Mereka mengubah gudang Pak Wiyono menjadi markas. Tak seorang pun pengasuh yang tersisa berani masuk ke sana—sebagian karena hormat, sebagian karena takut—maka di sanalah, di antara buku-buku rusak dan bau orang tua yang baru saja pergi, mereka membentangkan semua yang mereka curi dari ruang arsip.
Denah lama. Buku PERSEMBAHAN, yang akhirnya berhasil mereka rebut bertahun lalu dan sembunyikan. Daftar nama yang dicoret. Catatan tahun demi tahun. Bu Marni duduk di tengahnya dengan kacamata kembali bertengger, jari menyusuri kolom-kolom dengan ketelitian orang yang dulu menulis sebagian besar dari catatan ini sendiri—dan kini membacanya dengan ngeri seakan baru pertama kali melihatnya.
"Aku mau coba sesuatu," kata Dani. Sejak malam ia hampir naik, Dani lebih banyak diam, tapi pikirannya yang analitis bekerja lebih keras dari sebelumnya, seakan menebus dengan otak apa yang nyaris ia kehilangan. Ia membentangkan denah besar asrama di lantai dan mulai menandai. "Tiap nama yang dicoret di buku, ada catatan kecil. Kadang ada kamarnya. Kadang tahunnya. Aku mau tandai di denah—di mana tiap anak 'retak'. Bukan di mana mereka diambil. Di mana mereka pertama mulai pecah."
Reza mengernyit. "Buat apa?"
"Karena pola," kata Bayu pelan, mulai paham. "Kalau tempat ini lapar dari titik tertentu, pasti ada pola. Asti retak di kamar ujung lantai tiga. Tapi yang sebelum Asti—mereka di mana?"
Mereka bekerja sepanjang malam. Bu Sari membantu dengan nama-nama dari sayap putri; ternyata bukan hanya anak putra yang diambil, hanya saja sistemnya lebih tua dan lebih tersembunyi di sisi putri, dengan lantai larangannya sendiri yang sudah lama dirobohkan dan ditutupi. Satu per satu, Dani menusukkan paku payung ke denah. Kamar 312. Kamar 308. Ruang belajar lantai tiga. Kamar 301. Lalu, dari tahun-tahun yang lebih tua, dari sebelum Asti, dari sebelum lantai tiga ditutup: titik-titik di lantai dua, di lantai satu, bahkan di ruang bawah tanah.
Saat fajar mulai mengintip, denah itu penuh dengan paku payung merah. Dan ketika Dani mundur untuk melihatnya secara keseluruhan, dengan mata letih, semuanya menjadi jelas dengan cara yang membuat tengkuk Bayu meremang.
Titik-titik itu tidak tersebar acak. Mereka mengelompok. Semakin tua tahunnya, semakin dalam letaknya—dari kamar-kamar atas, turun ke lantai dua, turun lagi ke bawah tanah. Dan semua garis, kalau ditarik, menunjuk ke satu arah. Bukan ke kamar ujung lantai tiga tempat Asti menyerah. Lebih dalam dari itu. Ke satu titik di dinding belakang kamar ujung—dinding yang, menurut denah asli yang lebih tua, seharusnya tidak ada. Di belakang dinding itu, denah lama menunjukkan ruang. Ruang yang dihapus dari setiap denah baru. Ruang yang tak ada di gedung yang berdiri sekarang.
"Semua luka," bisik Bu Marni, menatap denah dengan suara yang nyaris hilang, "selama empat puluh tahun lebih. Semuanya menunjuk ke sana. Ke tempat di belakang dinding yang kupikir cuma tembok."
"Itu jantungnya," kata Bayu. Ia teringat kata-kata Sena di kertas: bongkar akarnya. "Asti cuma kamar ujung. Tapi yang lebih tua dari Asti—yang Sena bilang nggak punya nama—itu di sana. Di belakang dinding. Tempat semuanya dimulai."
Mereka berdiri mengelilingi denah yang penuh paku merah seperti tubuh yang penuh luka tusuk, dan untuk sesaat tak seorang pun bicara. Karena mereka semua tahu apa artinya. Cepat atau lambat, salah satu dari mereka harus membuka dinding itu.