Pagi datang, tapi tak menghapus apa pun. Mereka membaringkan Dani di ranjangnya, menungguinya tertidur betulan, lalu Bayu dan Reza naik lagi ke lantai tiga—kali ini dengan sengaja, di bawah matahari, karena Bayu sudah memutuskan. Kalau benda tanpa nama itu sudah cukup berani memanggil di kaki tangga, maka mereka tak punya kemewahan untuk menunggu.
Lantai tiga dalam terang pagi tetap berdebu, tetap hening, tapi keheningannya kini terasa berbeda dari hening tahun-tahun setelah Sena. Dulu hening seperti orang tidur. Sekarang hening seperti orang yang pura-pura tidur, menahan napas, mendengarkan.
Mereka masuk ke kamar paling ujung. Dua cekungan di debu di tepi ranjang masih ada, masih utuh, dua bentuk yang duduk berdampingan dan tak pernah bangun. Bayu selalu berhenti sebentar di depannya, seperti orang lewat makam. Tapi pagi ini ia memaksa diri melampaui itu, ke meja belajar tua di sudut, tempat Sena dulu menulis pesan terakhirnya di debu.
Pesan itu sudah lama menghilang—debu baru telah turun menutupinya bertahun-tahun. Tapi Bayu ingat di mana letaknya, dan ia mulai menyapu permukaan meja perlahan dengan telapak tangan, mencari, ia sendiri tak yakin mencari apa.
"Bay, kita ngapain sebenarnya?" tanya Reza, berdiri di ambang pintu, enggan masuk lebih jauh.
"Sena nidurin Asti pakai nama. Pakai pengakuan. Dia naik, dia ngaku Asti diperlakukan salah, dan Asti akhirnya bisa istirahat." Bayu meniup debu dari laci meja yang macet, lalu menariknya paksa. "Tapi yang hampir narik Dani semalam nggak punya nama. Nggak punya cerita. Kamu nggak bisa minta maaf ke sesuatu yang nggak pernah jadi siapa-siapa. Jadi cara Sena nggak bakal jalan dua kali. Aku perlu tahu apa lagi yang Sena tahu sebelum dia naik."
Laci itu terbuka dengan derit panjang. Di dalamnya, di antara buku-buku tua Asti yang menguning, ada secarik kertas yang dilipat—bukan tua, bukan menguning seperti yang lain. Kertas dari buku tulis biasa, jenis yang dijual di koperasi asrama. Bayu mengeluarkannya dengan tangan yang tiba-tiba dingin.
Tulisan tangan Sena. Mereka berdua mengenalinya seketika, dari pesan di debu, dari catatan-catatan kecil Sena yang dulu tertinggal di kamar 207.
"Dia nyatet," bisik Reza, akhirnya melangkah masuk. "Sena nyatet sesuatu sebelum naik. Dia naruh di sini, di laci Asti, tahu cuma orang yang nyari bakal nemu."
Mereka membaca bersama, kepala saling mendekat. Tulisannya tergesa, ditulis dalam gelap mungkin, sebagian huruf menumpuk.
Asti bukan yang pertama. Pak Wiyono bilang lantai tiga sudah lapar sebelum dia. Aku nggak sempat tanya lebih jauh. Kalau ada yang baca ini—Asti bisa ditidurin karena dia punya nama, punya luka yang bisa diakui. Tapi yang lebih tua dari dia, yang di bawah Asti, itu beda. Itu bukan satu orang. Itu timbunan. Semua yang diambil sistem ini, sisa-sisa yang nggak pernah balik utuh, ngumpul jadi satu hal yang nggak punya wajah. Nggak bisa diajak bicara. Nggak bisa ditemani. Yang kayak gitu nggak butuh ditemani—butuh dibongkar. Bongkar akarnya. Bongkar kenapa tempat ini lapar dari awal. Jangan kasih makan. Jangan temani. Putus.
Di bawahnya, satu baris terakhir, lebih kecil, seperti ditulis saat ia sudah berdiri hendak pergi: Aku cuma bisa putus satu mata rantai. Sisanya tugas kalian. Maaf.
Bayu menurunkan kertas itu. Tangannya gemetar. Di luar jendela lantai tiga, cemara bergoyang, dan untuk pertama kalinya Bayu merasa Sena tidak benar-benar pergi—ia hanya berhenti separuh jalan, meninggalkan peta untuk yang menyusul. Peta yang berkata: caraku tidak akan menyelamatkan kalian. Cari cara lain.
"Membongkar akar," ulang Reza pelan. "Akarnya apa, Bay? Asrama ini? Sistemnya? Atau ada yang lebih dalam?"
"Sena bilang lapar dari awal." Bayu melipat kertas itu dan menyimpannya di saku, dekat dada. "Sebelum Asti. Berarti kita harus tahu kenapa. Dan cuma satu orang yang hidup waktu itu dan masih mau bicara."
"Pak Wiyono," kata Reza.
Bayu mengangguk. Di luar, lonceng pagi asrama berbunyi, memanggil semua anak ke aula untuk sarapan, ke dunia yang berpura-pura sehat. Tapi di lantai tiga, di antara debu dan dua cekungan yang tak pernah bangun, dua anak baru saja menerima warisan dari yang ketiga—bukan keselamatan, melainkan tugas.