"Aku tahu siapa kamu," Bayu memaksakan kata-kata itu keluar, suaranya pecah di ruang yang menelan suara. "Kamu adalah semua yang ditinggalkan tempat ini. Kamu kesepian. Kamu—"
Gundukan itu tidak bergeming. Atau lebih buruk: ia bergeming dengan cara yang salah, condong lebih dekat, lapar, seakan Bayu sedang menawarkan dirinya alih-alih menenangkannya. Karena kata "kamu kesepian" hanya bermakna jika ada satu jiwa yang merasa kesepian. Yang ini bukan satu jiwa. Yang ini adalah kekosongan yang dirakit dari banyak luka, dan pengakuan—senjata yang dulu menidurkan Asti—justru seperti madu yang diteteskan ke mulut yang menganga. Ia menyukai diajak bicara. Ia menafsirkan kelembutan sebagai langkah pertama menuju penyerahan diri.
"Berhenti, Bayu!" Bu Sari menarik bahunya. "Lihat—dia mendekat. Setiap kata sayang yang kau ucap, dia tarik kau lebih dalam. Kata-kata tidak menidurkannya. Kata-kata mengundangnya."
Bayu mundur, jantungnya bergemuruh. Ia salah. Mereka semua salah. Mereka datang ke sini membawa satu senjata yang berhasil dulu, dan menyangka kunci yang membuka satu pintu akan membuka semua pintu. Tapi Asti dan yang ini berbeda sedalam langit dan sumur. Asti adalah seseorang yang ingin pulang. Yang ini tidak ingin apa-apa selain menelan, dan kelembutan baginya hanyalah mangsa yang menyerahkan diri dengan sopan.
Tangan-tangan mulai keluar dari gundukan itu. Bukan menyerang—lebih buruk, mengundang. Mengulur ke arah mereka satu per satu, dan tiap orang mendengar bisikan tak bersuara yang dirakit dari ketakutannya sendiri. Bayu melihat Dani melangkah maju tanpa sadar, mata kosong, dan ia tahu Dani sedang dijanjikan satu hal yang selalu ia inginkan: berhenti. Berhenti mengejar nilai, berhenti merasa tak cukup, berhenti, berhenti. Bayu menubruknya, menjatuhkan mereka berdua ke lantai berukir nama.
"Dani! Hitung mundur dari sepuluh! Keras-keras! Pakai suaramu sendiri!"
"Se—sepuluh," Dani tergagap, lalu lebih kuat, marah pada dirinya sendiri. "Sembilan. Delapan." Suaranya, suaranya sendiri, miliknya, menariknya kembali dari ujung.
Reza menyeret Indah menjauh dari satu tangan yang nyaris menyentuh wajahnya. Bu Marni berdiri di tengah, dan untuk satu momen mengerikan Bayu pikir ia akan menyerahkan diri—rasa bersalahnya sebesar itu—tapi Bu Sari menamparnya, sekali, keras. "Tidak begitu kau menebus, Marni. Kau menebus dengan hidup, bukan dengan dimakan."
Mereka mundur sampai punggung mereka menyentuh dinding ruang dalam—dinding yang akhirnya ada, sekarang ada, seakan ruang itu menyempit untuk menjebak mereka. Gundukan tanpa nama itu mengisi tengah ruangan, dekat sekali, napasnya yang bukan napas mendinginkan keringat di kulit mereka.
"Kalau bukan dengan kata," Reza terengah, "terus pakai apa? Kekerasan? Nggak ada yang bisa dipukul. Lari? Lorongnya udah ketutup."
Bayu menatap lantai. Nama-nama, terukir di kayu, ratusan, tertumpuk. Dan ia memandang salinan di tangan Indah—daftar nama yang sama, ditulis ulang dengan tangan, nama-nama PERSEMBAHAN dari dua dekade. Dan sesuatu yang Sena pernah tinggalkan, samar di ingatannya, mulai membentuk diri. Sena tidak menidurkan Asti dengan membujuknya. Sena menidurkannya dengan menyebut namanya, mengakui kisahnya, mengembalikan padanya hal yang dicuri darinya: martabat sebagai seseorang, bukan sebagai sesuatu.
Yang tanpa nama tidak punya nama. Itulah kelemahannya, bukan kekuatannya. Asti kuat karena ia satu kisah utuh yang ditolak. Yang ini lemah karena ia banyak kisah yang dipecah dan dicuri identitasnya. Kalau pengakuan pada satu jiwa membuatnya lebih kuat—
Bayu mengangkat kepalanya. "Indah," katanya pelan. "Salinanmu. Berapa nama yang kau ingat?"
"Ratusan," kata Indah. "Hampir semua."
"Bukan dia yang harus kita ajak bicara." Bayu berdiri tegak, meski lututnya gemetar. "Dia nggak punya nama buat dipanggil. Tapi setiap pecahan di dalam dirinya—punya. Kita nggak menidurkan dia. Kita bongkar dia. Kita panggil pulang nama-nama yang dia telan, satu per satu, sampai nggak ada yang tersisa untuk jadi dirinya."