Ruang di balik dinding kamar ujung itu masih bergetar oleh sisa-sisa perlawanan. Bayu berdiri di tengahnya, dada naik turun, dengan suara serak karena sudah menyebut terlalu banyak nama. Di sekelilingnya, udara yang tadi sepekat lumpur kini mulai menipis, seperti asap yang kehilangan apinya. Yang tanpa nama itu—timbunan kesepian dan tekanan yang dikubur asrama selama berpuluh tahun—telah mengecil, tak lagi menjulang sampai langit-langit, tak lagi memanggil lewat luka batin mereka. Tapi belum padam. Sesuatu yang lapar tidak pernah mau mati dengan sopan.
"Pegangannya masih di tanah ini," kata Bu Marni. Ia berdiri di ambang ruang dalam, kacamatanya retak satu sisi, rambutnya lepas dari sanggul. Di tangannya, kunci besi tua warisan Pak Wiyono—kunci yang sudah dibayar dengan nyawa petugas tua itu beberapa malam lalu. "Kalian sudah melucutinya. Kalian sudah membongkar kisahnya. Tapi membongkar saja tidak menutup. Harus ada yang menutup dari dalam. Harus ada yang tinggal."
Reza menggeleng cepat, masih memapah lengannya sendiri yang luka. "Tidak. Tidak lagi. Sena sudah cukup. Pak Wiyono sudah cukup. Gilang—" suaranya pecah di nama itu. "Kita sudah kehilangan terlalu banyak."
"Justru karena terlalu banyak," kata Bu Marni, dan untuk pertama kalinya Bayu mendengar suara perempuan itu tanpa senyum terlatih di baliknya, hanya kelelahan dua puluh tiga tahun yang akhirnya jujur, "maka harus berhenti di sini. Bukan kalian. Kalian masih anak-anak. Kalian harus turun, pulang, hidup. Aku yang menyusun daftar selama belasan tahun. Aku yang mengetuk pintu-pintu kamar dan memilihkan anak untuk diberikan. Bayu, aku yang menulis namamu. Aku yang menulis nama Sena di baris paling bawah dengan tinta paling segar." Ia menelan ludah. "Kalau ada satu orang di gedung ini yang berutang penutupan ini, itu aku."
Bu Sari maju dari sisi koridor, wajahnya basah. "Marni, jangan jadikan ini pelarian. Mati lebih gampang daripada hidup dengan rasa bersalah, kau tahu itu."
"Aku tahu." Bu Marni tersenyum padanya, tipis, getir. "Karena itu kau yang harus hidup, Sari. Kau yang harus berdiri di gerbang besok pagi dan mengaku di depan jurnalis itu. Kau yang harus mengurus anak-anak yang pulih timpang. Itu jauh lebih berat daripada yang akan kulakukan. Aku memilih yang lebih ringan. Biarkan aku."
Yang tanpa nama menggeliat di sudut ruang, mengejang, menarik napas tanah yang dingin. Ia merasakan ada sesuatu yang akan ditutup, dan ia melawan dengan cara terakhir yang dimilikinya—bukan suara, melainkan tekanan, gelombang rasa gagal yang menghantam dada mereka semua serentak. Dani jatuh berlutut. Reza mengerang. Bayu merasakan luka lamanya terbuka, suara ayah-ayah dan guru-guru di kepalanya: kamu bisa lebih, kamu kurang, kamu mengecewakan.
Bu Marni melangkah masuk ke ruang dalam menembus gelombang itu seperti orang menembus badai, kunci di tangan. "Sebut nama-namanya, Bayu," serunya tanpa menoleh. "Aku akan tahan dia di sini. Kau bongkar sampai habis. Lalu aku kunci pintu ini dari dalam, dan kalian lari ke bawah. Jangan ada yang menengok. Apa pun yang kalian dengar."
"Bu Marni—"
"Aku menulis nama anak-anak itu dengan tanganku sendiri," katanya, dan suaranya tak lagi gemetar. "Izinkan aku menulis satu nama terakhir dengan tanganku sendiri juga. Namaku."
Dan ia menarik daun pintu batu itu, masuk ke jantung luka asrama bersama yang tanpa nama, sementara Bayu, dengan air mata mengalir dan suara nyaris habis, mulai menyerukan nama berikutnya dari daftar persembahan.