Penguncian membuat satu hal jelas: selama asrama tertutup, kebenaran tak akan pernah keluar. Dan tanpa kebenaran keluar, Pak Hartono akan terus menutupi, terus memberi makan, terus menghapus nama-nama anak dari sejarah seperti Asti dihapus dari foto. Mereka butuh dunia luar. Mereka butuh seseorang yang tak bisa diancam dengan drop-out.
Bu Marni yang menyebut namanya pertama kali. "Ada jurnalis," katanya, suara direndahkan, di ruang linen yang kini jadi markas rahasia mereka. "Mbak Laras. Sudah beberapa bulan dia mengirim surat, datang ke gerbang, bertanya soal statistik murid yang 'pindah' selama dua dekade. Angkanya janggal, katanya. Pak Hartono selalu mengusirnya. Tapi dia gigih. Kalau ada satu orang di luar yang sudah mencium sesuatu, itu dia."
Masalahnya tinggal satu, dan itu bukan masalah kecil: bagaimana menyampaikan bukti ke luar dari asrama yang dikunci rapat, dengan gerbang dijaga dan telepon dimatikan.
Mereka menyusun bukti dengan hati-hati. Foto-foto halaman buku PERSEMBAHAN baru yang Dani ambil. Salinan tulisan tangan dari buku lama, beberapa lembar yang Bu Marni robek dengan tangan gemetar—daftar nama dua dekade, tanggal, kata "selesai" yang dicoret. Dan yang paling memilukan: beberapa lembar salinan tulisan tangan yang anak-anak buat sendiri dari surat-surat yang mereka temukan tertembok bersama tubuh Asti—disalin kata demi kata supaya buktinya tak bergantung pada satu tumpukan kertas rapuh yang bisa lenyap. Suara seorang anak yang minta tolong selama bertahun-tahun, diabaikan. Reza membacanya sekali, lalu tak sanggup membaca lagi.
"Kalau dunia luar baca ini," kata Reza pelan, "mereka tidak akan bisa lagi pura-pura tidak tahu."
Rencananya sederhana dan berisiko. Reza, yang paling cepat dan paling pandai bicara, akan menyelinap ke pagar belakang dekat barisan cemara, tempat kawat lebih rendah, saat pergantian penjaga sore. Mbak Laras—lewat satu pesan yang berhasil Bu Marni titipkan pada tukang antar bahan dapur yang masih boleh keluar masuk—akan menunggu di balik pohon di jalan setapak bawah bukit. Reza akan melempar bungkusan bukti melewati pagar, lalu kembali sebelum penjaga baru tiba.
Mereka melakukannya saat senja, ketika cahaya jingga kelabu yang sama dengan hari Sena tiba menyelimuti bukit. Reza menyusup di antara cemara, jantung berdebar, bungkusan bukti dijepit di ketiak. Ia melihat sosok di bawah, di balik pohon—seorang perempuan dengan jaket dan tas selempang, mengangkat tangan. Mbak Laras. Reza mengayun, melempar. Bungkusan itu melengkung di udara senja—
Dan jatuh. Tepat di sisi luar pagar, di rerumputan. Mbak Laras berlari, meraihnya, mengacungkan ibu jari, lalu lenyap ke balik cemara. Berhasil. Reza menyelinap kembali, jantungnya bernyanyi.
Tapi malam itu, ketika mereka berkumpul lagi di ruang linen, Bu Marni datang dengan wajah pucat pasi. "Ada yang hilang," katanya. "Dari yang kita kumpulkan. Salinan surat-surat Asti—setengah lembar yang kita titipkan di sini sebagai cadangan. Sekarang lacinya kosong. Tidak dibongkar paksa. Tidak diacak. Cuma... raib. Seakan tidak pernah ada."
Mereka saling pandang. Dani memeriksa fotonya: beberapa foto halaman buku baru juga rusak, hitam, seperti terbakar dari dalam file. Bukti yang berhasil keluar, keluar. Tapi bukti yang tertinggal di dalam asrama—yang masih di bawah atap yang sama dengan yang tanpa nama—seakan ditelan. Seakan tempat itu sendiri melindungi rahasianya, mengubur apa pun yang bisa membongkarnya selama masih berada dalam jangkauannya.
"Tempat ini tidak mau dikenal," bisik Bayu, menatap dinding yang seolah mendengarkan. "Bukan cuma Pak Hartono. Gedungnya. Tanahnya. Yang di atas. Mereka semua tidak mau kebenaran keluar." Ia menelan ludah. "Berarti yang sudah berhasil lewat pagar tadi—itu satu-satunya kesempatan kita. Kalau Mbak Laras gagal, tidak akan ada lagi."