Pagi setelah badai datang abu-abu dan basah. Pohon cemara yang tumbang menutup jalan; tak ada bus, tak ada akses keluar. Asrama seperti pulau. Tapi mereka punya pekerjaan, dan Bayu memutuskan mereka akan menggunakan kekacauan ini — selagi para pengasuh sibuk dan Pak Hartono mengurus jalan yang tertutup — untuk turun ke arsip bawah tanah dan mengambil sisa dokumen sebelum dimusnahkan.
Mereka tak menduga yang tanpa nama akan mengikuti mereka turun.
Arsip bawah tanah lembap dan gelap, hanya diterangi senter. Dani menyisir lemari berdebu mencari catatan pendiri; Bayu memilah map; Reza berjaga di tangga. Mereka bekerja cepat, berbisik. Lalu Reza merasakan suhu turun, dan bau bunga busuk itu — di sini, di bawah tanah, jauh dari lantai tiga, di tempat yang seharusnya tak terjangkau.
"Bay," panggil Reza pelan, suaranya aneh. "Aku... aku tidak enak."
Bayu menoleh dan jantungnya mencelos. Reza berdiri di kaki tangga, dan matanya — matanya mulai berubah, tirai mulai turun, cara yang Bayu kenali terlalu baik dari cermin masa lalunya sendiri. "Reza, lihat aku. Tetap lihat aku." Bayu bergerak cepat ke arahnya. "Apa yang kamu dengar?"
"Bukan dengar," bisik Reza, dan air mata mengalir tanpa ia sadari. "Aku cuma... aku ingat semua kali aku gagal. Semua. Bertumpuk. Aku merasa kalau aku menghilang, tidak ada yang akan benar-benar kehilangan. Dani lebih pintar. Kamu lebih berani. Aku cuma yang ceria. Yang ramai. Yang bisa diganti." Suaranya pecah. "Kenapa aku merasa begini, Bay? Kenapa rasanya benar?"
Dani sudah di sisi lain, mencengkeram lengan Reza. "Itu bukan kamu. Itu dia, Za. Dia masuk lewat hal yang paling kamu takutkan. Lawan."
Tapi yang tanpa nama tahu persis luka mana yang harus ditekan. Reza selama ini menyembunyikan kecemasan di balik tawa; ia anak yang paling sering bangun berkeringat dingin, paling takut tidak cukup, dan kelaparan itu menemukan celah itu dan menuangkan dirinya ke dalam. Kaki Reza mulai bergerak — bukan ke arah tangga keluar, melainkan ke sudut gelap arsip, ke pintu kecil di dinding belakang yang sebelumnya tak mereka sadari ada, pintu yang berhembus bau bunga busuk dari celahnya.
"Reza, JANGAN!" Bayu menubruknya, menahannya dengan seluruh berat tubuhnya, dan Dani ikut. Mereka berdua menariknya menjauh dari pintu kecil itu, dan Reza melawan — bukan melawan mereka, tapi melawan dirinya sendiri, tangannya mengulur ke pintu sementara mulutnya berkata "lepaskan aku, lepaskan, di sana lebih tenang—" dengan suara yang separuh miliknya dan separuh hampa.
Bayu melakukan satu-satunya hal yang ia tahu berhasil. Ia tidak berteriak melawan. Ia memeluk Reza erat-erat, menempelkan mulutnya ke telinga temannya, dan menyebut hal-hal yang nyata. "Reza Mahendra. Kamu yang menyambutku waktu aku masih kosong. Kamu yang melempar bantal ke muka Sena hari pertama. Kamu yang nangis paling keras waktu kita pikir kita kehilangan satu sama lain. Kamu tidak bisa diganti. Aku tidak akan bisa melewati semua ini tanpa kamu. Dengar aku. Kamu nyata. Yang di pintu itu bohong."
Reza menggigil hebat, lalu mengerang, lalu tubuhnya melemas. Mereka bertiga jatuh ke lantai arsip yang dingin. Untuk beberapa detik mengerikan, mata Reza tetap kosong. Lalu, perlahan, tirai itu naik kembali. Air mata mengalir — air matanya sendiri kali ini, penuh, hidup. "Aku... aku hampir," bisiknya parau. "Aku hampir masuk."
"Tapi kamu tidak," kata Dani, suaranya gemetar untuk pertama kali sejak lama. "Kamu di sini."
Bayu menatap pintu kecil di dinding belakang, yang kini diam dan tertutup, baunya memudar. Ia tahu sekarang. Yang tanpa nama tidak terkurung di lantai tiga. Akarnya menjalar ke bawah, ke seluruh tubuh asrama, dan pintu kecil di arsip ini hanyalah satu mulut dari banyak mulut. Reza bertahan — taruhannya nyata, harganya nyata, tapi ia bertahan. Lain kali mereka mungkin tak seberuntung itu.
Mereka memapah Reza naik ke permukaan, ke cahaya kelabu. Tak satu pun bicara. Tapi semuanya tahu: waktu mereka makin habis, dan tempat ini sudah mulai mengambil dari dalam lingkaran mereka sendiri.