Pak Wiyono sudah tiada. Ia gugur beberapa minggu lalu, membuka jalan yang ia sendiri kunci dua puluh tiga tahun lampau — sebuah kematian yang tetap mati, yang masih membekas di dada Bayu setiap kali ia melewati perpustakaan yang kini ditugaskan pada orang lain. Tapi petugas tua itu meninggalkan sesuatu.
Bu Sari yang membawanya. Ia menemui ketiga anak itu diam-diam di gudang belakang dapur, sehari setelah Reza nyaris tertarik, dan mengeluarkan sebuah bungkusan kain dari balik mantelnya. "Pak Wiyono menitipkan ini pada saya sebelum dia pergi," katanya pelan. "Dia bilang, kalau suatu hari anak-anak yang membebaskan Asti datang mencari cara mengakhiri, bukan sekadar membungkam — berikan ini pada mereka. Saya simpan sampai sekarang karena saya tidak yakin kalian sudah siap. Setelah malam badai itu, saya rasa tidak ada lagi waktu untuk menunggu siap."
Di dalam kain, sebuah kunci besi tua yang berat, berkarat di gerigi, dengan kepala kunci berbentuk lingkaran. Dan bersamanya, lembaran kertas yang dilipat berkali-kali, ditulis dengan tangan gemetar Pak Wiyono di hari-hari terakhirnya.
Bayu membuka surat itu. Tulisannya susah dibaca, melompat-lompat, kalimat orang yang berpacu dengan waktu dan rasa bersalah.
Kunci ini bukan untuk pintu jeruji, tulis Pak Wiyono. Pintu jeruji itu cuma tipuan, untuk mata orang. Kunci ini untuk pintu di balik dinding kamar ujung lantai tiga. Ruang yang tidak ada di denah mana pun. Dua puluh tiga tahun lalu, saya bukan hanya mengunci tangga. Kepala asrama lama, Pak Broto, menyuruh saya menutup ruang itu juga, dengan kunci ini, setelah mereka memasukkan sesuatu ke dalamnya. Saya tidak melihat apa. Saya tidak mau melihat. Saya cuma memutar kunci dan lari, dan saya tidak pernah berhenti lari sejak itu.
Dani membaca dari balik bahu Bayu, wajahnya pucat. Reza, masih lemah dari kemarin, mendekat juga.
Mereka memberi makan dengan membuka ruang itu sedikit, lanjut surat itu. Setiap kali ada persembahan, pintu dibuka secelah, isi anak dimasukkan, lalu ditutup lagi. Itu sebabnya yang di dalam tidak pernah benar-benar kenyang dan tidak pernah benar-benar bebas. Mereka menjaganya tetap lapar supaya tetap bergantung, supaya tetap memilih anak terbaik tahun demi tahun. Asti hanya yang paling dekat ke pintu jeruji, yang paling sering memanggil, makanya kalian kira dia jantungnya. Dia bukan. Dia korban pertama yang isinya cukup utuh untuk masih punya nama.
Bayu menelan ludah. "Lalu kunci ini untuk apa? Membuka, atau mengunci?"
Untuk menutup dari dalam, tulis Pak Wiyono di baris terakhir, lebih besar, seperti ia menekan pena dengan seluruh sisa tenaganya. Bukan mengurung lagi. Mengurung tidak pernah mengakhiri apa pun, cuma menunda. Kunci ini, kalau diputar dari sisi dalam ruang, sambil yang di dalam dihadapkan pada semua nama yang pernah diberikan padanya — akan menutup mulut tempat ini selamanya. Bukan menahan makanan masuk. Memutus rasa laparnya. Tapi seseorang harus berada di dalam saat pintu ditutup. Dan saya tidak tahu apakah orang itu bisa keluar. Saya minta maaf. Saya tidak punya jawaban yang lebih baik. Saya cuma punya kunci yang seharusnya saya pakai dua puluh tiga tahun lalu, sebelum semua anak itu.
Keempatnya terdiam di gudang yang remang. Hujan rintik di atap seng. Reza memegang kunci besi itu, merasakan beratnya, beratnya yang lebih dari sekadar logam. "Seseorang harus di dalam," ulangnya pelan.
"Tapi tidak harus tinggal di dalam selamanya," kata Bayu cepat, hampir keras kepala. "Sena naik karena Asti butuh ditemani. Yang ini berbeda. Yang ini tidak butuh teman, dia harus dihentikan. Caranya beda — dan kalau caranya beda, mungkin akhirnya juga bisa beda. Mungkin orang yang menutup pintu bisa keluar sebelum putaran terakhir." Ia menatap surat itu lagi. "Kita tidak akan ulangi yang sama. Kita tidak akan kehilangan siapa pun lagi kalau kita rencanakan dengan benar."
Bu Sari memandangi ketiga anak itu, dan ada sesuatu yang luruh di matanya — kelegaan dan ketakutan sekaligus. "Pak Wiyono percaya pada kalian," katanya. "Sampai akhir, dia percaya kalian yang akan menutup pintu yang dia tinggalkan terbuka." Ia menutup kembali kain itu di tangan Reza. "Sekarang giliran kalian memutuskan: siapa yang naik, dan bagaimana caranya turun lagi."