Bayu terbangun bukan karena suara. Justru karena tidak ada suara sama sekali. Ranjang Dani, di seberang, terbuka dan kosong, selimutnya tersibak rapi ke samping seperti orang yang sengaja bangun, bukan yang ditarik paksa. Itu yang membuat dada Bayu mengerut. Yang ditarik paksa selalu meninggalkan kekacauan. Yang berjalan sendiri ke ambang justru terlihat tenang.
Ia melirik jam di meja. 02.54.
"Reza." Bayu menendang ranjang bawah. "Reza, bangun. Dani nggak ada."
Reza terjaga dengan satu sentakan, langsung duduk, keringat dingin sudah membasahi pelipisnya bahkan sebelum ia paham apa yang terjadi. Sejak malam Sena naik, mimpi-mimpi Reza selalu membawanya bangun seperti ini—dengan jantung sudah berlari lebih dulu daripada pikirannya. "Tangga," kata Reza serak. "Kalau dia ke tangga—"
Mereka tak menyelesaikan kalimat. Mereka berlari.
Koridor sayap timur gelap dan dingin, satu-satunya bagian asrama yang tak pernah dipasang kamera. Dahulu itu kelalaian yang disengaja. Sekarang terasa seperti perangkap yang sengaja dibiarkan terbuka. Di ujung koridor, pintu jeruji lantai tiga—yang sejak pagi itu dibiarkan menganga, rantainya tergeletak di lantai bertahun seperti ular mati—berdiri dengan mulut hitamnya. Dan di kaki tangga, dalam piyama, tanpa alas kaki, berdiri Dani.
Ia tidak melangkah. Belum. Tapi satu kakinya sudah terangkat di atas anak tangga pertama, menggantung, ragu, seperti orang yang lupa kenapa ia di sana tapi tubuhnya tetap tahu jalan.
"Dani." Bayu menahan suaranya tetap rendah. Berteriak hanya akan mengejutkan, dan mengejutkan orang di ambang adalah cara tercepat mendorongnya jatuh. "Dani, lihat aku. Kamu di koridor. Ini bukan jam belajar."
Dani tidak menoleh. Wajahnya, ketika cahaya bulan menyentuhnya dari jendela koridor, tampak letih dengan cara yang Bayu kenali terlalu baik. Bukan letih kurang tidur. Letih yang lebih dalam, letih yang ada di balik mata Bayu sendiri dulu, saat ia masih kosong. "Aku cuma mau naik sebentar," kata Dani, suaranya datar, jauh. "Di atas tenang. Di sini... aku terus dengar suara. Bukan langkah. Suara yang bilang aku kurang. Tiap malam aku belajar sampai jam tiga dan aku masih kurang."
Reza mau maju, tapi Bayu menahannya dengan satu tangan ke dada. Ia tahu ini. Ia satu-satunya yang tahu rasanya dipanggil dari dalam, bukan oleh telinga. "Itu bukan suaramu, Dani," kata Bayu pelan, menapaki satu langkah maju, lalu satu lagi. "Itu suara yang dipinjam dari lukamu. Dia nggak punya mulut. Dia pakai mulutmu sendiri buat bilang kamu kurang. Tapi kamu nggak kurang. Kamu cuma capek. Itu beda."
Untuk sekejap, kaki Dani yang menggantung itu turun lagi—setengah inci, ke arah lantai, bukan ke arah tangga. Lalu naik lagi. Sesuatu di koridor menebal. Bukan dingin biasa; dingin yang punya berat, yang menekan tengkuk. Bayu merasakannya merayap di antara mereka, mencari celah, mencari luka mana yang paling terbuka. Dan luka Dani malam itu terbuka lebar.
"Reza," bisik Bayu, tanpa memalingkan mata dari Dani. "Sekarang. Dari sisi tangga."
Reza paham. Selagi Bayu bicara, menahan perhatian Dani dan—entah—perhatian benda yang menekan dari atas, Reza menyelinap melingkar ke sisi tangga. Saat kaki Dani akhirnya terangkat lagi, kali ini sungguh hendak menapak anak tangga kedua, Reza menerjang. Ia memeluk Dani dari samping, menariknya jatuh menjauh dari tangga, dan keduanya jatuh berdebam ke lantai koridor. Dani meronta sebentar—satu erangan asing keluar dari kerongkongannya, bukan suaranya—lalu tubuhnya melemas, dan ia menangis. Tangis yang nyata. Tangis yang penuh.
Di atas mereka, di kegelapan tangga, sesuatu menarik diri. Tidak dengan langkah. Hanya dengan berkurangnya tekanan, seperti seseorang berhenti menahan napas. Koridor menghangat satu derajat. Pintu jeruji tetap menganga, tapi yang di baliknya, untuk malam ini, melepaskan.
Bayu jatuh berlutut di samping mereka, lengannya gemetar. Ia menatap Dani yang terisak di pelukan Reza, lalu menatap tangga gelap, lalu menatap tangannya sendiri. Yang Sena hentikan dulu adalah Asti—gadis dengan nama, dengan kisah, yang bisa diajak bicara. Yang nyaris menarik Dani malam ini tidak punya nama. Tidak punya kisah untuk diakui. Ia hanya tahu cara membaca luka, dan ia tahu salah satu dari mereka pasti akan retak lebih dulu daripada yang lain.
"Lain kali," kata Bayu, suaranya nyaris tak terdengar, "mungkin kita nggak akan kebangun tepat waktu."