Bayu bertahan terjaga sampai pukul dua. Ia duduk di lantai, bersandar di pintu kamar, mata terpaku pada ranjang Gilang yang dadanya naik turun dalam tidur gelisah. Reza berjaga di koridor luar. Dani mengawasi ujung yang lain. Mereka sudah memblokir tangga jeruji dengan kursi, dengan sapu, dengan apa pun yang bisa berbunyi kalau bergeser—bukan untuk menghentikan, tapi untuk memperingatkan.
Tapi tubuh manusia punya batasnya. Bayu sudah tidak tidur benar selama tiga malam. Matanya terasa berpasir. Dan entah pada menit ke berapa, dalam keheningan yang tebal itu, kelopaknya turun. Hanya sebentar. Hanya, ia akan bersumpah kemudian, beberapa detik.
Saat ia tersentak bangun, ranjang Gilang kosong.
"Gilang—" Bayu melompat berdiri, jantungnya meledak. Jam di dinding: 02.54. Ia menghambur ke koridor. "Reza! Gilang nggak ada!"
Mereka bertiga berlari ke arah tangga jeruji. Kursi yang mereka pasang tergeser rapi ke samping—bukan dijatuhkan, disingkirkan, pelan, oleh tangan yang berjalan dalam panggilan. Pintu jeruji yang menutup sendiri di malam kesalahan Bayu kini terbuka lagi, dan di anak tangga ketiga dari bawah, Gilang berdiri. Memunggungi mereka. Wajahnya menengadah ke atas, ke kegelapan lantai tiga.
"Gilang, jangan!" Reza meraih lengannya.
Tapi Gilang tidak seperti Bayu dulu. Bayu, saat ditarik, masih punya tubuh yang bisa ditahan. Gilang—Reza menariknya, dan untuk sesaat tubuh itu mengikuti, lalu berhenti, seperti tertambat pada sesuatu di atas yang lebih kuat dari tangan Reza. "Buat apa turun," kata Gilang, datar, tanpa menoleh. "Di bawah aku cuma anak yang nggak pernah cukup. Di atas nggak ada yang nuntut apa-apa."
"Itu bukan kamu yang ngomong!" teriak Bayu. "Itu dia! Dia masuk lewat capekmu! Lewat rasa nggak cukupmu! Lawan, Gilang, tolong—"
Pukul tiga.
Dan pada detik itu, lampu koridor padam—seluruhnya, lantai dua tenggelam dalam gelap—dan tekanan itu turun dari tangga seperti air bah dingin tanpa suara. Bukan langkah. Bukan panggilan. Hanya rasa, menghantam mereka bertiga sekaligus: kau gagal, kau lelah, lepaskan saja. Reza terhuyung, cengkeramannya melonggar. Dani jatuh berlutut, kedua tangan menutup telinga yang sebenarnya tak mendengar apa-apa. Dan dalam gelap itu, Bayu merasakan tangan Gilang terlepas dari genggaman Reza, dan langkah kaki Gilang—satu, dua, tiga—menaiki tangga ke atas, ke dalam kegelapan, ringan, hampir lega.
"GILANG!"
Bayu bangkit, hendak mengejar. Reza menahannya sekuat tenaga, menariknya mundur, menjepitnya di lantai. "Jangan! Kalau kamu naik kamu nggak balik! Bay! BAY!"
Tekanan itu menarik dan menarik, dan untuk satu detik yang panjang dan mengerikan, ketiganya tergeletak di koridor gelap, melawan keinginan untuk menyerah yang bukan keinginan mereka sendiri, mendengar langkah Gilang lenyap di puncak tangga. Lalu—seperti keran yang ditutup—tekanan itu hilang. Lampu menyala kembali. Pukul tiga lewat.
Mereka mencari sampai pagi. Mereka memberi tahu Bu Marni, yang wajahnya kehilangan semua warna. Mereka memeriksa lantai tiga dalam terang, setiap kamar, kamar ujung, bahkan dinding-dinding. Tidak ada Gilang. Tidak ada tubuh yang turun kosong, tidak ada cangkang, tidak ada cekungan di debu. Tidak ada apa-apa. Gilang hanya lenyap, seutuhnya, dan tidak kembali.
Bayu duduk di anak tangga teratas dengan tangan gemetar, dan untuk pertama kalinya ia benar-benar mengerti taruhannya. Sena memilih naik. Asti memilih melepaskan. Tapi yang tanpa nama ini tidak menawar, tidak melepaskan, tidak meninggalkan jejak untuk dikenang. Yang mati tetap mati. Dan yang diambil yang ini—diambil tanpa sisa.