Bayu menata sebelas amplop kecil di atas meja kamar 207, masing-masing diberi nama dengan tinta hitam, masing-masing berisi tak lebih dari secarik kertas dan satu benda kecil yang dulu pernah ditemukan di kamar ujung lantai tiga. Sebuah jepit rambut. Pin angkatan yang sudah berkarat. Sehelai pita biru yang warnanya nyaris hilang. Pak Wiyono, sebelum semuanya, pernah berkata pada mereka bahwa setiap anak yang "diisi" meninggalkan sesuatu di atas sana — sepotong benda yang menjadi tambatan, tempat sisa diri mereka tersangkut. Mengembalikan benda itu, kata petugas tua itu, kadang bisa mengembalikan secuil yang dicuri.
Reza mengangkat pita biru ke cahaya jendela. "Kita yakin ini bukan sekadar takhayul Pak Wiyono?"
"Tidak ada yang yakin soal apa pun di tempat ini," kata Dani dari ranjangnya, suaranya datar tapi tidak sinis. "Tapi sebelas nama ini masih hidup, masih di asrama, dan sebelasnya masih timpang. Indah masih lupa kalau ia punya adik. Tari masih bangun jam tiga tanpa tahu kenapa. Kalau ada kemungkinan kecil ini menolong, aku tidak mau jadi orang yang bilang jangan dicoba."
Mereka mulai sore itu, sebelum makan malam, satu per satu. Anak pertama, seorang murid kelas dua bernama Tari, menerima jepit rambutnya dengan tatapan bingung. Tapi ketika Bayu menyentuhkan logam dingin itu ke telapak tangannya dan menyebut namanya pelan — "Tari, ini punyamu, kamu meninggalkannya di atas, sekarang aku kembalikan" — sesuatu bergeser di wajah gadis itu. Matanya berkaca. Ia menarik napas seperti orang yang baru muncul dari bawah air. "Aku..." katanya, lalu berhenti, lalu tersenyum dengan ragu, "aku ingat ibuku. Tadi aku tidak bisa ingat wajahnya. Sekarang bisa." Ia memeluk jepit itu ke dadanya dan menangis, dan Bayu harus berpaling karena dadanya terlalu sesak.
Tapi tidak semua seperti Tari.
Anak keenam adalah seorang murid kelas tiga yang sudah lama "kosong", lebih lama dari yang lain. Ketika Bayu menyentuhkan pin berkarat itu ke tangannya dan menyebut namanya, tak ada yang bergeser. Mata anak itu tetap seperti dua jendela bertirai. Ia menerima pin itu, memandanginya tanpa kenal, lalu meletakkannya di meja seperti benda asing yang bukan urusannya. "Terima kasih," katanya sopan, hampa, dan berjalan pergi.
Bayu berdiri lama menatap punggung yang menjauh itu. "Terlambat," bisiknya. "Untuk dia, terlambat. Yang diambil dari dia sudah terlalu lama di atas. Tidak ada lagi yang bisa dikembalikan."
Reza menepuk pundaknya. "Kamu menyelamatkan lima malam ini. Lima yang tadi pagi masih setengah hilang."
"Dan aku gagal pada enam," kata Bayu pelan. "Aku terus menghitung yang gagal, Za. Aku tidak bisa berhenti menghitungnya."
Malam itu mereka kembali ke kamar dengan lima amplop kosong dan enam yang masih utuh. Dani menyusun ulang benda-benda yang tak terpakai itu di laci, hati-hati, seperti orang menata batu nisan kecil. Ia tahu — mereka semua tahu sekarang — bahwa membebaskan Asti tidak menyembuhkan tanah ini. Sisa-sisa dari semua persembahan lama, pecahan isi anak-anak yang tak pernah utuh kembali, masih mengendap di atas sana. Sebagian sudah terlalu hancur untuk dikembalikan ke pemiliknya. Dan sesuatu yang baru, tanpa nama, sedang menyusun dirinya dari semua yang tertinggal itu.
"Besok kita coba lagi," kata Bayu, mematikan lampu. Tapi dalam gelap, ia menatap langit-langit lama sekali, ke tempat yang dulu menjadi sumber langkah-langkah itu. Hening. Hening yang biasa. Tapi di bawah hening itu, untuk pertama kalinya sejak pagi Sena pergi, ia merasa ada sesuatu yang mendengarkan kembali. Bukan memanggil. Belum. Hanya menunggu, sabar, di balik lapisan keheningan yang ia kira sudah aman.
Ia tidak tidur sampai jauh setelah pukul tiga lewat.