut dari peti yang ia sendiri bangun.
Yang tanpa nama tidak bisa menelan kesaksian. Itulah yang Bayu pelajari dari kesalahannya dahulu, dari jejak yang ditinggalkan Sena, dari segala yang sudah mereka bongkar. Entitas itu hidup dari kisah yang dikubur, dari luka yang dibungkam, dari nama yang dihapus. Begitu setiap nama diakui dengan suara keras—begitu pakan berubah menjadi kesaksian—ia kehilangan tanah pijaknya. Yang dulu kelaparan murni tanpa identitas itu kini dipaksa menghadapi seluruh identitas yang telah ia rampas, dan ia tak sanggup.
Gelombang tekanan yang menghantam dada mereka melemah. Suara-suara di kepala Bayu—kamu kurang, kamu mengecewakan—satu per satu padam, seperti lampu di gedung yang ditinggalkan. Dani mengangkat wajahnya, terkejut karena bisa bernapas lega lagi. Reza menyeka air mata bercampur darah dari pipinya.
Dari balik pintu batu, suara terakhir Bu Marni terdengar. Bukan jeritan. Sebuah kalimat, diucapkan pelan, hampir lega. "Aku memperhatikan kalian pergi," katanya, dan Bayu tahu ia mengulang kata-kata Sena, kata-kata yang dulu menidurkan Asti. "Aku di sini. Tidak ada yang kuhapus lagi. Istirahatlah."
Lalu suara gemuruh itu surut. Bukan meledak, bukan runtuh dengan dahsyat seperti yang Bayu bayangkan. Ia mereda, seperti ombak yang menarik diri dari pantai dan tak kembali. Bau bunga busuk yang menempel di gedung ini sepanjang ingatan—bau bunga yang terlalu lama dipotong—menipis, lalu lenyap. Untuk pertama kalinya Bayu mencium udara lantai tiga yang sesungguhnya: hanya debu, kayu tua, dan dingin biasa.
Hening.
Bukan hening menunggu, bukan hening yang memperhatikan, bukan hening sebelum langkah. Hening yang sesungguhnya. Hening tanah yang akhirnya kosong dari yang lapar.
Dani berbisik, takut memecahkannya, "Apa sudah... selesai?"
Bayu menyandarkan dahinya ke pintu batu yang dingin. Di baliknya tak ada lagi gerakan, tak ada lagi napas, tak ada lagi Bu Marni. "Sudah," katanya, dan kata itu terasa asing di lidahnya, terlalu besar untuk dipercaya. "Dia menutupnya dari dalam. Dia tinggal supaya kita bisa turun."
Bu Sari, di ambang, menutup mulutnya dengan tangan dan menangis tanpa suara—tangis untuk seorang perempuan yang selama dua dekade ia anggap musuh idenya, dan yang di akhir memilih membayar harga yang tak seorang pun memintanya bayar.