Indah adalah anak ketujuh dalam daftar, dan ia yang paling lama menolak.
Ia salah satu penyintas pertama yang dilepas pada pagi Sena naik, tapi ia kembali timpang — tubuhnya pulih, ingatannya tidak. Ia bisa belajar, tertawa, menjawab guru. Tapi ada lubang di tengah dirinya, berbulan-bulan yang hilang, dan setiap kali seseorang menyebut masa "kosong"-nya, ia menutup diri seperti kerang. Bayu sudah dua kali mencoba mendatanginya dengan benda tambatannya — sebuah cincin plastik murah dari mesin gacha — dan dua kali Indah menolak menyentuhnya.
"Aku tidak mau ingat," kata Indah pada percobaan ketiga, di sudut perpustakaan yang sepi, suaranya gemetar. "Kalian semua ingin aku ingat. Tapi kalian tidak tahu rasanya. Selama aku tidak ingat, aku bisa pura-pura aku cuma murid biasa yang sakit lama. Kalau aku ingat... aku harus tahu apa yang mereka lakukan padaku. Dan aku tidak mau tahu."
Bayu meletakkan cincin plastik itu di meja, tidak memaksa. "Aku juga dulu begitu," katanya. "Waktu isiku baru kembali, ingatan saat aku kosong datang seperti mimpi orang lain. Aku sempat berharap itu memang mimpi. Tapi yang paling menyakitiku bukan ingatannya, Indah. Yang menyakitiku adalah tahu bahwa selama bertahun-tahun aku tidak bisa membela diriku sendiri, dan tidak ada yang tahu, dan kalau aku terus diam, tidak akan pernah ada yang tahu." Ia mendorong cincin itu sedikit lebih dekat. "Kami butuh apa yang kamu lihat di atas sana. Kamu pernah masuk ke tempat yang tidak pernah dimasuki anak lain. Aku merasakannya — ada sesuatu di ingatanmu yang bisa menolong semua orang. Tapi aku tidak akan memaksamu. Kalau kamu tutup pintu itu, aku pergi sekarang."
Indah menatap cincin itu lama. Cahaya senja masuk lewat jendela perpustakaan yang berdebu, jatuh di antara mereka. Lalu, dengan tangan yang gemetar, ia menyentuhnya — hanya ujung jari.
Dan dunia di dalam kepalanya terbuka.
Ia menarik napas tajam, matanya membeliak, dan air mata jatuh sebelum ia sempat menahannya. "Aku ingat," bisiknya. "Astaga, aku ingat semuanya." Tubuhnya gemetar. Bayu nyaris menariknya kembali, takut ia terlalu cepat, tapi Indah mencengkeram lengannya. "Bayu — dengar. Saat aku kosong, aku tidak selalu di tubuhku. Kadang aku... aku di atas. Di lantai tiga. Tapi bukan di kamar Asti. Ada tempat lain." Suaranya turun jadi bisikan ngeri. "Ada ruang di balik dinding kamar ujung. Aku melihat pengasuh masuk ke sana. Bukan Bu Marni — yang lama, yang dulu. Mereka tidak membawa anak ke kamar Asti. Mereka membawa... sesuatu ke ruang di balik dinding. Mereka 'memberi makan' di sana. Aku melihat mereka menuangkan sesuatu, menaruh nama-nama, seperti ritual. Asti cuma yang paling dekat dengan pintu. Yang sebenarnya lapar ada lebih dalam."
Bayu duduk diam, dadanya berdebar. Ini yang ia takutkan sejak sisa-sisa itu mulai berkumpul. Asti bukan jantung tempat ini. Asti hanya wajah yang punya nama. Yang sesungguhnya bersarang di balik dinding tak punya wajah dan tak punya nama, dan selama dua dekade ia diberi makan oleh tangan-tangan manusia yang tahu persis apa yang mereka lakukan.
"Kamu ingat cara mereka memberi makan?" tanya Bayu pelan.
Indah mengangguk, wajahnya basah. "Aku ingat semuanya. Aku berharap tidak. Tapi aku ingat." Ia menggenggam cincin plastik itu erat-erat sampai buku jarinya memutih. "Dan aku tidak mau lubang itu ada lagi. Aku mau ingat. Aku mau jadi diriku, walau itu artinya tahu hal-hal yang membuatku tidak bisa tidur." Ia mendongak menatap Bayu. "Apa yang harus kita lakukan?"
"Pertama," kata Bayu, "kamu ceritakan semuanya. Dari awal. Persis seperti yang kau lihat." Ia menarik kursi mendekat, dan untuk sesaat, di perpustakaan yang sepi itu, ia teringat Sena — teringat bagaimana satu-satunya senjata yang pernah berhasil di tempat ini adalah mendengarkan. "Aku punya waktu," katanya. "Aku tidak ke mana-mana. Ceritakan, Indah. Aku di sini."