Pak Wiyono tinggal di sebuah ruang sempit di belakang perpustakaan, tempat dulu disebut gudang buku rusak. Sejak ia terlalu tua untuk menjaga meja peminjaman, sekolah membiarkannya tinggal di sana, separuh karena belas kasihan, separuh karena tak tahu harus diapakan orang yang menyimpan terlalu banyak rahasia. Bayu, Reza, dan Dani datang sore itu, setelah jam pelajaran, membawa kertas Sena di saku.
Petugas tua itu tampak lebih ringkih daripada terakhir kali Bayu melihatnya. Batuknya kering dan dalam, dan ia harus berhenti beberapa kali untuk menarik napas. Tapi matanya menajam saat Bayu menyebut satu kata.
"Janji," ulang Pak Wiyono. Ia menatap ketiga anak itu lama, lalu memandang ke arah jendela, ke bukit dan cemara di luar. "Jadi anak itu—Sena—dia mendengarnya juga. Saya cuma sempat sebut sepatah dua patah ke dia malam terakhir. Tidak menyangka dia menyimpannya."
"Dia nyimpan," kata Bayu. "Dia nulis: lantai tiga lapar sebelum Asti. Apa maksudnya, Pak?"
Pak Wiyono batuk panjang. Tangannya yang berurat menggenggam cangkir teh yang sudah dingin, lebih untuk pegangan daripada untuk minum. "Saya masuk kerja di sini tepat di tahun-tahun Asti retak. Masih muda waktu itu, baru saja diterima. Tapi yang saya temukan di album dan catatan lama, dari sebelum saya ada," suaranya merendah, "sudah ada anak-anak yang retak. Bukan satu. Beberapa. Selalu yang terbaik. Selalu yang paling dipaksa. Mereka tidak jadi hantu seperti Asti—tidak semua punya kemauan sekuat dia untuk bertahan—tapi mereka kosong. Pulang kosong. Atau tidak pulang sama sekali, dan dicatat 'pindah'."
Dani, yang sejak semalam pucat dan diam, akhirnya bicara. "Jadi tempat ini sudah ambil anak bahkan sebelum ada Asti buat ngambilin."
"Tempat ini," kata Pak Wiyono, dan ia menekankan kata itu seakan benda yang menjijikkan, "tidak pernah butuh hantu untuk lapar. Hantu cuma... mulut. Lubang tempat kelaparannya keluar. Tapi laparnya sendiri lebih tua. Saya tidak tahu dari mana asalnya. Yang saya tahu, kepala asrama yang lama—Pak Broto—dia pernah bilang sekali, saat mabuk, bertahun lalu. Dia bilang pendiri sekolah ini membuat 'janji' ke tanah ini. Bahwa asrama ini akan selalu menghasilkan yang terbaik, apa pun harganya. Dan tanah ini mengabulkan—dengan caranya sendiri. Anak-anak yang ditekan paling keras retak, dan yang retak diambil, dan dari yang diambil, sekolah ini jadi terkenal. Peringkat naik. Nama harum. Setiap piala punya satu anak yang hilang di belakangnya."
Hening turun di gudang sempit itu, hanya dipecah oleh napas berat Pak Wiyono.
"Membongkar janji," kata Bayu pelan, mengulang kata-kata Sena. "Berarti yang harus diputus bukan Asti. Asti udah tidur. Yang harus diputus itu... cara tempat ini lapar. Janjinya."
"Dan janji," kata Pak Wiyono, batuk lagi, lebih buruk, "tidak diputus dengan kata-kata, Nak. Janji ini dibuat lewat perbuatan—lewat puluhan tahun memilih mengorbankan anak demi nama. Diputus juga lewat perbuatan. Lewat seseorang yang berdiri dan berkata, di depan semua orang, dengan bukti di tangan: kami berhenti membayar. Kami tidak akan lagi menjadikan tekanan sebagai pakan." Ia menatap mereka satu per satu. "Tapi tanah ini sudah dua puluh, tiga puluh, empat puluh tahun diberi makan. Begitu kalian berhenti memberinya makan, ia tidak akan diam. Ia akan turun mencari sendiri. Seperti Asti dulu turun ke lantai dua. Cuma kali ini yang turun bukan satu gadis. Yang turun adalah semua yang pernah ditimbun di atas sana."
Reza menelan ludah. "Jadi makin kita deket sama mutusin, makin bahaya."
"Selalu begitu," kata Pak Wiyono, dan untuk sesaat ada sesuatu yang menyerupai keberanian di mata tuanya, keberanian orang yang sudah tak punya banyak waktu untuk takut. "Saya yang mengunci pintu itu dua puluh tiga tahun lalu, Nak. Dengan tangan saya sendiri, atas perintah, dengan takut. Kalau ada satu hal yang ingin saya lakukan sebelum mati, itu bukan menutup pintu lagi. Tapi membuka yang benar."