Badai datang dua hari kemudian, dan tak seorang pun di asrama yang percaya itu badai biasa.
Langit sudah kelabu sejak pagi, tapi pukul tiga sore—bukan dini hari, sore—angin berubah. Cemara-cemara yang selama puluhan tahun berdiri tegak mengelilingi bukit mulai meliuk, bukan seperti pohon ditiup angin, melainkan seperti tubuh yang menggeliat. Bayu memperhatikannya dari jendela lantai dua, dan tengkuknya meremang: arah liukan pohon-pohon itu salah. Sebagian condong melawan angin, ke dalam, ke arah gedung, seakan merapat untuk merangkul.
Hujan turun seperti ditumpahkan. Petir menyambar bukit berkali-kali, dan pada sambaran ketiga, sebuah cemara raksasa di dekat gerbang tumbang—melintang sempurna menutup jalan keluar, akar-akarnya tercerabut dari tanah seperti tangan yang melepaskan pegangan. Lalu yang kedua, di tikungan jalan setapak. Lalu yang ketiga. Dalam satu jam, satu-satunya jalan turun dari bukit tertutup total oleh batang-batang pohon dan tanah longsor, seakan tangan raksasa menyeret penghalang ke tempatnya.
Pak Hartono mengumumkan, suaranya tetap halus tapi kali ini ada retak tipis di dalamnya, bahwa "bencana alam" telah memutus akses dan murid harus tetap di dalam demi keselamatan. Tapi Dani, yang berdiri di jendela menghitung pohon yang tumbang, menggumam, "Bukan angin yang menumbangkan itu. Lihat. Yang tumbang cuma yang menutup jalan. Pohon-pohon di sisi lain bukit utuh. Angin tidak memilih-milih begitu."
"Tempat ini mengunci dirinya," kata Bayu. "Pak Hartono mengunci gerbang dari dalam. Sekarang sesuatu yang lebih tua dari Pak Hartono mengunci bukit dari luar. Mereka tidak mau ada yang keluar. Mereka tidak mau ada yang masuk."
Mereka mencoba telepon. Mati, bukan dimatikan kali ini—tiang roboh tertimpa pohon. Sinyal ponsel butut Dani, yang sebelumnya cuma satu garis, kini hilang sama sekali. Mereka benar-benar terputus. Apakah Mbak Laras sempat menerbitkan apa pun sebelum bukit menutup diri, tak ada cara untuk tahu. Apakah dunia luar tahu mereka di sini, tak ada cara untuk tahu. Asrama Wirautama, di puncak bukitnya yang dikelilingi cemara, kembali menjadi apa yang selalu ia inginkan: terpisah dari sisa dunia, sendiri dengan rahasianya.
Malam itu hujan tak berhenti, dan di balik deru air, Bayu mendengarnya lagi—lebih jelas dari sebelumnya, karena keheningan luar telah dihapus, hanya menyisakan keheningan dalam. Pukul tiga lewat tanpa langkah seperti malam-malam terakhir. Tapi keheningan itu kini terasa penuh, padat, seperti ruangan yang sesak oleh orang-orang yang menahan napas. Tekanan apak menyusup lewat langit-langit, lebih berani, lebih dekat. Bukan menunggu lagi. Memilih.
Reza tidak bisa tidur. Ia duduk di tepi ranjang, menatap genangan air yang merembes dari kusen jendela. "Kalau Mbak Laras nggak sempat," katanya pelan, "berarti tinggal kita. Tiga anak, satu pengasuh yang menyesal, dan dua pengasuh putri kalau Bu Sari mau ikut. Lawan kepala asrama, lawan benda di atas, lawan seluruh bukit yang nggak mau kita pergi."
Dani, yang biasanya punya jawaban dingin untuk segalanya, kali ini hanya diam menatap hujan. Lalu, pelan: "Sena cuma satu orang. Dan dia mengubah segalanya. Mungkin yang penting bukan berapa banyak kita. Mungkin yang penting kita tidak diam."
Di luar, cemara-cemara yang tumbang membentuk pagar baru di sekeliling bukit, dan asrama duduk di tengahnya seperti jantung yang dijaga, menunggu malam-malam yang akan datang.