Abu buku PERSEMBAHAN masih melayang turun di lantai aula ketika Bayu merasakan kelegaan itu. Nama-nama yang menghitam dan menggulung di atas meja samping mimbar, puluhan nama, dua dekade nama, kini hanya serpih hitam di hadapan ratusan saksi. Untuk sesaat, ia merasa lega. Lega yang ternyata terlalu cepat.
Karena pada detik halaman terakhir terbakar habis, asrama Wirautama berderik. Bukan satu papan kayu. Seluruh gedung, sekaligus, seperti tulang punggung makhluk besar yang menggeliat dalam tidur. Bara terakhir di atas meja itu padam sendiri, apinya tersedot ke dalam seakan ada yang menelannya. Dan udara, di tengah hari bolong, mendadak dingin.
"Keluar dari aula," kata Bu Marni, suaranya pecah. "Semua, menjauh dari tangga. Sekarang."
Tapi tak ada yang sempat. Karena dari dalam gedung, jelas dan keras di siang hari yang seharusnya aman, terdengar bunyi yang seharusnya hanya milik pukul tiga dini hari.
Tuk.
Bayu membeku. Reza, di sampingnya, mencengkeram lengannya sampai sakit. "Itu nggak mungkin," bisik Reza. "Ini siang. Jam dua belas. Itu nggak—"
Tuk. Tuk.
Langkah-langkah itu, di lantai tiga, di tengah cahaya matahari. Bukan sabar, bukan lembut seperti dulu suara Asti. Ini berat, banyak, seperti puluhan kaki menapak bersamaan dan gagal menyatu jadi satu irama. Para saksi—murid-murid, dua-tiga guru yang akhirnya bicara—berhamburan keluar aula ke halaman, wajah pucat menengadah ke jendela lantai tiga. Tirai-tirai gelap yang sejak pagi itu Sena buka, kini bergerak. Menutup sendiri. Satu per satu, dari kamar ujung ke ujung, cahaya dipadamkan dari dalam.
"Ia marah," kata Bu Sari, dan ia bukan bicara tentang Asti. Asti sudah tidur. Ini yang lain. "Kita mengambil bukunya. Kita mengambil makanannya. Sekarang ia bangun."
Bayu menelan rasa kering di tenggorokannya. Selama berbulan-bulan mereka menelusuri akar, ruang di balik dinding, surat-surat yang tak terkirim, nama-nama yang dicoret. Selama berbulan-bulan ia menyangka bahwa membongkar kebenaran sudah cukup. Bahwa keberanian sudah cukup. Tapi tanah ini tidak takut pada keberanian. Tanah ini hanya tahu satu hal selama puluhan tahun: diberi makan. Dan kini ia lapar, dan tak ada lagi yang menyumpalnya.
Dani datang berlari dari sayap timur, napas tersengal. "Lorongnya," ia tergagap. "Koridor lantai dua. Aku baru lewat. Panjangnya—Bay, panjangnya berubah. Aku jalan dari kamar ke tangga, harusnya dua belas langkah. Aku hitung empat puluh dan belum sampai. Aku balik lari sebelum—"
"Sebelum apa," desak Reza.
"Sebelum aku dengar namaku dari ujung yang nggak ada habisnya."
Mereka semua diam. Di atas, langkah-langkah itu berhenti. Dan dalam hening yang lebih buruk daripada bunyi apa pun, gedung Wirautama seakan menahan napas bersama mereka. Bu Marni meraih tangan Bayu, menggenggamnya seperti seorang ibu yang dua puluh tiga tahun terlambat. Telapaknya gemetar.
"Kita tidak bisa lari lagi," katanya pelan. "Kalau kita lari, ia akan turun mencari, seperti dulu. Ke lantai dua. Ke kamar-kamar. Ke siapa pun yang tersisa." Ia menatap anak-anak satu per satu, mata basah di balik kacamatanya. "Kita memulai ini dengan membakar bukunya di siang hari. Kita harus mengakhirinya juga. Di tempatnya. Di atas."
Bayu menengadah ke jendela lantai tiga yang kini gelap kembali, semua tirainya tertutup, dan ia merasakannya—bukan sosok, bukan wajah, hanya tekanan, seperti dipandangi oleh ruang kosong yang tahu betul siapa dirinya, tahu setiap kegagalannya, setiap malam ia merasa tak cukup. Tanah ini marah. Dan amarahnya tahu nama mereka semua.
"Malam ini," kata Bayu, dan suaranya tidak gemetar, meski seluruh tubuhnya gemetar. "Sebelum pukul tiga datang dengan caranya sendiri, kita yang naik lebih dulu."