Mereka membaca ulang buku PERSEMBAHAN dengan mata baru, kini bukan untuk memahami siapa yang diambil, melainkan untuk memahami pola pencatatannya. Bu Marni menjadi pembimbing yang murung; ia mengenali setiap goresan, setiap singkatan, karena sebagian besar baris di dua dekade terakhir ditulis tangannya sendiri.
"Setiap nama yang sudah diambil dicoret satu garis," jelasnya, jarinya bergerak di sepanjang halaman, "dan diberi catatan: selesai. Itu artinya tubuhnya turun, isinya diambil, perkaranya ditutup. Setiap nama yang masih calon dibiarkan tanpa coretan. Hanya dua status. Selesai, atau menunggu."
Dani, yang sejak awal punya kepala untuk hal-hal yang tidak konsisten, menghentikan jarinya di satu halaman. "Kalau cuma dua status," katanya pelan, "kenapa ada satu nama yang beda?"
Mereka membungkuk bersama. Di halaman terakhir buku itu, di baris paling bawah dari semua nama yang pernah ditulis, ada satu nama yang tidak seperti yang lain. Tidak dicoret. Tapi juga tidak dibiarkan polos seperti calon yang menunggu. Di sampingnya, di tempat yang seharusnya tertulis selesai atau dibiarkan kosong, ada coretan yang dimulai—satu garis tinta yang ditarik setengah jalan melintasi nama—lalu berhenti. Seakan tangan yang menulisnya hendak mencoretnya, lalu ragu, lalu tak pernah menyelesaikannya.
Nama itu: Sena Aditama.
Bayu merasa udara di gudang menipis. Ia menatap nama temannya, dua kata yang ia kenal lebih baik dari namanya sendiri akhir-akhir ini, dengan garis tinta setengah yang menggantung di atasnya seperti kalimat yang tak pernah diselesaikan.
"Aku ingat malam itu," kata Bu Marni, suaranya nyaris berbisik. Ia menatap nama itu dengan ngeri yang tumbuh perlahan, seperti orang yang baru menyadari sesuatu yang seharusnya ia sadari bertahun lalu. "Setelah Sena naik dan pagi datang tanpa langkah pukul tiga, aku duduk di kantor ini dengan buku ini terbuka. Aku tahu Sena naik. Maka tanganku mulai mencoretnya—seperti yang selalu kulakukan untuk yang diambil. Selesai. Tapi..." Ia menelan ludah. "Tanganku berhenti. Karena aku sadar aku tidak tahu apa yang barusan terjadi. Sena tidak diambil. Tidak ada isi yang turun. Tidak ada tubuh kosong yang berjalan ke kelas keesokan harinya. Buku ini tidak punya status untuk apa yang Sena lakukan. Jadi garisnya kubiarkan setengah. Aku tidak pernah menyelesaikannya. Aku lupa aku pernah memulainya."
"Status gantung," kata Dani pelan. "Dari ratusan nama di buku ini, semuanya selesai atau menunggu diambil. Cuma satu yang gantung. Cuma Sena. Satu-satunya yang naik tanpa diambil."
Reza menatap nama itu lama, lalu menatap yang lain. "Berarti apa? Sena masih... ada?"
Bayu menggeleng perlahan, tapi tidak yakin. Ia teringat dua cekungan di debu, berdampingan, yang tak pernah berubah. Ia teringat dua bayang di pojok foto angkatan. "Sena nggak hidup," kata Bayu, hati-hati, karena ia tahu betul aturan tempat ini, dan aturan itu kejam tapi jujur: yang naik dan tinggal di atas tidak turun sebagai manusia hidup. "Tubuhnya nggak pernah ketemu. Dia naik dan dia nggak turun. Itu nggak berubah." Ia menyentuh garis tinta setengah di atas nama itu, ringan, seperti menyentuh luka. "Tapi buku ini—buku ini ditulis sama tangan-tangan yang percaya cuma ada dua jalan. Diambil, atau menunggu diambil. Sena nemu jalan ketiga. Jalan yang nggak ada di buku ini. Dan tempat ini," ia menatap dinding gudang seakan menatap seluruh asrama di baliknya, "nggak tahu cara nyatet jalan ketiga. Makanya garisnya gantung. Bukan karena Sena hidup. Karena Sena nggak cocok sama satu pun cara tempat ini ngelap orang."