Bayu tidak memberi tahu Reza maupun Dani ke mana ia pergi malam itu. Ia menunggu sampai napas keduanya teratur, lalu turun dari ranjang dengan kaki telanjang, membawa senter kecil yang ia sembunyikan di bawah bantal sejak seminggu lalu. Pintu jeruji lantai tiga yang dulu menganga sejak pagi itu masih terbuka, persis seperti yang ditinggalkan. Tapi sekarang ada sesuatu yang berbeda di balik keterbukaannya, dan Bayu merasakannya di tengkuk sebelum ia bisa menamainya.
Ia tahu ia bodoh. Reza pasti akan memarahinya. Tapi ia juga tahu satu hal yang tak diketahui kedua temannya: ia pernah berada di dalam, di tempat yang gelap itu, saat isinya diambil. Ia ingat rasanya samar, seperti mengingat mimpi yang dialami orang lain. Dan sejak beberapa malam terakhir, sejak derik tunggal itu kembali di pukul tiga, ia merasakan sesuatu yang baru di lantai tiga. Sesuatu yang bukan Asti. Sesuatu yang tidak punya bentuk, tidak punya wajah, tidak punya kepang dua.
"Aku cuma mau menidurkannya," gumam Bayu pada dirinya sendiri, menaiki tangga. "Seperti Sena menidurkan Asti."
Itulah kesalahannya. Ia membawa sebuah nama yang ia tulis di kertas—nama salah satu anak yang dulu jadi persembahan, nama yang ia harap bisa menjadi jangkar, menjadi pengakuan. Ia percaya rumus yang sama berlaku: sebut namanya, akui lukanya, temani, lepaskan. Ia percaya semua hantu pada dasarnya kesepian yang ingin didengar.
Di puncak tangga, lantai tiga membentang berdebu dan dingin. Senter Bayu menyapu koridor. Kamar-kamar kosong. Tirai yang dulu tersibak kini—ia tertegun—setengah tertutup lagi, seakan ada yang menariknya pelan dari dalam. Udara terasa berat, seperti sebelum hujan, tapi tanpa bau bunga busuk yang dulu menyertai Asti. Ini bau lain. Bau apak yang dalam, bau ruang yang tak pernah punya jendela.
"Halo," kata Bayu, dan suaranya terdengar kecil. "Aku tahu kamu di sini. Aku tahu kamu... salah satu dari kami dulu. Atau sisa dari kami." Ia menelan ludah, lalu membaca nama di kertasnya, lantang. "Namamu—"
Lampu senternya padam.
Tidak berkedip. Padam, sekaligus, seperti tangan yang menutup mulut. Dan dalam gelap yang langsung pekat itu, Bayu merasakannya datang. Bukan langkah. Bukan suara. Sebuah tekanan, dari segala arah, seperti seluruh lantai itu menahan napas dan condong ke arahnya. Dan di kepalanya—bukan di telinganya, di dalam kepalanya—ia mendengar bukan kata, melainkan rasa. Rasa gagal. Rasa tak cukup. Rasa bahwa ia, Bayu Pratama, anak yang dulu kosong dan baru setengah pulih, tidak akan pernah benar-benar utuh, dan tidak ada gunanya melawan, dan jauh lebih mudah—jauh lebih damai—untuk menyerahkan saja sisa dirinya yang sedikit itu.
Kakinya melangkah maju tanpa ia perintahkan. Satu langkah. Dua. Menuju kamar paling ujung, kamar Asti, yang pintunya kini menganga seperti mulut.
"Tidak," kata Bayu, tapi mulutnya hampir tak mau bergerak. Ia mencengkeram daun pintu di sebelahnya, kayu lapuk yang dingin, menahan dirinya. Nama di kertas itu tak berguna. Tekanan ini tidak menjawab nama. Tidak ada kesepian yang bisa ia akui, tidak ada kisah yang bisa ia dengarkan. Tidak ada apa pun di dalamnya untuk didengar. Hanya lapar. Lapar tanpa wajah, tanpa cerita, tanpa orang yang dulu ditinggalkan. Hanya kekosongan yang ingin lebih banyak kekosongan.
Bayu mengerti, terlambat dan dengan ngeri, kenapa Sena bisa menidurkan Asti tapi ini—ini tidak bisa ditidurkan. Asti punya nama. Punya luka. Punya seseorang yang dulu ia jadi. Yang ini tidak. Yang ini lahir dari sisa-sisa, dari pecahan isi anak-anak yang tak pernah utuh kembali, mengendap selama dua dekade jadi sesuatu yang tanpa nama. Dan kau tidak bisa menemani sesuatu yang tak pernah jadi seseorang.
Ia membalik badan dan lari. Tangga memanjang di bawah kakinya, lebih panjang dari saat ia naik, anak tangga yang seakan beranak. Tekanan mengejar di punggungnya, rasa gagal itu menggigit, membisikkan bahwa percuma, bahwa ia akan jatuh, bahwa ranjangnya tak pernah seempuk lantai dingin di atas sini. Bayu menggigit lidahnya sampai berdarah, memakai rasa sakit yang nyata sebagai jangkar, dan terus turun. Sampai ia menghantam pintu jeruji, menyeret tubuhnya keluar, dan menjatuhkan diri ke koridor lantai dua, terengah, gemetar, hidup.
Di atasnya, pintu jeruji berderik. Lalu, pelan, dengan sendirinya, mulai menutup.