Laras tak sempat masuk lewat pintu dapur malam itu. Badai datang lebih dulu.
Sejak senja, angin menampar barisan cemara sampai berderak, dan listrik asrama padam pukul setengah tujuh, jauh sebelum lampu biasa dimatikan. Genset tua menyala dengan dengung lemah, hanya cukup untuk menerangi koridor utama dengan cahaya kuning yang gemetar. Bu Sari tak bisa membuka pintu samping; Pak Hartono memerintahkan semua pintu luar dikunci "selama cuaca buruk". Laras terjebak di pos satpam di kaki bukit, dan asrama, untuk satu malam lagi, tertutup rapat dari dunia.
Di kamar 207, Bayu, Reza, dan Dani tidak tidur. Mereka duduk mengelilingi satu senter, dan udara terasa salah. Bukan karena badai. Sesuatu yang lebih halus. Suhu turun terus walau jendela tertutup. Bau samar bunga yang sudah terlalu lama dipotong mulai meresap masuk, bau yang tak pernah benar-benar hilang dari ingatan Bayu, bau yang ia harap takkan pernah ia cium lagi.
"Ini berbeda," bisik Bayu, menatap langit-langit. "Waktu Asti, suaranya satu. Memanggil satu nama. Ini..." Ia memiringkan kepala, mendengarkan sesuatu yang lain. "Ini tidak memanggil dengan suara."
Reza memeluk lututnya. "Kamu rasa apa, Bay?"
"Aku rasa gagal," kata Bayu pelan, dan suaranya bergetar. "Tiba-tiba. Seolah semua yang kulakukan beberapa bulan ini sia-sia. Seolah Sena naik untuk tidak ada gunanya. Aku tahu itu tidak benar, tapi rasanya..." Ia menutup mata. "Rasanya nyata. Seperti ada yang menuangkannya ke dalam kepalaku."
Dani, yang biasanya paling tenang, tiba-tiba menggosok pelipisnya. "Aku juga merasa sesuatu," katanya, suaranya datar dengan cara yang mengkhawatirkan. "Aku merasa kalau aku tidak naik kelas dengan peringkat satu, hidupku tidak berarti. Aku tahu itu konyol. Aku tahu itu bukan pikiranku. Tapi rasanya seperti kebenaran." Ia menatap kedua temannya, dan ada ketakutan asli di matanya. "Ini yang menyerang. Bukan telinga kita. Bukan suara. Dia menyerang lewat luka kita masing-masing. Dia menemukan hal yang paling kita takutkan tentang diri sendiri dan membesar-besarkannya."
Mereka mengerti, hampir bersamaan, betapa berbahayanya yang ini. Asti bisa dilawan dengan nama, dengan pengakuan, dengan ditemani — karena Asti punya kisah. Tapi yang tanpa nama ini tidak butuh dibujuk. Ia tidak menawarkan kedamaian. Ia hanya membuat seorang anak merasa cukup gagal, cukup tertekan, cukup sendirian, sampai anak itu sendiri yang berjalan ke tangga.
Di luar, badai mengamuk. Satu pohon cemara tua tumbang dengan suara berderak panjang, jatuh melintang menutup sebagian jalan turun bukit. Asrama makin terkurung. Dan jauh di atas, di lantai tiga, sebuah pintu jeruji yang sudah berbulan-bulan dibiarkan terbuka — bergeser pelan, sendiri, dengan derit yang melawan arah angin, dan menutup. Klik. Pelan. Final.
Bayu mendengarnya bahkan dari dua lantai di bawah. Ia tahu apa artinya. Pintu itu tidak menutup untuk mengurung. Pintu itu menutup karena, untuk pertama kalinya sejak Sena pergi, sesuatu di atas sana memutuskan ia sudah siap memanggil lagi.
"Besok," bisik Bayu, lebih pada dirinya sendiri daripada yang lain, "kalau kita sampai besok, semuanya terbongkar. Laras di kaki bukit. Indah ingat. Bu Sari di pihak kita." Ia mencengkeram senter erat-erat, melawan suara di kepalanya yang berkata kalau semua usahamu sia-sia. "Yang di atas tahu itu. Dia tahu waktunya hampir habis. Makanya dia menyerang malam ini. Sebelum terang."
Tak satu pun dari mereka tidur sampai pagi. Mereka bergiliran berjaga, saling mengingatkan setiap kali salah satu mulai terlalu lama menatap pintu, terlalu lama mendengarkan suara dalam kepalanya sendiri. Pukul tiga datang dan lewat dalam keheningan yang berdenyut. Tapi ketiganya selamat sampai fajar — bergandengan, dalam arti yang sebenarnya, tiga anak yang menolak membiarkan satu pun dari mereka berjalan sendirian menuju tangga.