Mereka mengumpulkan segalanya di ruang makan staf, satu-satunya ruangan yang lorongnya belum memanjang. Bukti dua dekade, ditumpuk di atas meja panjang seperti tubuh-tubuh yang dibariskan untuk dikenali. Surat-surat Asti yang tak pernah terkirim. Catatan pendiri tentang "keunggulan dengan segala cara". Denah lama yang menunjukkan ruang yang hilang. Daftar nama—mereka tak punya buku aslinya lagi, sudah jadi abu, tapi Indah telah menyalin setiap nama yang ia bisa ingat dan baca, halaman demi halaman, dengan tangannya sendiri.
"Aku ingat hampir semuanya," kata Indah pelan. Gadis itu duduk di sudut, lebih kurus daripada saat ia pertama "menyala" kembali, tapi matanya tajam sekarang. Ingatan masa kosongnya telah pulih, dan pulihnya itu menyakitkan. "Waktu aku di sana—waktu aku diisi—aku dengar nama-nama itu disebut. Berkali-kali. Mereka mencatatnya supaya tidak lupa siapa yang sudah diberikan. Aku menyimpannya di kepalaku tanpa tahu kenapa. Sekarang aku tahu kenapa."
Bayu memandangi salinan itu. Tulisan tangan Indah rapat dan miring. Nama demi nama, dan di sebelah sebagian besar, kata kecil: selesai. Tapi ia tahu sekarang—mereka semua tahu—bahwa "selesai" tidak berarti pulang. Sebagian besar nama itu adalah alumni yang berjalan di dunia luar sebagai cangkang, menikah, bekerja, punya anak, tak pernah benar-benar utuh. Dan sebagian, sisanya, pecahan yang tak pernah kembali ke pemiliknya, telah mengendap di lantai tiga selama puluhan tahun menjadi sesuatu yang tanpa nama.
"Kunci Pak Wiyono," kata Reza, dan ia mengeluarkannya dari saku dadanya, di mana ia menyimpannya sejak petugas tua itu mati. Sebuah kunci besi tua, dan secarik kertas dengan tulisan tangan gemetar: cara menutup dari dalam, bukan mengurung. Pak Wiyono telah membayar nyawanya untuk membuka jalan ini. Reza menggenggamnya sampai buku-buku jarinya memutih. "Dia bilang ini bukan buat ngunci lagi. Ini buat ngakhirin. Tapi dia nggak sempat jelasin gimana."
"Kita yang harus mencari tahu gimana," kata Bu Sari. "Di atas. Di ruang itu."
Mereka berbagi tugas dengan suara rendah, seperti orang yang menyusun rencana di samping ranjang orang sakit. Bayu, Reza, Dani—naik. Mereka yang paling tahu lantai tiga, yang tubuhnya pernah dipanggil ke sana, yang punya semacam ikatan menyakitkan dengan tempat itu. Indah ikut, membawa salinan nama, karena ia satu-satunya yang melihat ruang dalam itu dengan mata sendiri. Bu Marni dan Bu Sari menebus dengan cara mereka sendiri: naik bersama, menanggung apa pun yang ia tuntut sebagai harga atas dua puluh tahun memilihkan anak-anak untuk dilahap.
"Dan kalau aku tidak turun," kata Bu Marni, sambil melipat surat Asti dan menyelipkannya ke saku, "biarkan saja. Aku sudah lama berutang pada tempat ini. Bukan pada gedungnya. Pada anak-anak yang kukirim ke atas." Ia menatap Bayu lurus. "Termasuk kamu, Bayu. Aku yang menulis namamu. Aku tidak akan minta kau memaafkan. Aku hanya akan naik di belakangmu, dan kalau dibutuhkan, aku yang tinggal."
Bayu tidak menjawab. Ia tidak tahu cara menjawab itu.
Mbak Laras menunggu di gerbang, di luar pagar cemara, dengan kameranya dan rekamannya dan semua bukti yang mereka selundupkan keluar. Pak Hartono telah mencoba mengisolasi asrama, memutus komunikasi, tapi badai musim itu menumbangkan satu pohon cemara tepat ke kabel, dan tanpa sengaja—atau mungkin tidak tanpa sengaja, mungkin tanah ini ingin saksi, mungkin tanah ini terlalu sombong untuk takut—garis telepon Laras justru hidup. Kebenaran sudah setengah jalan keluar gerbang. Yang tersisa hanya satu: mengakhiri yang di dalam.
Pukul sepuluh malam, lampu padam dari pusat seperti biasa. Tapi malam ini berbeda. Malam ini, alih-alih menunggu pukul tiga datang ke mereka, mereka berkumpul di kaki tangga jeruji lantai tiga, lima orang dan dua pengasuh, dan Bayu memegang kunci tua Pak Wiyono di tangannya yang dingin.
Pintu jeruji itu, yang sejak pagi Sena dibiarkan terbuka, kini tertutup rapat. Terkunci sendiri. Memanggil.
Bayu memasukkan kunci. Tangga di balik jeruji itu lebih panjang dari yang ia ingat, memanjang ke atas ke dalam gelap yang tak ada habisnya. Ia menelan ludah, menoleh ke teman-temannya, lalu memutar kunci.