Mimpi itu datang pada ketiganya di malam yang sama, dan itulah yang membuat mereka takut—bukan isi mimpinya, melainkan kenyataan bahwa mimpi itu dibagi.
Bayu yang menyadari pertama. Ia terbangun pukul tiga lewat, basah keringat meski hujan membuat kamar dingin, dengan gambar yang masih tajam di kelopaknya: koridor lantai tiga, tapi salah. Memanjang tak berujung, lebih panjang dari yang mungkin muat dalam gedung mana pun, debu menumpuk seperti salju kelabu, dan di kejauhan yang tak pernah mendekat sebuah pintu—kamar ujung—menganga hitam. Dan dari pintu itu, sebuah suara memanggil. Tapi suara itu tidak pernah memanggil dengan suara. Ia memanggil dengan rasa. Setiap kali ia "memanggil", Bayu merasakan dirinya kecil, gagal, tak cukup, dan di antara perasaan-perasaan itu, ia mendengar—bukan dengan telinga—namanya sendiri. Lalu nama Reza. Lalu nama Dani. Bergantian. Sabar. Tak pernah berhenti.
Saat ia menceritakannya saat sarapan, Reza menjadi pucat. "Koridor memanjang," kata Reza pelan. "Debu kayak salju. Pintu di ujung yang nggak pernah deket. Dan suara yang manggil tapi nggak ada suaranya." Ia menelan ludah. "Bay, itu mimpiku. Persis. Sampai detailnya."
Dani meletakkan sendoknya. Ia tidak perlu bicara; wajahnya sudah berkata bahwa ia pun memimpikan hal yang sama.
"Kita bertiga," kata Bayu. "Mimpi yang sama. Malam yang sama."
Mereka membawanya pada Bu Marni di ruang linen, dan perempuan itu mendengarkan dengan tangan menutup mulut. "Asti," katanya akhirnya, "tidak pernah masuk ke mimpi. Dia memanggil dengan langkah, dengan suara, dari atas ke bawah. Lewat telinga. Kamu harus terjaga untuk mendengarnya. Dia menyerang lewat kuping." Ia menatap mereka bertiga. "Yang ini berbeda. Ia tidak butuh kalian terjaga. Ia tidak butuh suara. Ia masuk lewat tidur, lewat tempat di mana kalian paling tak terlindungi. Lewat rasa gagal yang kalian bawa bahkan tanpa sadar."
"Kenapa kami bertiga sekaligus?" tanya Reza.
Dani yang menjawab, pelan, dengan logika dingin yang membuatnya lebih menakutkan. "Karena kita bertiga sudah disentuh. Indah, Tari, Gilang—mereka dulu diisi, ada luka lama yang ditinggalkan, pintu masuk yang sudah ada. Tapi kita..." ia menatap Bayu. "Bayu dulu juga diisi. Setengah pulih. Pintunya masih ada di dia. Dan aku dan Reza—kita dulu calon. Nama kita di daftar lama. Mungkin sentuhan itu, cuma karena ada di daftar, cuma karena Asti pernah mempertimbangkan kita—itu sudah cukup membuka celah tipis. Yang tanpa nama memakai celah yang ditinggalkan Asti."
Malam berikutnya mereka mencoba tidak tidur. Mereka bergantian menjaga, mencubit satu sama lain, menyalakan lampu darurat. Tapi tubuh tak bisa dipaksa selamanya, dan satu per satu mereka tergelincir, dan mimpi itu menunggu di sisi lain kelopak yang sama. Koridor yang memanjang. Debu yang seperti salju. Pintu hitam yang tak pernah mendekat tapi entah bagaimana setiap malam terasa sedikit—hanya sedikit—lebih dekat. Dan suara tanpa suara yang memanggil nama mereka bergantian, mengikis, malam demi malam.
Bayu mulai mengerti bentuk serangan ini. Asti menarik tubuh ke tangga; kau bisa menahan tubuh, menariknya kembali, seperti Reza menarik Gilang. Tapi yang tanpa nama menarik dari dalam, di tempat yang tak bisa dipegang tangan siapa pun. Tak ada tangga untuk dijaga. Tak ada langkah untuk didengar. Hanya tidur, dan luka, dan kelaparan yang sabar.
"Kita nggak bisa jagain pintu," kata Bayu di pagi yang kelabu berikutnya, suaranya parau karena kurang tidur. "Pintunya ada di dalam kepala kita masing-masing. Dan ketiga-tiganya udah dibuka sedikit."