Mereka memanggil di tengah badai yang tak berangin. Indah membaca nama dari salinannya, dan Bayu menyerukannya ke dalam gelap, dan suara mereka semua menyusul—Reza, Dani, Bu Marni, Bu Sari—lima, enam suara yang menyebut satu nama bersamaan sampai nama itu menjadi terlalu nyata untuk ditahan oleh tumpukan tanpa nama.
"Sutrisno!" Dan sebuah wajah laki-laki naik, menemukan dirinya, dan terlepas, pulang ke atas.
"Marlina!" Seorang gadis, kemudian, memudar dengan damai.
"Hendra. Yuni. Bambang. Siti." Setiap nama, satu pecahan kembali. Setiap pecahan kembali, gundukan menyusut, menjerit, dan menyerang.
Ia menyerang dengan satu-satunya cara yang ia bisa: lewat luka. Saat Bayu menyebut nama kesepuluh, ruang itu mendadak bukan ruang lagi. Bayu berdiri di lorong asrama, sendirian, dan suara ayah—bukan, bukan ayahnya, ia tak punya ayah seperti Sena—suara setiap orang yang pernah mengecewakannya menggema: kamu mengecewakan semua orang. Kamu kembali dari kekosongan hanya untuk gagal lagi. Lututnya melemas. Tapi Reza, di sampingnya di dunia nyata, mencengkeram tangannya dan menyebut nama berikutnya keras-keras di telinga Bayu, dan nama itu—nama orang asing yang sudah lama mati—menarik Bayu kembali ke ruang dalam, ke barisan, ke tugas.
Mereka belajar menjaga satu sama lain. Saat tempat itu menyerang Dani dengan peringkat dan angka, Indah menyentuh lengannya dan menyebut nama Dani sendiri—Dani Saputra, kamu di sini, kamu nyata—lalu kembali ke daftar. Saat Bu Marni hampir tenggelam dalam rasa bersalah, Bu Sari menggenggam tangannya dan mereka menyebut nama berikutnya berdua. Saat senter Reza mati, Dani menyalakan ponselnya. Mereka rapuh, dan mereka ketakutan, dan mereka tidak berhenti.
Gundukan itu mengecil. Wajah-wajah di permukaannya makin sedikit, makin renggang. Apa yang dulu menjulang hilang di gelap atas kini setinggi dua orang, lalu setinggi satu, lalu—
"Indah," kata Bayu, suara serak setelah menyebut entah berapa puluh nama. "Berapa lagi?"
Indah membalik ke halaman terakhir salinannya. Tangannya berdarah; ia mencengkeram kertas terlalu erat. "Satu halaman," katanya. "Mungkin tiga puluh nama. Tapi Bayu—" suaranya tercekat. "Ada nama yang aku nggak yakin. Yang paling akhir. Yang aku tulis dari ingatan tapi nggak yakin benar."
"Sebut semua," kata Bayu. "Kalau salah, nggak ada yang menjawab. Kalau benar, satu lagi pulang. Sebut semua."
Mereka melanjutkan. Tiga puluh nama lagi, dipanggil pulang satu per satu, dan tiap kali gundukan mengerang dan menyusut. Wati. Sutrisno. Nama demi nama, dua dekade lebih anak-anak yang dicuri, akhirnya disebut, akhirnya diakui, akhirnya pulang. Reza menangis terang-terangan sekarang, tak malu, menyebut nama orang asing seakan mereka saudaranya. Karena dengan cara tertentu, di tempat ini, malam ini, mereka memang saudara—semua yang pernah retak di bawah berat kesempurnaan yang dituntut tempat ini.
Lalu Indah sampai ke nama terakhir di halaman terakhir. Ia berhenti. Tangannya gemetar hebat.
"Ada apa?" tanya Dani.
"Aku ingat ada satu nama lagi setelah ini," kata Indah pelan. "Di buku asli. Aku lihat sendiri waktu aku diisi. Tapi statusnya beda dari semua yang lain. Bukan 'selesai'. Bukan 'tahap akhir'. Statusnya cuma—menggantung." Ia mengangkat wajahnya, matanya basah. "Aku nggak nulis nama itu di salinan. Karena aku nggak sanggup. Karena kalian semua kenal dia."
Gundukan itu, kini kecil, sebesar manusia berlutut, mengangkat satu wajah ke permukaannya. Dan wajah itu, di antara semua wajah asing malam ini, adalah wajah yang mereka kenal. Anak laki-laki, sederhana, mata yang tenang. Wajah yang menulis pesan di debu agar mereka pulang utuh.
Reza menjatuhkan senternya. "Sena," bisiknya.