Mereka memilih hari Senin, saat seluruh asrama berkumpul di aula besar untuk pengarahan mingguan, karena di situlah saksinya paling banyak. Bayu tahu sekali kebenaran diucapkan di depan ratusan mata, ia tak bisa lagi dikubur dengan satu surat resmi.
Pak Hartono baru saja menutup pengumuman soal jadwal ujian ketika Bayu berdiri dari barisan tengah. Aula yang biasanya patuh-senyap menoleh padanya. Ratusan kepala. Para pengasuh berjajar di tepi, dan di antara mereka, Bu Marni berdiri kaku, wajahnya pucat. Ia tahu apa yang akan terjadi. Mereka sudah membicarakannya semalam.
"Saya mau bertanya sesuatu di depan semua orang," kata Bayu. Suaranya bergetar, tapi ia memaksanya tetap. "Supaya tidak bisa dijawab diam-diam di kantor lalu dilupakan." Ia menatap Pak Hartono lurus. "Ke mana Sena Aditama pergi?"
Aula berdesis. Beberapa anak baru tak kenal nama itu. Tapi yang lama — yang sudah cukup lama di sini untuk merasakan asrama berubah pada pagi tertentu beberapa bulan lalu — terdiam, dan keheningan mereka adalah jenis keheningan yang berbeda.
Pak Hartono tersenyum tipis, tenang, terlatih. "Sena Aditama pindah sekolah karena alasan keluarga. Suratnya ada di arsip. Itu bukan rahasia, Bayu, dan ini bukan tempat untuk—"
"Tidak ada surat pindah," potong Dani, berdiri di samping Bayu. Tangannya memegang map. "Saya cek arsip. Yang ada hanya formulir kosong tanpa tanda tangan wali. Tidak ada nomor sekolah tujuan. Tidak ada apa pun. Dia tidak pindah, Pak. Dia hilang. Sama seperti puluhan nama di buku ini." Ia mengangkat map itu tinggi-tinggi. "Buku yang isinya daftar anak-anak yang 'diserahkan' supaya asrama tetap tenang. Saya bisa baca nama-namanya satu per satu di sini, sekarang, di depan kalian semua."
Sekarang aula benar-benar diam. Reza melangkah maju membawa Indah, yang gemetar tapi tegak. "Dia ingat," kata Reza pada seluruh ruangan. "Indah ingat apa yang dilakukan pada anak-anak yang 'sakit' itu. Yang dibawa minum 'vitamin'. Yang pulang jadi pendiam dan kosong. Tanyakan padanya. Tanyakan pada semua anak yang pernah merasa ada bulan-bulan dalam hidup mereka yang hilang begitu saja."
Suara mulai berkembang di aula seperti riak. Seorang anak di barisan belakang berdiri pelan, ragu. "Aku... aku punya tiga bulan yang aku tidak ingat sama sekali," katanya pelan, hampir pada diri sendiri. Lalu yang lain. "Aku juga." Lalu yang lain. Tirai-tirai mulai terbuka di seluruh ruangan, dan Pak Hartono untuk pertama kalinya kehilangan senyum terlatihnya.
"Cukup." Suaranya naik, tajam. "Ini fitnah. Ini—histeria massal yang dipicu beberapa anak bermasalah. Bayu Pratama, Dani Saputra, Reza Mahendra — kalian bertiga, ke kantor saya, sekarang."
"Tidak." Bayu tidak bergerak. Ia menatap deretan pengasuh, dan matanya berhenti di Bu Marni. Selama satu detik panjang, ia menunggu. Bu Marni balas menatapnya, dan di wajahnya bergulat dua puluh tahun ketakutan melawan sesuatu yang baru tumbuh — sesuatu yang sejak pagi Sena pergi tak pernah benar-benar bisa ia padamkan lagi: rasa bersalah, dan keinginan untuk menebus.
Bu Marni membuka mulut. Seluruh aula menahan napas. Tapi sebelum ia bisa bicara, Pak Hartono sudah memberi isyarat pada dua pengasuh, dan pengarahan pagi itu dibubarkan paksa dalam kegaduhan. Anak-anak digiring keluar. Tapi kebenaran sudah lepas — sudah ada di ratusan kepala, berdesis dari satu telinga ke telinga lain, dan tidak ada surat resmi yang bisa menariknya kembali masuk.
Saat digiring keluar aula, Bayu sempat melihat Bu Marni masih berdiri di tempatnya, sendirian sekarang, menatap kosong ke mimbar tempat Pak Hartono baru saja berdiri. Tangan pengasuh itu gemetar. Ia tidak ikut membubarkan siapa pun.