Bu Marni tahu tentang buku baru itu. Bayu menyadarinya dari cara perempuan itu memandang asisten Pak Hartono di lobi—tatapan yang penuh kengerian yang dikenali, seperti melihat hantu masa lalunya sendiri berjalan dengan tubuh yang lebih muda.
Bayu memutuskan untuk menemuinya. Bukan karena ia memaafkan Bu Marni—ia tidak, belum, mungkin tidak akan pernah sepenuhnya. Perempuan itu yang dulu menulis namanya di daftar. Yang dulu menggiringnya minum "vitamin". Yang dulu menyerahkannya pada kegelapan. Tapi Bu Marni juga satu-satunya orang dewasa di asrama ini yang isinya, sekarang, tampak terbelah oleh rasa bersalah. Dan dalam perang yang jumlahnya tiga lawan satu institusi, Bayu butuh sekutu, sekalipun sekutu yang tangannya berlumur.
Ia menemukannya di ruang penyimpanan linen, tempat Bu Marni belakangan sering bersembunyi dari pandangan Pak Hartono. Perempuan itu sedang duduk di antara tumpukan sprei, memegang sesuatu—dan Bayu melihatnya: buku PERSEMBAHAN yang lama. Yang asli. Yang dulu Sena temukan.
"Kamu yang menyimpannya," kata Bayu.
Bu Marni tidak terkejut. Ia mendongak dengan mata yang sembap. "Pak Hartono menyuruhku memusnahkannya bertahun lalu," katanya pelan. "Setelah anak itu—setelah Sena. Tapi aku tidak bisa. Setiap nama di sini..." jarinya bergerak di sampul, "...aku menuliskan banyak dari mereka dengan tanganku sendiri. Memusnahkan buku ini sama saja dengan bilang mereka tidak pernah ada. Aku sudah terlalu banyak berbuat itu pada anak-anak. Aku tidak sanggup berbuat itu pada kenangan mereka juga."
"Sekarang ada buku baru," kata Bayu. "Daftar baru. Asistennya Pak Hartono. Gilang sudah dicoret di sana. Indah dan Tari berikutnya. Lalu kami bertiga."
Bu Marni menutup mata. Untuk waktu yang lama ia tidak bicara, dan Bayu mengira ia akan, seperti dulu, berlindung di balik kalimat "ini demi keseimbangan". Kalimat yang dipakai dua puluh tiga tahun untuk membenarkan yang tak terbenarkan.
"Aku dulu percaya itu," kata Bu Marni akhirnya, suaranya nyaris tak terdengar. "Keseimbangan. Memberi sedikit supaya yang banyak selamat. Aku percaya itu sampai aku melihat wajahmu kembali, Bayu. Melihat kamu menangis di pagi itu. Melihat bahwa apa yang kuambil darimu—dari kalian semua—itu bukan 'bagian yang berisik'. Itu kalian. Itu seluruh diri kalian." Ia membuka mata, dan ada sesuatu di sana yang Bayu belum pernah lihat dari Bu Marni: keputusan. "Sena naik untuk membebaskan kalian dari sistem itu. Kalau aku kembali memberi makan sekarang, aku menjadikan pengorbanannya sia-sia. Aku menjadikan dua puluh tiga tahun kepura-puraanku abadi."
Ia berdiri, memeluk buku tua itu di dadanya seperti memeluk dosa yang akhirnya berani ia akui. "Pak Hartono dan asistennya percaya cara satu-satunya menahan yang tanpa nama adalah memberinya makan. Mereka salah. Pemberian makan tidak pernah menyembuhkan Asti—cuma menundanya, memperdalam laparnya. Yang ini akan sama. Beri makan, ia minta lebih. Selalu lebih. Sampai tidak ada anak tersisa." Suaranya mengeras. "Aku memilih kalian, Bayu. Aku memilih menebus. Bukan karena aku layak dimaafkan—aku tidak—tapi karena tidak ada satu pun anak lagi yang boleh kuserahkan ke atas sana. Tidak satu pun. Bahkan kalau itu artinya aku melawan Pak Hartono. Bahkan kalau itu artinya aku kehilangan tempat ini, pekerjaanku, semuanya."
Bayu menatap perempuan yang dulu paling ia takuti, dan merasakan sesuatu yang rumit dan tak nyaman: bukan maaf, belum, tapi awal dari aliansi yang dibangun di atas reruntuhan. "Kalau begitu," katanya, "Ibu harus bantu kami membongkar buku yang baru itu. Dan harus bantu kami cari cara menghentikan yang di atas—untuk selamanya. Bukan ditidurkan. Dihentikan."
Bu Marni mengangguk. Dan untuk pertama kalinya dalam dua dekade, ia berdiri di sisi anak-anak, bukan di antara mereka dan kegelapan sebagai penjaga gerbang, melainkan di depan mereka, sebagai perisai.