Perjalanan pulang dari rumah Pak Broto terasa lebih panjang daripada saat berangkat. Ketiganya diam di angkutan, masing-masing mengunyah kata-kata orang tua itu sampai pahit. Janji yang mengikat tanah. Harga yang diwariskan. Tanah yang akan mencari mulut baru.
Malam itu, di kamar 207, mereka mengeluarkan buku bersampul kulit dari balik papan lantai dan membukanya bukan pada daftar nama, melainkan pada halaman-halaman awal yang selama ini mereka lewati. Halaman-halaman yang lebih tua, tintanya lebih pudar, tulisan tangannya berbeda-beda dari pengasuh yang sudah lama mati. Dan di antara catatan rapat dan jadwal dan inventaris, Dani—yang membaca paling teliti—menemukan sesuatu di sela-sela halaman yang lengket karena usia.
Sebuah lembar terpisah, dilipat empat, hampir menyatu dengan jilidan. Saat dibuka, isinya membuat ketiganya terdiam. Itu bukan daftar nama. Itu semacam ikrar, ditulis dengan tinta yang dulu mungkin hitam tapi kini cokelat tua, dengan bahasa yang kaku dan resmi, seperti naskah lama. Bahwa demi keluhuran lembaga ini, agar tak pernah surut dari puncak, agar setiap angkatan melampaui yang sebelumnya, kami yang menjaga tempat ini bersedia memberikan yang terbaik dari kami kepada tempat ini—dan menerima bahwa yang terbaik kadang harus tertinggal di sini.
Di bawahnya, tanda tangan. Banyak. Bertingkat-tingkat, dari atas ke bawah, generasi demi generasi kepala asrama dan pengasuh kepala, masing-masing menambahkan namanya seperti memperbarui sumpah. Nama Pak Broto ada di tengah. Dan di antara nama-nama paling bawah, baru, tinta yang lebih segar—Bayu menahan napas—ada nama Bu Marni.
"Mereka menandatanganinya," bisik Reza. "Satu per satu. Tiap generasi memperbarui janji ini. Bukan cuma kasih makan Asti. Mereka memperbarui... kontraknya."
"Inilah yang dimaksud Pak Broto," kata Dani pelan, jarinya menelusuri tanda tangan-tanda tangan itu. "Asti cuma korban yang paling kelihatan. Tapi yang membuat tanah ini lapar adalah ini. Janji manusia. Keserakahan yang ditulis dan ditandatangani dan diwariskan, supaya tempat ini selalu jadi yang terbaik dengan harga anak-anak. Kita membebaskan Asti, tapi mesinnya masih hidup. Mesinnya ada di sini, di kertas ini, di tanda tangan ini."
Bayu menatap nama Bu Marni. Ia ingat perempuan itu menjatuhkan cangkir teh, gemetar, mengaku takut. Bukan kepura-puraan. Bu Marni sudah terlalu lama menjadi bagian dari mesin, tapi malam Sena naik telah mematahkan sesuatu di dalamnya. Mungkin—Bayu menyimpan pikiran ini hati-hati—mungkin ada satu tangan dewasa yang bisa membantu mereka memutus janji ini. Tapi memutus janji yang ditandatangani puluhan generasi bukan sekadar merobek selembar kertas. Ia tahu itu. Pak Broto sudah memperingatkan: selama janji itu ada, tanah akan mencari mulut baru.
Dan di atas mereka, di lantai tiga, di balik pintu jeruji yang tertutup sendiri beberapa malam lalu, sesuatu yang tanpa nama dan tanpa kisah sedang mencari, dengan sabar, suara yang bisa dipinjamnya. Bukan untuk memanggil seperti Asti. Melainkan untuk melanjutkan janji yang belum seorang pun berani batalkan.