Dani yang menemukannya, dan ia berharap ia tidak pernah menemukannya.
Sejak penguncian, ketiganya jadi lebih nekat. Kalau toh mereka sudah terjebak, kalau toh diam tak menyelamatkan Gilang, maka satu-satunya yang masuk akal adalah mencari tahu lebih banyak. Dani, yang paling cermat, mulai mengamati pengasuh. Bukan Bu Marni—Bu Marni belakangan tampak hancur, sering menyendiri, tangannya gemetar saat menuang teh. Tapi yang lain. Yang masih percaya pada cara lama.
Ia menamai orang itu dalam hati sebagai pengasuh yang selalu terlalu tenang. Lelaki muda, asisten Pak Hartono, yang senyumnya terlatih persis seperti Bu Marni dulu di awal cerita. Dani memergokinya keluar dari ruang arsip lantai dasar pada jam yang ganjil, menyembunyikan sesuatu di balik map. Dan malam itu, ketika asrama tidur, Dani menyelinap ke meja kerja pengasuh itu—belajar dari kisah Sena, yang dulu menyusup ke kantor Bu Marni—dan menemukannya di laci paling bawah.
Sebuah buku catatan baru. Sampul kulit yang sama dengan yang lama, mungkin sengaja dipilih sama. Dan di halaman pertama, satu kata, ditulis dengan tinta segar, tangan yang berbeda dari tulisan-tulisan dua dekade itu, tapi maksudnya persis sama: PERSEMBAHAN.
Tangan Dani dingin. Buku PERSEMBAHAN yang lama, yang dulu ditemukan Sena, masih ada—mereka tahu itu, tersimpan entah di mana, bukti yang belum sempat mereka rebut. Tapi ini buku baru. Seseorang memulai daftar yang baru.
Dani membaca dengan napas tertahan. Di bawah judul itu, sebuah catatan, hampir seperti pembenaran yang ditulis seseorang untuk meyakinkan dirinya sendiri: Yang lama bisa dibujuk karena punya nama. Yang sekarang tidak. Maka yang sekarang harus diberi makan, lebih sering, lebih teratur, supaya tidak turun mencari sendiri. Ini bukan kejahatan. Ini pemeliharaan. Tanpa ini, semua anak dalam bahaya.
Lalu nama-nama. Daftar baru. Tiga teratas, dan Dani merasa lututnya melemah: Indah. Tari. Dan, dicoret dengan satu garis dingin yang sudah ditandai selesai—Gilang.
Gilang bukan hilang karena keluarga. Gilang adalah persembahan pertama dari daftar baru.
Di bawah ketiga nama itu, ada beberapa lagi. Nama-nama anak kosong lain yang sudah dilepas dan kini ditarik. Dan di paling bawah, baris yang membuat Dani harus menahan diri untuk tidak merobek buku itu dengan tangannya: tiga nama, dengan catatan kecil di sampingnya. Bayu Pratama, Reza Mahendra, Dani Saputra. Catatannya: terlalu banyak tahu. Bila perlu, percepat.
Mereka tidak lagi cuma saksi. Mereka kembali jadi calon.
Dani memotret halaman demi halaman dengan ponsel butut yang ia sembunyikan, lalu mengembalikan buku itu persis seperti semula, jantungnya memukul rusuknya. Ia kembali ke kamar dan membangunkan Reza dan Bayu, menunjukkan foto-foto itu dalam gelap, layar diredupkan.
Reza membaca, dan wajahnya yang biasa ceria mengeras jadi sesuatu yang asing. "Jadi ada orang di sini," katanya pelan, "yang melihat Gilang hilang, melihat anak diculik benda di atas itu, dan kesimpulannya adalah: ayo kita kasih makan lebih sering."
"Karena dia takut," kata Bayu. "Sama seperti pengasuh dua puluh tiga tahun lalu. Mereka percaya memberi makan adalah satu-satunya cara menahan yang tanpa nama. Mereka pikir mereka menyelamatkan yang lain."
"Mereka membunuh anak-anak untuk merasa aman," kata Dani datar.
Dan untuk pertama kalinya sejak Sena pergi, ketiganya menyadari bahwa horor yang harus mereka lawan bukan cuma yang gaib di atas. Yang gaib tidak punya pilihan; ia hanya lapar. Yang punya pilihan—dan memilih memberi makan—adalah manusia. Manusia yang takut. Manusia yang lebih sayang reputasi daripada anak orang. Itu musuh yang lebih sulit, karena ia berjalan di koridor yang sama dengan mereka, tersenyum di aula yang sama, dan punya kunci ke setiap pintu.