Berita hilangnya Gilang seharusnya menggemparkan. Anak hilang dari asrama, tengah malam, tanpa jejak—itu hal yang menggerakkan polisi, orang tua, wartawan. Tapi asrama Wirautama punya cara sendiri menelan berita, dan kali ini cara itu punya wajah baru: Pak Hartono.
Kepala asrama itu memanggil ketiganya ke kantornya pagi-pagi sekali, sebelum bel pertama. Ia duduk di balik meja besar dari kayu jati, kacamatanya berkilat, tangannya terlipat rapi. Tidak ada panik di wajahnya. Hanya perhitungan dingin. "Saya dengar kalian bertiga membuat keributan semalam," katanya. "Soal seorang murid bernama Gilang."
"Dia hilang," kata Reza, suaranya naik. "Dia naik ke lantai tiga dan—"
"Murid bernama Gilang," potong Pak Hartono tenang, "telah dijemput orang tuanya kemarin sore karena alasan keluarga. Surat pindahnya sudah diproses. Itu yang tercatat. Itu yang benar." Ia menatap mereka satu per satu, lama. "Saya tidak tahu cerita apa yang kalian dengar dari... pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab di asrama ini. Bu Marni, misalnya, akhir-akhir ini tampak tidak sehat. Tapi saya ingin sangat jelas. Asrama ini punya reputasi. Dua puluh delapan tahun tanpa satu pun catatan buruk. Sekolah unggulan tidak punya anak hilang. Kita punya anak pindah. Kita punya anak sakit. Mengerti?"
Dani membuka mulut, tapi Pak Hartono mengangkat satu jari, dan ada ancaman dingin di balik gerakan kecil itu. "Kalian bertiga," katanya, "punya catatan menarik. Sering keluar kamar tengah malam. Menyebar cerita-cerita yang membuat murid lain resah. Bu Sari melaporkan ada surat aneh masuk ke asrama putri." Ia menyandarkan punggung. "Saya bisa anggap kalian sebagai murid yang butuh perhatian khusus. Atau saya bisa anggap kalian sebagai pengganggu ketertiban yang sebaiknya dikeluarkan demi nama baik almamater. Pilihan ada di mulut kalian. Tetap diam, kalian aman. Bicara, dan saya jamin tidak ada yang di luar sana akan percaya tiga anak yang catatannya bermasalah."
Di luar kantor, Bayu hampir muntah karena marah. "Dia tahu," desisnya. "Dia tahu Gilang naik. Dia tahu soal lantai tiga. Dan dia memilih menutupinya. Sama seperti dua puluh tiga tahun lalu."
Lebih buruk datang siang itu. Pengumuman lewat pengeras suara, suara Pak Hartono yang halus: demi keamanan setelah "insiden kebocoran gas" di sayap utara, asrama akan menerapkan karantina sementara. Tidak ada kunjungan keluar. Tidak ada tamu masuk. Telepon umum dimatikan untuk "perbaikan". Gerbang dijaga lebih ketat. Semua demi keselamatan murid, katanya, dengan nada yang sama yang dipakai untuk mengumumkan jadwal ujian.
Reza menatap Bayu dan Dani di koridor, dan mereka semua membaca arti yang sama di mata satu sama lain. Ini bukan karantina. Ini penguncian. Asrama menutup pintunya ke dunia luar, memutus tali ke siapa pun yang bisa menolong, tepat saat sesuatu di lantai tiga mulai lapar lagi. Mereka terjebak di dalam, bersama yang tanpa nama, bersama kepala asrama yang lebih takut pada berita buruk daripada pada anak-anak yang hilang.
"Dia mengulang sejarah," bisik Dani, menatap ke arah jendela tinggi tempat barisan cemara berdiri rapat seperti dinding. "Dulu mereka mengunci pintu lantai tiga. Sekarang dia mengunci seluruh asrama. Logikanya sama. Sembunyikan masalahnya supaya tak ada yang melihat. Beri makan diam-diam. Jaga citra."
Bayu menatap ke atas, ke arah lantai tiga, dan merasakan tekanan apak itu menyusup tipis lewat langit-langit, sabar, menunggu malam berikutnya. Mereka sendirian sekarang. Dan asrama baru saja mengunci mereka di dalam bersama hal yang ingin mereka lawan.