Pertarungan bergeser. Itu yang Dani sadari malam itu, duduk di kantor Pak Hartono dengan dua temannya, lampu meja menyorot tajam ke wajah mereka. Selama berbulan-bulan musuh mereka adalah sesuatu yang gaib, sesuatu di lantai tiga yang memanggil di pukul tiga. Sekarang musuh mereka memakai kemeja rapi, duduk di kursi kulit, dan memegang sesuatu yang jauh lebih biasa tapi tak kalah berbahaya: kuasa.
"Kalian tahu apa yang baru saja kalian lakukan tadi pagi?" Pak Hartono bicara pelan, hampir lembut, dan itu lebih menakutkan daripada bila ia berteriak. Ia menggeser tiga map ke seberang meja. "Bayu Pratama: catatan pelanggaran disiplin, masuk lantai tiga tanpa izin, mengakses kantor pengasuh, menyebarkan keresahan. Dani Saputra: mencuri dokumen arsip. Reza Mahendra: kemarin saya dapat laporan kalian merusak gembok arsip bawah tanah." Ia menyandarkan punggung. "Tiga-tiganya cukup untuk drop-out. Beasiswa dicabut. Nama kalian di rapor: dikeluarkan karena pelanggaran berat. Kalian pulang membawa aib, bukan ijazah."
Reza membuka mulut, marah, tapi Dani menahannya dengan tangan. "Laporan yang Bapak bilang itu," kata Dani tenang, "tertanggal sebelum kami buka arsip itu. Bapak menyiapkannya lebih dulu. Itu artinya Bapak tahu ada arsip di bawah tanah, dan tahu isinya cukup berbahaya sampai harus dikunci dua lapis. Orang tak bersalah tidak menyiapkan tuduhan sebelum ada kejahatan."
Pak Hartono terdiam sesaat. Lalu tersenyum lagi. "Kamu pintar, Dani. Itu masalahmu. Tempat ini selalu punya masalah dengan yang terlalu pintar." Kalimat itu menggantung di udara dengan makna yang dingin, dan ketiga anak itu tahu persis apa yang ia maksud. Yang terlalu pintar, yang terlalu penasaran, yang terlalu menonjol — selalu mereka yang berakhir di daftar. "Saya tidak melindungi hantu, Nak. Saya melindungi seribu anak lain dan keluarga mereka dari skandal yang akan menghancurkan masa depan mereka. Sekolah ini reputasi. Reputasi itu nyawa ribuan orang yang menggantungkan hidup di nama 'lulusan Wirautama'. Saya tidak akan membiarkan tiga anak meledakkan semuanya demi satu nama yang sudah tidak ada."
"Sena bukan 'satu nama yang sudah tidak ada'," kata Bayu, suaranya rendah dan keras. "Dia naik supaya kami semua turun. Dan Bapak mau mengubur dia lagi, sama seperti mereka mengubur Asti dua puluh tiga tahun lalu. Bapak pikir mengunci pintu dan memburamkan foto bisa membuat sesuatu hilang. Tapi tidak bisa. Lihat saja apa yang kami lakukan tadi pagi. Itu yang terjadi kalau sesuatu dikubur tapi tak pernah benar-benar mati."
Wajah Pak Hartono mengeras. Untuk sesaat, di balik wajah birokrat dingin itu, Bayu melihat sesuatu yang ia tak duga: ketakutan. Bukan takut skandal. Takut yang lebih tua, lebih dalam — takut yang sama yang dimiliki Bu Marni, yang dimiliki Pak Wiyono sebelum ia tiada. "Kalian tidak mengerti apa yang kalian utak-atik," kata Pak Hartono pelan, dan suaranya retak sedikit di tepinya. "Kalian pikir membongkar ini akan membebaskan. Tapi tempat ini... ada yang menahannya tetap tenang. Selama ini. Kalau kalian cabut yang menahannya..." Ia tak menyelesaikan. Ia menggeser map drop-out kembali ke laci, mengunci, dan berdiri. "Pulang ke kamar. Jangan keluar gedung. Mulai besok, telepon dan internet asrama saya batasi. Demi keamanan." Ia mengucapkan kata terakhir itu seperti ucapan duka.
Di koridor, sepulang dari kantor, Reza menggeram. "Dia mau mengurung kita."
"Bukan cuma kita," kata Dani, menatap ke luar jendela, ke barisan cemara hitam yang mengelilingi bukit seperti dinding hidup. "Dia mau mengurung berita supaya tidak keluar. Tapi ada satu hal yang dia lupa." Ia berbalik pada keduanya. "Berita itu sudah punya kaki sendiri di luar sana. Dan kakinya bernama Mbak Laras."