Laras sudah berdiri di gerbang besi tinggi Asrama Wirautama selama dua puluh menit ketika hujan mulai turun. Ia mengangkat kerah jaketnya, memandangi bangunan tiga lantai di puncak bukit lewat jeruji gerbang, dan untuk kesekian kali memeriksa map di tasnya: kliping berita lama, daftar nama murid yang "pindah" tanpa jejak selama dua dekade, dan satu pesan yang masuk ke ponselnya tiga hari lalu dari nomor tak dikenal. Tiga foto. Halaman buku bersampul kulit dengan judul satu kata: PERSEMBAHAN. Lalu nomor itu mati, seakan tangan yang mengirimnya buru-buru menariknya kembali.
Selama berbulan-bulan ia mengendus pola ini dari luar — angka-angka yang janggal, surat pindah yang tak pernah sampai ke sekolah mana pun, orang tua yang menerima anak pulang dalam keadaan "berbeda" dan terlalu malu atau terlalu takut untuk bicara. Tapi tembok asrama ini tinggi, dan setiap kali ia menelepon, jawabannya seragam dan sopan dan kosong. Hari ini ia memutuskan datang langsung.
Penjaga gerbang menolaknya, tentu. "Tidak ada tamu tanpa janji. Aturan asrama." Laras tersenyum, mencatat namanya, dan tidak pergi. Ia berdiri di sana, basah, sampai seorang pengasuh putri turun dari gedung dengan payung — bukan untuk mengusirnya, ia segera sadar, melainkan dengan langkah seseorang yang punya niat lain.
"Mbak wartawan?" tanya perempuan itu pelan, setelah memastikan penjaga gerbang tak mendengar. Wajahnya tegang, matanya menyapu sekeliling. "Saya Bu Sari. Pengasuh putri." Ia menelan ludah. "Saya tidak punya banyak waktu. Pak Hartono membatasi semua komunikasi keluar mulai malam ini. Telepon, internet, semua. Dia bilang demi keamanan. Tapi itu untuk membungkam, bukan melindungi."
Laras mengeluarkan ponselnya pelan-pelan, tidak merekam dulu, hanya menunjukkan ketiga foto yang ia terima. "Saya menerima ini. Buku ini nyata?"
Bu Sari memandangi foto-foto itu lama, dan sesuatu di wajahnya runtuh. "Nyata," bisiknya. "Saya sudah bertahun-tahun pura-pura tidak tahu. Saya bilang pada diri saya itu bukan urusan saya, itu tradisi lama, anak-anak baik-baik saja. Tapi ada anak-anak yang naik dan tidak pernah benar-benar turun." Ia menatap Laras lurus. "Beberapa bulan lalu, semuanya berubah. Seorang murid bernama Sena naik dan menghentikannya — entah bagaimana. Untuk pertama kalinya dalam dua puluh tiga tahun, asrama ini hening di pukul tiga. Saya kira itu selesai. Tapi tidak. Ada yang lain di sana sekarang. Sesuatu yang lebih lapar dan tidak punya nama. Dan Pak Hartono mau menutup semuanya rapat-rapat sebelum dunia luar tahu."
Hujan turun lebih deras. Laras menyeka air dari layar ponselnya. "Kenapa Ibu bicara pada saya? Ibu bisa kehilangan pekerjaan. Lebih buruk."
Bu Sari tersenyum getir, dan untuk sesaat ia tampak jauh lebih tua dari usianya. "Karena ada perempuan lain di dalam yang lebih dulu memutuskan untuk menebus. Namanya Bu Marni. Dia sudah dua dekade jadi tangan kanan sistem ini, dan dia yang paling banyak menyerahkan anak. Kalau dia bisa berbalik, saya tidak punya alasan untuk terus pengecut." Ia mendongak ke gedung di puncak bukit, ke jajaran jendela lantai tiga yang tirainya — Laras baru menyadari — tidak lagi semuanya gelap. Satu tirai terbuka. "Masuklah, Mbak. Lewat pintu samping dapur, pukul tujuh, saat pergantian jaga. Saya bukakan. Tapi siapkan diri Mbak. Tempat ini tidak suka pintunya dibuka." Ia menutup payung, membiarkan hujan membasahinya, seakan tak peduli lagi. "Dan kali ini, saya rasa, tempat ini akan melawan."