Mereka memilih malam, karena segala hal di tempat ini selalu menuntut malam, dan karena Pak Hartono baru saja memasang pengawas tambahan di koridor siang. Bayu, Reza, Dani, Bu Marni, dan Bu Sari naik bersama ke lantai tiga, membawa palu, linggis, dan dua senter yang sudah disiapkan baterai cadangan—karena mereka ingat bagaimana cahaya meredup di dekat akar gedung.
Kamar ujung itu menyambut mereka dengan keheningannya yang berat. Dua cekungan di debu masih di tepi ranjang. Bayu berdiri di depannya sejenak, seperti minta izin, lalu berbalik ke dinding belakang—dinding yang selama ini hanya tembok, dingin dan polos, di mana menurut denah seharusnya ada ruang.
"Sena duduk di sini sampai pagi," kata Bayu pelan, lebih ke diri sendiri. "Sepanjang malam. Sambil dindingnya menyimpan ini di belakang punggungnya. Dia mungkin nggak tahu."
Reza mengetuk dinding dengan buku jari. Di sebagian besar bagian, suaranya padat. Tapi di satu titik, di bagian bawah dekat lantai, ketukan itu menggema. Berongga. "Di sini," katanya, suaranya menipis.
Mereka mulai membongkar. Linggis masuk ke celah plester, dan ketika lapisan pertama tembok runtuh, debu yang keluar dari baliknya tidak berbau debu. Berbau bunga yang terlalu lama dipotong—bau yang sama yang Bayu cium di malam terburuk hidupnya, bau yang menunggu. Bu Sari mundur selangkah, tangannya menutup hidung. Bu Marni tidak bergerak; wajahnya pucat, tapi ia tetap memegang senter dengan tangan yang dipaksanya tenang.
Lubang di dinding melebar. Di balik tembok palsu itu bukan ruang kosong—melainkan sebuah kamar kecil tanpa jendela, tak lebih besar dari lemari besar, yang seharusnya tak bisa muat di antara dinding kamar ujung dan tepi luar gedung. Geometri yang salah. Ruang yang tidak seharusnya ada secara fisik, namun ada. Di dalamnya, senter mereka menyapu lantai kayu yang lapuk, dinding yang dipenuhi goresan—ratusan, ribuan goresan kuku, sebagian membentuk huruf, sebagian hanya garis-garis putus asa. Dan di tengah ruang itu, tidak ada apa-apa. Hanya udara. Tapi udara itu salah. Udara itu penuh dengan sesuatu yang tak bisa dilihat tapi bisa dirasakan—berat, dingin, dan, yang paling membuat Bayu nyaris muntah, lapar.
"Ini bukan kamar Asti," bisik Bayu. "Asti di kamar ujung. Ini... lebih tua."
Bu Marni mengarahkan senter ke salah satu dinding tergores. Di antara cakaran yang tak beraturan, ada baris-baris yang terbaca. Bukan satu tulisan tangan. Banyak. Bertumpuk selama puluhan tahun, satu di atas yang lain, tangan-tangan berbeda dari masa berbeda. Tolong. Aku capek. Aku ingin pulang. Aku tidak kurang. Maaf, Ayah. Lepaskan aku. Beberapa hanya nama. Nama-nama anak. Nama-nama yang, ketika Dani membandingkannya dengan daftar PERSEMBAHAN di tangannya, satu per satu cocok dengan nama-nama yang dicoret.
"Mereka semua di sini," kata Dani, suaranya bergetar, jari menyusuri daftar lalu menyusuri dinding. "Yang dicoret. Setiap nama. Mereka semua pernah di sini, sebelum diambil. Atau yang dari mereka tersisa, ngumpul di sini."
Senter Reza mulai meredup, persis seperti di ruang bawah tanah. Dingin menebal. Dan di tengah ruang yang kosong itu, sesuatu bergeser—bukan sosok, bukan wajah, hanya kepadatan udara yang berputar pelan, seperti air yang mulai berpusar di atas lubang pembuangan. Tanpa mata, tanpa mulut, ia memperhatikan mereka. Atau lebih tepat, ia merasakan mereka—merasakan luka mereka, mencari mana yang paling terbuka.
"Keluar," kata Bayu cepat, mendorong yang lain mundur. "Sekarang. Kita udah tahu di mana. Itu cukup buat malam ini. Kita belum tahu cara mutusinnya, dan kalau kita di sini terlalu lama, dia bakal mulai baca kita."
Mereka mundur dari lubang dinding, satu per satu, mata tak lepas dari pusaran udara dingin di tengah ruang. Bu Marni yang terakhir keluar, dan sebelum ia berpaling, senternya menangkap satu baris goresan paling bawah, paling baru di antara yang tua, ditulis dengan tangan yang ia tidak kenali tapi entah kenapa terasa akrab. Mereka tidak akan berhenti sampai ada yang menamai kami. Ia tak sempat menunjukkannya pada yang lain. Tapi kata-kata itu menempel di benaknya sepanjang malam.