Tangga itu panjang dengan cara yang salah. Bayu menghitung anak tangga seperti Dani menghitung langkah di lorong tadi siang, dan seperti Dani, ia kehilangan hitungan setelah angka yang seharusnya sudah membawanya ke lantai tiga. Dua belas. Dua puluh. Tiga puluh. Cahaya senter mereka hanya menjangkau beberapa langkah ke depan, dan di luar lingkaran cahaya itu, tangga terus naik, terus naik, ke dalam udara yang makin dingin dan makin berbau bunga yang dipotong terlalu lama.
"Sena pernah naik tangga ini," kata Bayu pelan, lebih untuk dirinya sendiri. "Malam itu. Dia bilang—aku ingat, isiku setengah kembali waktu itu—dia bilang tangganya juga memanjang. Tapi dia terus naik." Ia menggenggam erat kunci Pak Wiyono. "Kalau dia bisa, kita bisa."
"Bedanya," kata Dani, suaranya datar untuk menyembunyikan getarnya, "Sena naik buat menemani. Kita naik buat menghancurkan. Aku nggak yakin tempat ini bakal sopan kayak ke Sena."
Ia benar. Karena di anak tangga yang entah ke berapa, tempat itu mulai bicara.
Bukan dengan suara. Bayu tidak mendengar apa pun lewat telinganya. Ia merasakannya, langsung di dalam dadanya, seperti tangan dingin yang merogoh ke tempat ia menyimpan setiap rasa malunya. Kamu tidak cukup. Kalimat itu bukan kata-kata, hanya kepastian, dingin dan total. Kamu tidak pernah cukup. Sena yang seharusnya naik, bukan kamu. Sena yang berani. Kamu hanya cangkang yang kebetulan diisi kembali. Kalau kamu naik ke atas sini, kamu akan kosong lagi, dan kali ini tidak ada yang akan naik untukmu.
Bayu terhuyung. Reza menangkapnya. "Bay! Bay, lihat aku—jangan dengerin. Itu bukan suaramu. Itu dia."
"Aku tahu," Bayu mendesis, meski air matanya keluar tanpa izin. "Aku tahu itu dia. Tapi dia pakai suaraku. Dia tahu persis apa yang aku takutkan." Ia mengusap wajahnya kasar. "Itu yang dia lakukan. Asti dulu memanggil pakai nama. Yang ini memanggil pakai kegagalan kita. Hati-hati semua. Dia bakal cari luka masing-masing."
Dan ia benar lagi. Di belakang, Indah berhenti di tengah tangga, menatap kosong ke gelap, bibirnya bergerak menyebut nama yang bukan namanya. Bu Sari menamparnya pelan, memanggilnya pulang. Dani menggeretakkan gigi, matanya berkilat, dan Bayu tahu apa yang dibisikkan tempat itu padanya—angka, peringkat, suara guru yang berkata kamu bisa lebih. Reza terus berjalan dengan mulut komat-kamit menyebut nama teman-temannya keras-keras, satu mantra kecil melawan suara di dalam: Bayu, Dani, Indah, Bu Marni, Bu Sari. Bayu, Dani, Indah. Untuk mengingat siapa yang nyata.
Lalu, tanpa peringatan, anak tangga berikutnya adalah lantai. Mereka sampai.
Lantai tiga membentang di hadapan mereka, dan itu bukan lantai tiga yang ditinggalkan Sena dalam terang pagi berbulan-bulan lalu. Debu masih ada, dua puluh tiga—tidak, lebih, jauh lebih tua dari dua puluh tiga—tahun debu. Tapi udaranya hidup dengan cara yang salah, padat, seakan ruang itu sendiri bernapas. Di ujung koridor, kamar paling ujung, pintu tempat Asti dulu menyerah, terbuka lebar. Dan di baliknya, di tempat dulu hanya ada dinding, kini ada lubang gelap menganga—pintu menuju ruang yang tak ada di denah mana pun. Ruang di balik dinding. Jantung tempat ini.
Bayu berdiri di ambang koridor, senter gemetar di tangannya, dan untuk sesaat ia hampir berbalik. Lalu ia teringat pesan di debu, tulisan jari Sena yang sudah lama terhapus tapi ia hafal kata demi kata. Pulanglah utuh. Dan ia mengerti, akhirnya, bahwa pulang utuh kali ini bukan sekadar selamat. Pulang utuh berarti tidak meninggalkan satu pun nama tertinggal di atas sini lagi. Termasuk nama-nama yang sudah mati.
"Ayo," katanya. "Sampai ke ujung. Bareng-bareng."