Mereka memilih aula lagi, dan mereka memilih siang hari penuh.
Bu Marni berdiri di mimbar tempat Pak Hartono biasa berdiri, dan untuk sesaat tangannya gemetar begitu hebat sampai Bu Sari harus menopang sikunya. Di hadapan mereka, aula penuh — bukan hanya murid, tapi sebagian staf, sebagian guru, dan di barisan paling belakang, basah kuyup dan berlumpur karena memanjat melewati pohon tumbang untuk masuk, berdiri Mbak Laras dengan ponsel di tangan, merekam. Pak Hartono mencoba menghentikan ini sejak tadi pagi, tapi berita sudah punya kaki, dan terlalu banyak mata sudah terbuka untuk dipejamkan lagi dengan satu perintah.
Di atas meja di samping mimbar, terbuka di hadapan semua orang, tergeletak buku bersampul kulit itu. Buku yang selama dua dekade disembunyikan di kantor pengasuh. Buku dengan satu kata di halaman tertentu yang membuat ratusan napas tertahan ketika Dani membacanya keras-keras: PERSEMBAHAN.
"Nama saya Marni," kata Bu Marni, dan suaranya, walau gemetar, sampai ke sudut terjauh aula. "Selama dua puluh tahun saya pengasuh di asrama ini. Dan selama dua puluh tahun, saya yang menulis nama-nama di buku ini. Saya yang memilih anak mana yang akan 'sakit'. Saya yang membawa kalian minum 'vitamin'. Saya yang berkata pada diri saya bahwa saya menjaga keseimbangan, menyelamatkan yang banyak dengan mengorbankan yang sedikit." Ia berhenti, menelan, dan air mata yang ia tahan sekian lama akhirnya jatuh. "Saya salah. Tidak ada keseimbangan dalam mengorbankan anak. Itu cuma kata bagus untuk kejahatan yang dilakukan pelan-pelan supaya tidak terasa seperti kejahatan."
Aula sunyi total. Bahkan badai semalam tak meninggalkan keheningan sepekat ini.
"Saya tidak bisa mengembalikan yang sudah hilang," lanjut Bu Marni. "Saya tidak bisa mengembalikan Asti Wulandari, yang diforsir sampai retak dan dibiarkan di atas dua puluh tiga tahun. Saya tidak bisa mengembalikan Sena Aditama, yang naik supaya kalian semua bisa turun. Saya tidak bisa mengembalikan bulan-bulan yang dicuri dari ratusan anak di ruangan ini." Ia mengangkat buku kulit itu tinggi-tinggi dengan dua tangan, supaya semua orang melihat. "Tapi saya bisa menolak meneruskannya. Hari ini. Di depan kalian semua. Supaya tidak ada yang bisa bilang ini cuma kata-kata."
Pak Hartono bangkit dari kursinya di tepi aula. "Marni, ini bunuh diri profesional, ini—"
"Duduk, Pak Hartono." Itu suara Bu Sari, dingin dan tegas, dan untuk pertama kalinya kepala asrama itu tak punya jawaban. Di belakang, Laras memutar ponselnya ke arah Pak Hartono, dan lelaki itu, sadar sedang direkam, sadar ratusan saksi menatapnya, perlahan duduk kembali. Kuasanya, yang selama ini terbuat dari kegelapan dan kebungkaman, runtuh sedikit demi sedikit di bawah cahaya siang yang masuk lewat jendela aula.
Bu Marni meletakkan buku itu di meja. Bu Sari menyalakan korek api.
Mereka membakarnya bersama — empat tangan di atas satu nyala. Halaman-halaman dengan ratusan nama, dengan kata "selesai" di samping yang dicoret, dengan tinta dua dekade pengasuh yang berganti-ganti, semua menggulung jadi hitam dan abu. Asap tipis naik ke langit-langit aula. Beberapa anak menangis. Beberapa bersorak pelan, ragu, lalu lebih keras. Indah, di barisan depan, menggenggam cincin plastiknya dan tersenyum lewat air mata.
Bayu menatap api itu dari samping mimbar, dan ia tahu ini bukan akhir — ini permulaan dari akhir. Membakar buku tidak akan langsung memadamkan yang lapar di atas sana. Justru sebaliknya. Memutus perjanjian secara terbuka, menolak memberi makan, mencabut sistem yang menahannya tetap "tenang" selama ini — itu seperti mencabut sumbat dari sesuatu yang sudah lama bertekanan. Ia merasakannya bahkan saat abu masih melayang: suhu di aula turun beberapa derajat, walau matahari bersinar penuh. Dan jauh di atas, dua lantai di atas kepala mereka, di balik dinding sebuah kamar yang tak ada di denah mana pun, sesuatu yang tanpa nama merasakan tangan yang memberinya makan akhirnya menarik diri.
Sesuatu yang tanpa nama, untuk pertama kalinya dalam dua puluh tiga tahun, menjadi marah.
Bayu menggenggam kunci besi Pak Wiyono di sakunya, terasa dingin di telapaknya. Malam puncak datang lebih cepat dari yang mereka rencanakan. Ia bisa merasakannya di tulangnya, sama seperti dulu ia merasakan langkah pertama Asti. Tempat ini tidak akan menyerah dengan tenang. Tapi kali ini, untuk pertama kalinya, mereka tidak menghadapinya sendiri-sendiri — dan tidak satu pun dari mereka berniat tinggal di atas.