Di antara arsip yang Pak Wiyono bayar dengan nyawanya, ada satu map yang berbeda dari yang lain. Tidak berdebu seperti yang lain karena disimpan terpisah, di kotak besi terkunci di dalam ruang arsip—seakan bahkan di tempat rahasia, dokumen ini masih perlu lebih dirahasiakan lagi. Bu Marni butuh dua malam untuk membobol kuncinya. Isinya membuat mereka semua terdiam lama setelah membacanya.
Catatan pendiri asrama. Tulisan tangan yang rapi, percaya diri, dari seorang lelaki bernama dalam dokumen sebagai pendiri pertama, jauh sebelum Pak Broto, jauh sebelum siapa pun yang masih hidup. Tanggalnya hampir seabad lampau.
Bayu membacanya dengan suara keras di gudang Pak Wiyono, sementara yang lain mendengarkan dalam cahaya lampu yang temaram.
"Kita tidak membangun sekolah biasa," ia membaca. "Kita membangun tempat penempaan. Logam ditempa dengan api dan pukulan; manusia ditempa dengan tekanan. Anak yang masuk biasa akan keluar luar biasa, atau tidak keluar sama sekali. Itu harga yang adil. Dunia hanya mengingat yang terbaik. Maka kita akan menghasilkan yang terbaik, dan kita tidak akan menyesali yang patah dalam prosesnya. Yang patah adalah bukti bahwa api kita cukup panas."
Reza memejamkan mata. "Astaga. Dia nulis itu kayak lagi banggain diri."
"Lanjut," kata Dani pelan, wajahnya kelabu.
Bayu membalik halaman. Tulisannya berubah di bagian akhir—lebih tergesa, lebih gelap, seperti ditulis bertahun setelah halaman-halaman awal, oleh tangan yang sama tapi pikiran yang sudah retak.
"Aku tidak tahu apa yang kami bangunkan. Tanah ini mulai mengingat anak-anak yang patah. Bukan menguburnya—mengingatnya. Yang patah tidak benar-benar pergi. Mereka mengendap di sini, di dinding, di lantai, di bawah. Dan tanah yang mengingat menjadi tanah yang lapar. Awalnya kupikir ini berkah—bahwa tempat ini sendiri kini menuntut keunggulan, mendorong anak-anak melampaui batas mereka. Lalu aku sadar tanah ini tidak peduli pada keunggulan. Ia hanya lapar akan yang patah. Dan semakin kami menekan anak-anak menjadi yang terbaik, semakin banyak yang patah, semakin kenyang ia, semakin keras ia menuntut. Kami membuat lingkaran yang tidak bisa lagi kami hentikan. Aku menulis ini supaya seseorang tahu: ini bukan kutukan dari luar. Kami yang membuatnya. Dengan tangan kami sendiri. Dengan kata 'demi kebaikan mereka'."
Bayu menurunkan map itu. Hening menggantung berat di gudang.
"Jadi nggak ada iblis," kata Bu Sari akhirnya, suaranya kosong. "Nggak ada kutukan dari langit. Cuma manusia. Cuma orang-orang yang memutuskan bahwa anak yang patah itu harga yang pantas."
"Itu yang paling ngeri," kata Bayu pelan. "Kalau ini kutukan, kita bisa cari penangkalnya. Tapi ini bukan kutukan. Ini kebiasaan. Diwarisin turun-temurun. Pak Broto warisin ke pengasuh, pengasuh warisin ke... ke kalian." Ia menatap Bu Marni, yang tak menyangkal, hanya menunduk. "Tanahnya lapar karena kita ngajarin dia lapar. Setiap kali ada guru yang bilang 'kamu kurang', setiap kali ada orang tua yang bilang 'jangan bikin malu', kita kasih makan lagi."
Bu Marni mengangkat kepala. Air matanya jatuh, tapi suaranya akhirnya tegas untuk pertama kali. "Maka kalau kami yang mengajarinya lapar," katanya, "kami juga yang harus berhenti mengajarinya. Bukan dengan ngasih makan yang lebih sedikit. Dengan berhenti sama sekali. Dengan berdiri di depan semua orang dan berkata bahwa kami salah, dari pendiri pertama sampai sekarang. Bahwa tidak ada anak yang patah yang sebanding dengan satu piala mana pun."
Sena pernah menulis: bongkar kenapa tempat ini lapar dari awal. Sekarang Bayu tahu jawabannya, hitam di atas putih, ditandatangani tangan yang sudah lama mati. Tempat ini lapar karena manusia memutuskan kelaparan itu pantas. Dan satu-satunya cara memutusnya adalah manusia yang lain memutuskan sebaliknya—dengan keras, di depan saksi, sampai tanah itu sendiri tak punya lagi tangan yang memberinya makan.