Bayu menceritakan semuanya pada Reza dan Dani di balik tumpukan ranjang gudang, satu-satunya tempat tanpa kamera dan tanpa telinga pengasuh. Ia menceritakan dinding yang bernapas, jejak seretan di debu, dan suara yang bukan suara—perasaan gagal yang dipompakan langsung ke dadanya.
"Kita salah memahaminya dari awal," kata Bayu. Tangannya masih gemetar walau sudah dua hari berlalu. "Asti dan benda ini beda total. Asti adalah seorang gadis. Dia ditinggalkan, diforsir, dan dia jadi hantu karena luka yang spesifik, yang punya kisah. Karena itu Sena bisa menidurkannya. Sena menyebut namanya, mengakui ketidakadilannya, menemaninya. Asti butuh didengar."
"Dan yang ini?" tanya Reza, suaranya nyaris berbisik.
"Yang ini nggak punya kisah." Dani yang menjawab, dan ketenangannya membuat kata-katanya lebih dingin. "Pikirkan, Za. Asti menarik isi dari puluhan anak selama dua puluh tiga tahun. Bagian-bagian dari mereka—kesepian mereka, tekanan mereka, ketakutan mereka, rasa nggak pernah cukup mereka. Asti menyimpannya. Tapi Asti pergi bareng Sena. Dia melepas anak-anak, mengembalikan isi yang masih bisa dikembalikan. Tapi sisa yang udah terlalu lama dia simpan, yang udah tercerai dari pemiliknya—pecahan yang nggak bisa pulang ke siapa-siapa—itu tertinggal. Dan semua pecahan itu, dari puluhan anak yang berbeda, mengendap jadi satu. Tanpa wajah. Tanpa nama. Cuma..." Ia berhenti. "Cuma kelaparan yang dipelajari dari semua anak sekaligus. Kelaparan untuk berhenti merasa gagal."
Bayu mengangguk perlahan. "Karena itu dia berbahaya dengan cara yang beda. Asti memanggil dari luar—dengan suara, dengan langkah, dengan namamu. Kamu bisa menutup telinga, kamu bisa melawan dari dalam. Tapi yang ini..." Ia menelan ludah. "Yang ini nggak memanggil lewat telinga. Dia memanggil lewat luka di dalam kamu. Lewat rasa nggak pernah cukup. Setiap anak di sini yang pernah dipaksa jadi yang terbaik, yang pernah merasa gagal—dia punya pintu masuk ke anak itu. Dan di asrama yang menempelkan peringkat di aula, yang bilang 'kamu bisa lebih' tiap hari, semua orang punya pintu itu. Termasuk kita."
Mereka terdiam. Di luar gudang, lonceng makan malam berbunyi, dan suara ratusan langkah murid bergema di koridor—murid-murid normal, yang tidak tahu, yang akan duduk makan dalam keheningan sopan yang dulu Sena anggap aneh di hari pertamanya. Bayu memikirkan mereka semua. Pintu di dalam masing-masing.
"Jadi kita nggak bisa menemaninya," kata Reza akhirnya, dan kalimat itu terasa seperti vonis. "Cara Sena nggak bakal jalan."
"Nggak," kata Bayu. "Kalau kita coba menemaninya seperti Sena menemani Asti—kita cuma kasih dia pintu. Kita kasih dia satu dari kita untuk dipinjam suaranya. Dia butuh suara, Za. Dia tanpa nama, tanpa wajah, tapi kalau dia bisa meminjam suara salah satu dari kita, dia bisa mulai memanggil yang lain. Persis kayak Asti dulu—tapi tanpa ada yang bisa dibujuk turun, karena nggak ada 'siapa-siapa' di dalamnya untuk dibujuk."
Dani menatap lantai gudang, alisnya berkerut dalam, otaknya yang analitis berputar mencari celah. "Berarti kita harus cari cara lain. Bukan menemani. Bukan mengakui. Sesuatu yang... membongkar. Kalau dia terbentuk dari sisa yang nggak punya kisah, mungkin satu-satunya cara mengalahkannya adalah mengembalikan kisahnya. Mengembalikan nama-nama yang bikin dia. Tapi—" Ia berhenti, dan untuk pertama kalinya Bayu melihat Dani benar-benar takut. "Tapi aku belum tahu caranya. Dan dia udah mulai bangun."
Malam itu, ketiganya tidur di kamar 207 dengan lampu darurat menyala—aturan dilanggar, mereka tak peduli. Dan pada pukul tiga, tak ada langkah kaki. Tak ada panggilan nama. Hanya, dari atas, melalui langit-langit, sebuah tekanan yang turun perlahan dan menempel di dada mereka bertiga sekaligus—berat, dingin, dan tanpa kata. Sesuatu yang tanpa nama telah bangun di balik dinding lantai tiga, dan untuk pertama kalinya, ia memperhatikan ketiganya bukan satu per satu, melainkan semua sekaligus, seperti seorang yang lapar memandang meja yang penuh.