Wajah Sena mengambang di permukaan gundukan tanpa nama itu, dan untuk satu detik yang membekukan, Bayu pikir mereka telah salah sejak awal—pikir bahwa Sena tak pernah benar-benar pergi, bahwa ia ada di sini, di dalam kelaparan ini, sepanjang waktu. Lalu ia melihat lebih jelas, dan ia mengerti, dan pengertian itu hampir menghancurkannya lebih dari teror mana pun.
Itu bukan Sena. Itu pancingan. Tempat ini telah mengaduk-aduk ingatan mereka, menemukan wajah yang paling mereka rindukan, paling mereka cintai, paling akan mereka serahkan apa pun untuk membawanya kembali—dan memakai wajah itu sebagai umpan terakhir. Statusnya menggantung di buku karena Sena adalah satu-satunya yang naik tanpa diambil; tempat ini tak pernah berhasil memilikinya, dan kini ia mencoba sekali lagi, lewat mereka, lewat cinta mereka.
"Naiklah," kata wajah Sena, dengan suara Sena, dengan kehangatan Sena. "Bayu. Reza. Dani. Aku di sini. Aku menunggu kalian. Tinggal saja di sini bersamaku. Tidak akan ada lagi yang menuntut kalian jadi yang terbaik. Kalian boleh berhenti."
Itu kalimat yang sama. Persis kalimat yang dulu dipakai Asti di kaki tangga, lewat mulut Bayu sendiri, kalimat yang menyeret anak-anak ke atas selama dua dekade. Dan mendengarnya keluar dari wajah Sena adalah penghinaan yang membuat dada Bayu menyala.
Di pergelangan Reza, jarum jam bergerak. 02.58.
"Itu bukan Sena," kata Bayu, dan suaranya tidak gemetar lagi. Tidak ada lagi ruang dalam dirinya untuk gentar. "Sena nggak menunggu kita di sini, karena Sena nggak menyuruh kita berhenti. Sena nyuruh kita pulang. Utuh." Ia melangkah maju, menatap wajah palsu itu lurus. "Kamu pakai dia karena kamu tahu dia satu-satunya nama yang nggak pernah bisa kamu telan. Dia naik sukarela. Kamu nggak pernah punya dia. Dan kamu nggak akan pernah punya kami."
Wajah Sena retak, lalu berubah, ratusan wajah lain bergegas naik ke permukaan dalam panik, gundukan itu mengembang sekali lagi dengan keputusasaan terakhirnya. 02.59. Pukul tiga hampir tiba—saat ia akan bangun penuh, terlepas dari kantuk, menjadi terlalu besar untuk dibongkar.
"Indah!" teriak Bayu. "Nama terakhir! Yang asli! Bukan Sena—nama di bawah Sena yang nggak kamu tulis! Yang statusnya membungkam semuanya!"
Dan Indah, gadis yang ingatannya pulih dengan rasa sakit, menutup salinannya. Ia tidak membutuhkannya lagi. Ia menutup mata, dan dari kedalaman masa kosongnya, dari nama-nama yang ia dengar didikte berkali-kali di ruang ini, ia menarik keluar nama yang paling dalam terkubur—nama gadis yang darinya semua ini bermula, nama yang seharusnya dipanggil pertama tapi tertimbun paling akhir.
"Asti Wulandari," seru Indah ke dalam gelap. "Pulang."
Untuk sesaat, tak terjadi apa-apa. Asti sudah tidur. Asti sudah pulang bersama Sena. Tapi nama itu bukan untuk membangunkan Asti—nama itu adalah batu kunci, asal-usul, luka pertama yang darinya tempat ini belajar lapar. Dan saat nama itu menggema, setiap nama lain yang telah mereka panggil malam ini bergema bersamanya, ratusan nama, seluruh kisah yang dua puluh tiga tahun dan lebih dikubur tempat ini di bawah lantai berukir.
Lonceng asrama, jauh di bawah, mulai berdentang. Pukul tiga.
Dan gundukan tanpa nama itu, di puncak jam ambangnya, di detik ia seharusnya bangun penuh dan menelan mereka semua—menyusut. Bukan meledak, bukan pula tuntas hancur. Mengkerut ke dalam, seperti bara yang ditarik mundur dari kayu, seperti pasir yang sebagian airnya disurutkan. Wajah-wajah yang selama ini ia rampas mulai naik ke permukaannya bukan untuk lapar, melainkan untuk pamit, satu demi satu mulai melepaskan diri ke atas, ke jendela tinggi, ke gelap yang tidak lapar. Tekanan yang memenuhi ruang seumur hidup mereka mengendur, jauh berkurang—meski belum hilang sama sekali. Bau bunga busuk menipis menjadi sekadar bau debu tua, walau di dasarnya masih tertinggal satu helai dingin yang menolak padam.
Bayu jatuh berlutut di lantai berukir nama, dan ia menangis, dan di sekelilingnya yang lain menangis, dan lonceng pukul tiga berdentang sampai habis dan tidak ada langkah kaki yang menyusulnya. Tidak ada lagi suara memanggil dengan wajah Sena. Hanya enam orang yang bernapas berat di ruang yang untuk pertama kalinya tidak menjulang penuh kelaparan—meski di sudutnya, sesuatu yang tersisa masih mengerut, masih menunggu.
"Selesai?" Reza terisak, tak berani percaya. "Bay. Udah selesai?"
Bayu memandang ke tengah ruang, tempat gundukan itu pernah menjulang, kini hanya lantai kosong dan satu lapisan debu yang mulai turun perlahan, tenang, seperti salju di tempat yang akhirnya damai. Ia teringat pesan di debu, bertahun lalu, di kamar ujung tak jauh dari sini. Ia mengerti sekarang apa arti pulang utuh. Bukan tanpa luka. Tapi tanpa meninggalkan siapa pun di atas.
"Belum," kata Bayu pelan, dan ia mengusap matanya, dan menatap pintu ruang dalam yang masih menganga, dan kunci tua Pak Wiyono yang masih dingin di genggamannya. "Masih ada yang harus ditutup. Dari dalam." Ia menelan ludah, karena ia tahu apa arti kalimat itu, dan ia tahu salah satu dari mereka tahu juga. "Kita sudah lucuti dia—kita sudah pulangkan yang dia rampas. Tapi yang tersisa belum padam. Dia masih di sana, mengerut di sudut, dan selama pintu itu belum ditutup, dia bisa bangun lagi."