Bayu menceritakan semuanya pagi itu, dengan suara yang masih bergetar, dan Reza memarahinya persis seperti yang ia duga. "Kamu naik sendirian? Setelah semua yang kita tahu? Bay, kamu bisa—" Reza tak menyelesaikan kalimatnya, karena mereka semua tahu apa ujung kalimat itu. Bisa tidak turun lagi. Bisa jadi cekungan ketiga di debu.
Dani yang menengahi, seperti biasa, dengan ketenangan dingin yang ia pakai sebagai perisai. "Yang penting sekarang kita tahu satu hal yang sebelumnya cuma dugaan," katanya. "Itu bukan Asti. Asti sudah pergi bersama Sena. Yang di atas sekarang sesuatu yang lain, dan menurut Bayu, sesuatu yang tidak punya nama. Tidak bisa diajak bicara. Tidak bisa dibujuk." Ia menatap dua temannya. "Berarti rumus Sena tidak berlaku. Kita tidak bisa menidurkannya dengan menemani."
Tapi masalah yang lebih mendesak datang sebelum mereka sempat memikirkan apa yang bisa mereka lakukan. Datang dalam wujud tiga anak.
Indah adalah yang pertama mereka sadari. Gadis kelas dua dari asrama putri, salah satu dari sekian banyak penyintas "kosong" yang ikut dilepas saat Sena naik. Selama berbulan-bulan ia pulih perlahan, mulai tertawa lagi, mulai mengeluh soal pelajaran seperti remaja normal. Tapi pagi itu, di aula sarapan, Reza melihatnya duduk diam menatap nasinya yang tak tersentuh, sendok di tangan tapi tak bergerak. Persis. Persis seperti Bayu dulu.
"Indah?" Reza mendekat. Anak itu menoleh perlahan, dan ada kabut tipis di matanya, tirai yang mulai turun lagi. "Aku capek," kata Indah pelan, dengan suara datar yang jauh. "Semalam aku mimpi ada koridor panjang. Dan ada yang manggil. Tapi waktu aku bangun, aku nggak inget siapa yang manggil. Cuma inget rasanya. Rasanya kayak... aku ngecewain semua orang."
Gilang yang kedua. Anak laki-laki pendiam dari kelas satu, dulu juga kosong, kini juga mulai redup lagi. Ia berhenti datang ke latihan futsal yang dulu ia cintai. Saat Dani menanyakannya, Gilang hanya berkata, "Buat apa. Aku nggak pernah cukup bagus." Kalimat itu membuat tengkuk Dani dingin, karena itu bukan kalimat Gilang. Itu kalimat yang ditanam.
Tari yang ketiga. Dan begitu mereka menyadari pola itu—tiga anak yang sudah dilepas, kini ditarik lagi—Bayu merasakan perutnya melilit. "Ini cara yang berbeda," katanya. "Asti memanggil nama. Yang ini tidak. Yang ini masuk lewat rasa gagal mereka. Lewat luka yang ditinggalkan waktu mereka dulu diisi. Pintunya sama—lantai tiga, pukul tiga—tapi caranya beda. Ia tidak mengundang. Ia menggerogoti dari dalam."
Reza mengepalkan tangan. "Berarti kita harus jaga mereka. Bertiga. Indah, Gilang, Tari. Jangan sampai ada yang naik pukul tiga."
"Kita cuma tiga orang," kata Dani pelan. "Dan mereka tersebar di dua asrama. Putra dan putri. Kita tidak bisa di mana-mana sekaligus."
Malam itu mereka membagi tugas. Bayu menjaga Gilang yang sekamar dengannya di sayap timur. Reza dan Dani bergantian terjaga, mengawasi koridor. Untuk Indah dan Tari di asrama putri, mereka tak punya kuasa apa pun—hanya bisa berpesan pada satu-satunya orang dewasa yang mungkin mau mendengar: Bu Sari, pengasuh putri, lewat secarik kertas yang Bayu titipkan diam-diam. Jaga dua anak itu malam ini. Jangan biarkan mereka mendekati tangga. Tolong.
Mereka tidak tahu apakah Bu Sari akan percaya. Mereka tidak tahu apakah pesan itu sampai. Tapi pukul tiga akan datang entah mereka siap atau tidak, dan untuk pertama kalinya sejak Sena pergi, asrama Wirautama menahan napas lagi, menunggu langkah yang seharusnya tak pernah kembali.