Kabar kematian Pak Wiyono menyebar dengan versi resmi yang sudah disiapkan sebelum tubuhnya dingin: petugas tua yang sakit-sakitan, meninggal di ruang gudang, sebab alami. Tidak ada yang salah, kata Pak Hartono di pengumuman pagi, suaranya rata dan terlatih, hanya proses alamiah dari usia. Para murid menunduk khidmat. Sebagian besar bahkan tak tahu nama orang tua itu.
Tapi malam itu, di kantor Bu Marni, jumlah orang yang tahu sebenarnya menyusut menjadi sangat sedikit—dan terbelah.
Bayu, Reza, dan Dani diundang masuk, bukan dipanggil. Itu sendiri sudah berbeda. Di dalam, Bu Marni duduk di balik mejanya, kacamatanya dilepas, dan tanpa kacamata wajahnya tampak lebih tua dan lebih telanjang. Di sampingnya berdiri seorang perempuan yang lebih muda, tegas, dengan rahang yang keras—Bu Sari, pengasuh putri, yang selama ini hanya bayang di sisi lain asrama.
"Pak Wiyono tidak mati alami," kata Bu Marni langsung, tanpa basa-basi. Suaranya gemetar tapi tidak berhenti. "Aku tahu. Aku ada di sini cukup lama untuk tahu seperti apa wajah seseorang yang ditelan tempat ini. Dan aku tahu kalian ada di bawah sana malam itu."
Reza menegang, tangannya melayang ke tas berisi arsip yang mereka selundupkan. Tapi Bu Sari mengangkat tangan. "Kami tidak di sini untuk menyita apa pun," katanya, suaranya dingin tapi bukan mengancam. "Kami di sini karena, untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun, sebagian dari kami berhenti setuju satu sama lain."
Bu Marni berdiri, berjalan ke jendela, memunggungi mereka. "Sebagian pengasuh sudah pergi," katanya. "Diam-diam, sejak Sena. Begitu langkah pukul tiga berhenti, mereka tahu sistem lama runtuh, dan mereka takut. Mereka kabur sebelum dunia luar mulai bertanya. Yang tinggal cuma sedikit. Dan dari yang sedikit itu," ia berbalik, menatap Bu Sari dengan sesuatu antara permusuhan lama dan kelelahan baru, "ada yang ingin mengubur semuanya, dan ada yang akhirnya ingin menebus."
"Aku ingin mengubur," kata Bu Sari terus terang, tanpa malu. "Sampai kemarin. Selama dua puluh tahun aku percaya kami menjaga keseimbangan. Memberi sedikit supaya yang banyak selamat. Itu yang kami katakan pada diri sendiri setiap malam supaya bisa tidur." Rahangnya mengeras. "Lalu Pak Wiyono mati menahan pintu supaya kalian, anak-anak, bisa keluar. Orang tua yang dulu mengunci pintu itu mati membukanya. Dan aku tidak bisa lagi bilang pada diriku bahwa kami pihak yang benar."
Bayu memandang kedua perempuan itu—dua wajah asrama, satu yang dulu menyeretnya ke ambang Asti, satu yang tak pernah ia kenal. "Kalian mau apa dari kami?"
"Bukan kami yang mau dari kalian," kata Bu Marni pelan. "Kalian yang butuh kami. Kalian punya arsip sekarang, tapi kalian tidak tahu cara membacanya. Aku tahu di mana denah lama disimpan, kode catatan persembahan, nama-nama yang dicoret. Dan Bu Sari tahu jalan-jalan asrama yang tidak ada di peta resmi." Ia meletakkan kedua tangannya di meja, bersandar, dan untuk sesaat tampak seperti orang yang baru saja meletakkan beban dua dekade. "Kami bukan banyak. Kami berdua, melawan tempat yang sudah lapar sejak sebelum kita lahir. Tapi kami di pihak kalian sekarang. Itu yang tersisa. Dan kalau kalian mau memutus janji ini—kalian akan butuh setiap orang yang masih punya nurani, sesedikit apa pun jumlahnya."
Di luar jendela, malam turun di atas bukit. Suatu tempat di atas mereka, di lantai tiga, debu berbaring tenang di atas dua cekungan yang tidur. Dan jauh di bawah, di akar gedung, di balik pintu besi yang kini tak terkunci, sesuatu yang tanpa nama menunggu, mencatat dengan sabar berkurangnya orang yang berani melawannya—dan, mungkin, berkurangnya alasan untuk tetap tidur.