Mereka memutuskan untuk mencari satu orang yang mungkin tahu apa yang sebenarnya ada di balik dinding tempat ini sejak awal: Pak Broto, kepala asrama lama, pendiri yang dulu memerintahkan penguncian lantai tiga. Pak Wiyono, petugas perpustakaan tua yang sakit-sakitan, memberi mereka alamatnya dengan tangan gemetar. "Dia sudah sangat tua," kata Pak Wiyono. "Dan dia tidak akan senang melihat kalian. Tapi dia satu-satunya yang masih hidup yang ada di sini sebelum Asti. Sebelum semuanya."
Mereka pergi pada hari Minggu, saat murid diizinkan keluar bukit dalam rombongan kecil. Bayu, Reza, dan Dani memisahkan diri, naik angkutan ke pinggir kota, ke sebuah rumah tua dengan halaman yang ditumbuhi rumput liar. Seorang perawat membukakan pintu, menatap tiga remaja berseragam dengan curiga, lalu mengizinkan mereka masuk setelah Bayu menyebut nama Wirautama. Nama itu membuat perawat itu mengernyit, seolah menyebut nama penyakit.
Pak Broto duduk di kursi roda dekat jendela, tubuhnya menyusut oleh usia, kulitnya seperti kertas tua. Tapi matanya, saat menoleh ke arah mereka, tajam dan waspada. "Wirautama," katanya, sebelum mereka sempat bicara. Suaranya parau. "Sudah lama tidak ada yang datang dari atas bukit itu. Berarti sesuatu pecah lagi."
"Pak," kata Bayu, "kami perlu tahu tentang lantai tiga. Tentang Asti. Tentang—"
"Asti." Pak Broto menutup mata, dan untuk sesaat wajahnya berkerut seperti orang yang ditampar oleh nama itu. "Anak malang. Aku yang menyuruh Wiyono mengunci pintu itu. Kalian pasti sudah tahu. Tapi kalian tidak tahu yang sebenarnya kalian datang untuk tanyakan. Kalian pikir ini soal satu gadis yang mati. Bukan." Ia membuka mata, dan ada ketakutan tua di sana, ketakutan yang telah ia bawa puluhan tahun. "Asti bukan yang pertama."
Ruangan terasa dingin meski matahari masuk lewat jendela. Reza menggenggam lengan kursi.
"Saat aku jadi kepala asrama," lanjut Pak Broto, "tempat itu sudah punya... kebiasaan. Tradisi gelap yang diwariskan dari kepala sebelumku, dan kepala sebelum dia. Lantai tiga selalu lapar. Selalu memilih yang terbaik. Aku kira aku bisa mengendalikannya, mengaturnya, membuatnya rapi. Aku salah. Asti hanya yang paling menonjol karena ia paling pintar, paling diforsir, dan karena ia—" Suaranya tersendat. "Karena ia bertahan paling lama dan memanggil paling keras. Tapi sebelum Asti ada yang lain. Lebih dulu. Lebih senyap. Dan apa yang membuat tempat itu lapar bukan Asti, bukan siapa pun anak tertentu. Itu sudah ada di tanahnya. Di fondasinya."
"Apa maksud Bapak?" tanya Dani, suaranya tegang.
Pak Broto menatap keluar jendela, jauh, ke arah bukit yang tak terlihat dari sini tapi yang selalu ada di kepalanya. "Saat asrama itu dibangun," katanya pelan, "ada sebuah janji yang dibuat. Sebelum batu pertama diletakkan. Sebuah kesepakatan agar tempat itu selalu menghasilkan yang terbaik, agar namanya selalu harum, agar tak pernah gagal. Dan setiap janji, Nak, punya harga. Aku mewarisi harga itu. Aku membayarnya dengan anak-anak, sama seperti pendahuluku, sama seperti yang membuatku takut sampai mati." Ia menatap mereka. "Kalian membebaskan Asti. Bagus. Tapi kalian belum memutus janjinya. Dan selama janji itu masih ada, tanah itu akan mencari mulut yang baru."