Ruang di balik dinding lebih besar daripada yang mungkin muat di dalam gedung. Bayu tahu ini saat ia melangkah masuk dan senternya tak menemukan dinding seberang, tak menemukan langit-langit, hanya gelap yang membentang seperti ruang dalam tanpa batas. Lantainya papan kayu yang sama, dingin di telapak, dan di setiap papan tergores—dengan kuku, dengan pisau, dengan apa pun yang dipakai anak-anak putus asa selama puluhan tahun—nama-nama. Ratusan. Tertumpuk, saling timpa, sampai sebagian tak terbaca lagi. Setiap anak yang pernah retak di tempat ini meninggalkan namanya di lantai, seperti tangan yang menggapai keluar dari air dan hanya sempat menorehkan satu tanda sebelum tenggelam.
"Ini tempatnya," bisik Indah, dan suaranya bergetar oleh ingatan. "Di sini mereka membawa kami. Bukan ke Asti—Asti di kamar ujung. Tapi yang tidak diambil utuh oleh Asti, sisanya, dibuang ke sini. Bertahun-tahun. Bertumpuk."
Di tengah ruang, kegelapan itu lebih pekat. Dan saat senter mereka menyatukan cahayanya ke sana, kegelapan itu bergerak.
Ia tidak punya wajah. Itu hal pertama yang Bayu sadari, dan hal yang paling membuatnya ngeri. Asti, dengan segala kengeriannya, punya wajah—gadis berkepang dua, beku di usia tujuh belas, punya nama dan kisah dan luka yang bisa dipanggil. Yang ini tidak. Yang ini adalah gundukan, tinggi sampai hilang di gelap atas, terbuat dari sesuatu yang menyerupai banyak orang dan tak menyerupai siapa pun—bahu-bahu setengah jadi, tangan-tangan yang muncul dan tenggelam, wajah-wajah yang naik ke permukaannya selama sepersekian detik lalu lenyap kembali, masing-masing membuka mulut tanpa suara. Ia tersusun dari pecahan. Dari semua bagian anak-anak yang tak pernah pulang. Dari kesepian yang tak bernama, tekanan yang tak bernama, kegagalan yang tak bernama, ditumpuk selama berpuluh tahun sampai berat sendiri membuatnya bangun.
Dan ia lapar. Kelaparan itu memenuhi ruang seperti tekanan air di dasar laut, menekan telinga, menekan dada. Tapi ini bukan lapar Asti. Asti lapar akan didengar, akan diakui, akan ditemani. Yang ini hanya lapar untuk lapar. Tanpa tujuan, tanpa kisah, tanpa hal yang bisa ditawarkan untuk memuaskannya. Sebuah lubang yang ingin menjadi lebih besar.
Bu Marni jatuh berlutut, tangannya menutup mulut. "Astaga," ia terisak. "Kami yang membuat ini. Setiap anak yang kukirim ke atas—setiap pecahan yang tidak kembali—jadi ini. Selama ini, sambil kami pikir kami menjaga keseimbangan, kami membangun ini, batu bata demi batu bata."
Gundukan itu condong ke arah suaranya. Tertarik pada rasa bersalah seperti besi pada magnet. Salah satu wajah di permukaannya naik, menatap Bu Marni, dan untuk sekejap Bayu mengenalinya—seorang anak laki-laki dari salinan Indah, nama yang dicoret tiga puluh tahun lalu—lalu wajah itu tenggelam lagi, ditelan oleh tubuh tanpa namanya sendiri.
"Jangan kasih makan rasa bersalahmu," kata Dani tajam, menarik Bu Marni mundur. "Itu yang dia mau. Dia nggak peduli kamu menyesal. Dia cuma mau lebih banyak yang ditarik masuk."
Indah maju selangkah, salinan nama gemetar di tangannya. "Asti bisa kita tidurkan karena kita bisa menyebut namanya," katanya, suara tipis tapi keras kepala. "Kita harus coba yang sama. Beri dia—pengakuan. Nama. Sesuatu."
Bayu ingin percaya itu cukup. Ia maju ke sisi Indah, menghadap gundukan yang tak berwajah, dan membuka mulutnya untuk berkata: aku tahu kamu menderita, aku tahu kamu ditinggalkan—
Tapi kata-kata itu mati di tenggorokannya. Karena tak ada "kamu" di sana untuk diajak bicara. Tak ada satu pun yang bisa diakui. Hanya kelaparan, menatap balik dengan seribu wajah pinjaman, dan tidak satu pun adalah miliknya.