Indah membuka salinannya dengan tangan gemetar, menjepit senter di bawah dagu agar cahaya jatuh ke halaman. Bayu berdiri di sampingnya, lalu Reza, lalu Dani yang masih mengatur napas, lalu kedua pengasuh, membentuk barisan rapuh menghadap kegelapan yang lapar. Gundukan tanpa nama itu menjulang, ratusan wajah pinjaman naik dan tenggelam di permukaannya seperti gelembung di rawa.
"Bagaimana caranya?" bisik Reza. "Cuma dibaca?"
"Tidak dibaca," kata Bayu. "Dipanggil. Seperti memanggil orang pulang yang sudah lama hilang. Bukan ke arah dia—" ia menunjuk gundukan, "—tapi ke arah nama itu sendiri. Kita kasih nama itu kembali pada pemiliknya. Kita ambil dia keluar dari tumpukan."
Ia menarik napas. Nama pertama di salinan Indah, paling atas, paling tua, sebuah nama yang sudah dicoret puluhan tahun lalu. Bayu menyebutnya, keras, ke dalam gelap, bukan sebagai dakwaan, bukan sebagai mantra, melainkan sebagai panggilan ke beranda di senja hari memanggil anak pulang makan.
Dan gundukan itu menggeliat.
Salah satu wajah di permukaannya—wajah perempuan, muda, kepang dua nyaris seperti Asti tapi bukan Asti—naik dan berhenti di permukaan. Tidak tenggelam kembali. Mata wajah itu, yang selama ini buta, perlahan menemukan fokus. Menemukan Bayu. Dan untuk satu detik panjang, ada seseorang di sana. Seseorang yang punya nama, yang baru saja mendengar namanya disebut untuk pertama kali dalam puluhan tahun.
"Lagi," desak Bu Marni, air mata mengalir bebas sekarang. "Sebut lagi. Itu—itu Wati. Aku ingat dia. Angkatan paling awal. Aku belum lahir saat dia diambil, tapi namanya ada di buku—"
Bayu menyebut nama itu lagi. Sekali lagi. Dan wajah perempuan itu, Wati, terlepas dari gundukan—bukan melompat, tapi seperti tetesan air yang akhirnya jatuh dari daun—dan untuk sekejap ia utuh, berdiri sendiri di udara, seorang gadis tua-muda yang akhirnya punya bentuk lagi. Ia memandang mereka semua. Ia tidak bicara. Tapi ada terima kasih di matanya yang lebih dalam daripada kata, dan lalu ia memudar, bukan ke dalam gundukan, melainkan ke atas, ke arah jendela tinggi ruang dalam yang Bayu baru sadari ada di sana, dan lenyap ke dalam gelap yang tidak lapar. Pulang.
Dan gundukan tanpa nama itu menjerit.
Bukan suara. Tekanan. Ruang itu berdenyut, dinding mengerang, debu jatuh dari gelap atas seperti hujan abu. Karena untuk pertama kalinya dalam keberadaannya, ia kehilangan. Satu pecahan, satu nama, ditarik keluar darinya dan dikembalikan ke pemiliknya, dan ia menjadi sedikit lebih kecil. Sedikit kurang.
"Berhasil," Dani terengah, setengah tertawa setengah menangis. "Astaga, berhasil. Indah—daftarnya—kita kosongkan dia. Kita panggil semuanya pulang."
"Cepat," kata Bu Sari, menatap gundukan yang kini menggeliat liar, marah, tangan-tangannya mengayun. "Dia akan melawan lebih keras tiap nama yang kita ambil. Dia tahu sekarang. Dia tahu kita bisa membongkarnya. Berapa lama sampai pukul tiga?"
Reza melirik jam tangannya, satu-satunya yang masih berfungsi. Jarumnya bergerak aneh, tapi ia bisa membacanya. "Setengah tiga," katanya, dan tenggorokannya tercekat. "Tiga puluh menit, kita harus selesai sebelum pukul tiga. Karena kalau pukul tiga datang dan dia masih hidup—"
"Dia akan bangun penuh," Bayu menyelesaikan. "Sekarang dia setengah tidur. Pukul tiga dia bangun sepenuhnya." Ia mencengkeram bahu Indah. "Baca. Jangan berhenti. Aku panggil, kalian semua ikut panggil. Setiap nama. Sampai habis. Sampai pukul tiga."
Indah mengangguk, menyalakan senternya lebih terang, dan mulai membaca nama berikutnya.