Mereka berkumpul malam itu di kamar 207 — bukan hanya bertiga. Indah datang, membawa ingatan yang sudah ia susun jadi peta. Bu Sari datang. Dan Bu Marni, untuk pertama kalinya, datang ke kamar murid bukan sebagai pengasuh yang mengawasi, melainkan sebagai seseorang yang ingin menebus, duduk di tepi ranjang dengan tangan terlipat seperti orang berdoa atau memohon ampun.
"Seseorang harus naik," kata Bayu, membuka. Ia meletakkan kunci besi Pak Wiyono di tengah meja, dan semua mata tertuju ke benda berkarat itu. "Tapi kali ini bukan untuk menemani. Bukan untuk menyerahkan diri. Untuk membongkar dan memutus, lalu turun. Kita tidak akan tinggalkan siapa pun di atas. Itu syaratnya. Kalau rencananya tidak menjamin orang itu bisa turun, kita tidak pakai rencana itu."
"Aku yang naik," kata Bayu sebelum siapa pun bisa bicara. "Aku yang paling tahu tempat itu. Aku pernah diisi. Aku tahu rasanya dipanggil. Aku punya kekebalan yang kalian tidak—"
"Justru itu masalahnya." Dani memotong, tajam tapi tidak kasar. "Kamu pernah diisi, Bay. Itu artinya ada celah di dalam dirimu yang sudah pernah dimasuki. Yang tanpa nama menyerang lewat luka. Lukamu yang paling besar. Dari kita semua, kamu yang paling rentan ditarik kembali, bukan paling kuat." Ia menatap Bayu lurus. "Aku tidak akan biarkan kamu naik sendiri. Itu bukan keberanian. Itu mengulang persis yang kita coba hentikan — satu anak naik sendirian menanggung semuanya."
Hening sejenak. Lalu Indah bicara pelan. "Aku ingat jalannya. Lewat mana pintu di balik dinding dibuka, di mana engselnya, bagaimana cara masuk tanpa membangunkan yang lain. Kalau ada yang naik, harus ada aku yang menunjukkan jalan. Tapi aku tidak bisa masuk ke ruang dalam — ingatanku tidak akan tahan. Aku akan tunggu di kamar ujung, jadi penanda jalan keluar."
Perlahan rencana itu terbentuk, dipotong dan disusun ulang berkali-kali sampai lewat tengah malam. Mereka tidak akan menemani yang tanpa nama, karena ia tak punya kisah untuk didengar. Mereka akan melucutinya — dengan menyebut setiap nama korban yang pernah diberikan padanya, mengembalikan kisah pada kelaparan yang tak punya identitas, mengubah pakan menjadi kesaksian. Lalu, saat ia paling lemah, satu orang akan memutar kunci Pak Wiyono dari dalam, menutup mulut tempat ini, dan keluar sebelum putaran terakhir.
"Tapi memutuskan satu rantai tidak cukup," kata Bu Marni tiba-tiba. Suaranya parau, seperti tak terbiasa lagi mengeluarkan kebenaran. Semua menoleh. "Kalian bisa menutup pintu di atas. Tapi selama buku itu masih ada — selama sistem 'persembahan' masih punya bentuk, masih bisa diteruskan orang lain seperti Pak Hartono — tempat ini akan menumbuhkan mulut baru. Aku tahu, karena aku yang merawat sistem itu selama dua puluh tahun." Ia mengangkat wajahnya, dan air mata menggenang tapi tak jatuh. "Kalian urus yang di atas. Aku dan Bu Sari urus yang di bawah. Akarnya bukan cuma hantu di lantai tiga. Akarnya adalah keputusan manusia yang menulis nama anak di buku itu. Dan keputusan itu harus dicabut juga, terang-terangan, oleh tangan yang dulu menulisnya."
Bayu menatap perempuan yang dulu menyerahkan dirinya ke kegelapan, perempuan yang namanya ada di mimpi buruknya selama berbulan-bulan. Ia merasakan amarah lama, dan di bawah amarah itu, sesuatu yang lebih sulit: pengakuan bahwa untuk memutus rantai, mereka butuh tangan yang dulu menempanya untuk berbalik menghancurkannya.
"Baik," kata Bayu akhirnya. "Kita bagi dua. Kami naik. Ibu berdua cabut perjanjiannya dari bawah. Malam yang sama, supaya tempat ini tidak sempat memilih mana yang akan dilawan." Ia menggenggam kunci besi itu. "Tidak ada lagi yang tertinggal di atas. Tidak Sena, tidak Asti, tidak siapa pun. Kali ini, semua yang naik, turun."
Tak seorang pun mengatakannya, tapi semua memikirkannya: rencana selalu lebih rapi di atas kertas daripada di pukul tiga.